Adnan’s POV
Gwen meremas tangannya sendiri setelah membaca pesan dari calon suaminya. Aku tak bisa berbohong kalau aku sangat cemburu. Gwen bukan lagi milikku. Tapi, apakah boleh aku bersikap egois? Apakah pantas bagiku untuk terus-terusan seperti ini? Pada akhirnya dia akan menjadi istri orang lain. Dia akan mengandung anak orang lain. Dia mungkin tak akan memikirkanku lagi barang sedetikpun. Dan, aku harus menerima itu. Aku harus menghargai keputusannya. Lagi pula, siapa aku mau mengatur hubungan asmaranya? Aku tak pernah ada untuknya setelah kejadian itu. Tentu saja pada akhirnya Gwen memilih pria lain.
Aku penasaran bagaimana akhirnya mereka bisa sampai ke tahap ini. Aku baru mengikuti Gwen lagi semenjak dia pindah ke Indonesia. Mereka mungkin berpacaran saat di Inggris. Sam pasti memberikan semua yang dia butuhkan. Jauh berbeda dengan pacaran kami yang masih kekanak-kanakan. Tapi, bagaimanapun juga momen-momen itulah yang selalu kuingat sebelum aku tidur.
Kehidupan pacaran kami bisa dibilang cukup sehat. Kami berkencan seminggu sekali, bertengkar seminggu sekali. Hidup itu harus seimbang. Perbedaan-perbedaan yang sebelumnya kusebutkan juga ternyata tak terlalu berpengaruh. Dia diantar ke kampus dengan mobil oleh supirnya dan aku baik-baik saja meskipun mengendarai motor butut yang akhirnya kubeli bekas dari sepupuku. Toleransi terhadap agama kami juga besar. Aku bisa sholat lima kali sehari dan dia pergi ke gereja setiap Minggu tanpa terganggu.
Aku memutar kembali ingatan tentang kami berdua. Salah satunya saat kami baru awal-awal pacaran.
Aku menyusuri lorong perpustakaan, mataku meneliti punggung-punggung buku yang berjajar rapi di rak kayu tua. Bau khas buku lama dan debu yang samar memenuhi udara, membawa semacam ketenangan yang tak bisa kutemukan di tempat lain. Tangan kiriku memegang daftar referensi untuk esai sastra, sementara tangan kananku sibuk menyisir buku-buku yang terasa lebih banyak daripada jam tidurku minggu ini.
Di ujung lorong, aku menemukan buku yang kucari. Aku membacanya dan mulai mempelajarinya sambil berdiri. Jam-jam segini perpustakaan penuh. Semua meja sudah terisi oleh mahasiswa yang sibuk mengerjakan tugas.
Aku mendengar langkah kecil di belakang, tapi aku tak menghiraukannya. Lalu, aku merasakan jari-jarinya menggelitik pinggangku. Aku menoleh.
“Gwen!” Suaraku pelan, tapi penuh kekagetan. “Jangan bercanda. Ini perpustakaan.”
Gwen terkikik. Matanya membentuk satu garis saat dia tersenyum. “Santai saja. Memang apa yang akan mereka lakukan pada kita?” Dia menyandarkan satu lengan ke rak buku. Debu tipis menempel di kayunya, menciptakan kontras dengan kulit kuning langsatnya yang bersih.
“Mengusir kita. Kau tak tahu, kemarin kudengar ada yang ditendang dari sini karena terlalu kencang tertawa.” Itu tak benar. Memang ada yang tertawa kencang, tapi mereka tidak ditendang, hanya diberi peringatan tajam saja. Tapi, aku suka menakut-nakuti Gwen, meski tampaknya alih-alih merasa takut, dia malah merasa tertantang.
Gwen menatapku dengan tidak percaya. Jarak kami hanya sejengkal. Untuk sesaat aku ingin melangkah mendekat dan merasakan kulitnya—hanya untuk mengetes apakah dia terasa sehangat kelihatannya.
“Ah, kau melebih-lebihkan,” katanya dengan cuek.
“Memang.” Aku mengangkat bahu. “Apa yang kau lakukan di sini? Kukira kau ada kelas.”
“Memang.” Dia mengangkat bahu, mengikuti gerak-gerikku. “Tapi, aku bolos.”
Aku menggelengkan kepala dan menghela napas dengan keras.
“Oh, ayolah! Seperti kau tak pernah bolos saja.” Dia menyeringai.
“Aku?” Aku menyentuh dada dengan dramatis. “Jaga ucapanmu di hadapan mahasiswa paling rajin di sini.”
Dia menutup mulut, meredam suara tawanya. “Itu omong kosong paling besar yang kudengar hari ini.”
“Ya sudah kalau tak percaya.” Aku mengangkat kedua tangan. “Dan, kau memilih kabur ke perpustakaan jurusanku karena kau mengira tak akan ada yang menemukanmu di sini?”
“Aku memilih tempat di mana aku bisa menemukanmu.” Wajahnya bercahaya, bermandikan sinar kuning matahari yang memancar dari jendela di belakangku. Aku bisa melihat bintik-bintik wajahnya dengan semakin jelas, seperti bintang-bintang yang menggelayuti langit malam.