Dia yang Tak Bisa Kuraih

Sasha Q
Chapter #5

Bab 4

Gwen's POV


Besok hari pernikahan kita, Sayang.

Aku membaca pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Tak kusangka sebentar lagi aku akan menjadi istri orang. Aku langsung membalas pesannya sambil berpikir betapa cepatnya waktu berjalan. Kini usiaku hampir kepala tiga. Perasaan kemarin aku baru saja jadian dengan Adnan di tempat ini, di bangku yang sama seperti yang kududuki saat ini. Sejujurnya, aku belum bisa melupakan dia. Adnan. Aku masih mencintainya. Entah mengapa semua bisa jadi seperti ini. Sulit memang untuk mengetahui ke mana dunia akan membawamu.

Setelah kejadian itu aku pergi jauh-jauh dari sini. Aku bahkan tidak menyelesaikan kuliahku. Aku pergi ke Inggris bersama orangtuaku untuk memulai awal baru. Dan, aku bertemu Sam. Samuel adalah calon suamiku. Dia sepuluh tahun lebih tua dariku. Orangnya tampan, berwibawa, dan yang pasti kaya raya. Tapi, aku menilai dari kepribadiannya. Dia baik, gampang tersenyum, dan senang dengan anak kecil. Itu saja sudah cukup untukku. Sam adalah tempat ternyamanku. Dia membuatku kembali mencintai diri sendiri. Dia bahkan membuatku menyukai warna hijau. “Kau terlalu cantik untuk dikalahkan dengan warna hijau,” katanya setelah membelikanku cincin zamrud hijau yang berkilau.

Awalnya aku takut dia akan menjauhiku kalau tahu aku masih mencintai Adnan. Tapi, ternyata dia tidak seperti dugaanku. Dia tetap menerimaku disaat aku masih memiliki perasaan pada Adnan. Dia bahkan mengajakku keliling dunia untuk membantuku agar bisa melupakan segala hal buruk. Namun, jauh-jauh aku pergi, aku tetap kembali ke sini.

Dari Adnan aku belajar banyak hal. Aku belajar bahwa tidak semua hal tentang diriku. Terkadang kau harus melihat ke kiri dan kanan untuk memperhatikan keadaan di sekitar, untuk tahu bahwa kau tidak selalu benar, bahwa apa yang kau percayai bisa jadi salah. Selalu ada ruang untuk memperbaiki diri. Selalu ada ruang untuk mencintai.

Adnan sebenarnya tidak dingin. Dia hanya menyimpan kehangatannya untuk orang yang tepat. Dia murah tersenyum dan sangat peduli pada sekitar. Di mataku dia seperti pahlawan super. Kekuatannya adalah memperhatikan hal-hal kecil yang tak diperhatikan oleh orang lain. Dia punya mata jeli yang penuh empati.

Suatu saat aku baru saja keluar dari gedung fakultasku, membawa gulungan kanvas yang hampir sebesar tubuhku. Matahari sore menusuk punggungku, dan aku mendesah panjang sambil berjalan ke arah parkiran. Tapi, sesampainya di sana, aku melihat sesuatu yang aneh—Adnan.

Dia sedang jongkok di antara deretan motor, memindahkan satu demi satu kendaraan seperti pemain Tetris yang penuh konsentrasi. “Ayo, Pak, tinggal sedikit lagi, geser ke sini biar ada ruang!” serunya ceria pada Pak Satpam yang berdiri kikuk di sampingnya.

Aku berdiri terpaku, memandang dari jauh. Adnan tidak perlu melakukan itu. Tidak ada yang memintanya. Tapi di wajahnya, aku melihat kegembiraan yang aneh, seolah membantu merapikan motor adalah hobi favoritnya.

“Ayo, Ndan, hati-hati ban belakangnya nyangkut!” kata Pak Satpam, tertawa sambil mengusap keringat.

Adnan hanya mengangguk sambil tersenyum lebar, rambut keritingnya sedikit basah oleh keringat. Aku tidak tahu apa yang membuatnya rela melakukan ini untuk orang asing, tapi aku tidak bisa berhenti menatap. Aku bahkan tidak sadar bahwa aku sudah tersenyum kecil.

Aku menghampirinya. “Adnan….”

“Hei, Gwen!” Dia terlihat kaget, tapi kemudian langsung tersenyum. ”Tunggu sebentar ya, habis ini giliran mobilmu aku geser!” katanya sambil tertawa. Pak Satpam itu juga sepertinya senang mendengar candaan Adnan.

Aku hanya menggeleng, masih tidak percaya, sambil menyembunyikan tawa di balik gulungan kanvasku.

Di lain waktu, saat kami selesai makan berdua di sebuah warung mie ayam kecil, aku kembali dari toilet dengan langkah santai, menghapus sisa air di tanganku dengan menggerakkannya ke udara. Saat kembali, meja kami kosong melompong. Adnan tidak di kursinya.

Keningku mengernyit. Ke mana dia? Sekilas aku menoleh ke arah parkiran, memastikan dia tidak pergi tanpa bilang. Tapi motor bututnya masih terparkir di sana.

Lihat selengkapnya