Gwen’s POV
Kuharap Adnan duduk di sampingku dan menawarkanku sebuah pelukan.
Udara dingin malam hari menyapu pundakku yang sedikit terbuka—gigil merayapi tubuhku—rambutku yang sekarang sudah panjang berkibar pelan, menggelitik kulitku dan menghalangi pandanganku.
Untuk sesaat aku kembali ke masa itu—masa ketika studio kecilku selalu menjadi tempat pelarian. Kanvas-kanvas bersandar di dinding, beberapa belum selesai, beberapa kusimpan meski rasanya sudah terlalu tua untuk disebut karya. Bau cat akrilik dan terpaan sinar matahari dari jendela besar yang terbuka lebar memberiku rasa tenang yang tak tergantikan. Tapi kali ini—saat itu—mengganggu ketenangan studio seniku.
Adnan duduk di kursi kayu tua di pojok ruangan, di bawah bayang-bayang yang dilemparkan oleh tirai yang setengah tertutup. Dia kelihatan canggung, entah karena lingkungan yang asing atau karena aku terus memperhatikannya. Aku tidak bisa menahan senyum kecil saat dia menyentuh pinggiran meja kayu dengan ragu, seolah takut meninggalkan bekas sidik jari.
“Duduk saja, santai,” kataku, mencoba terdengar biasa saja, meskipun jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. “Aku tak akan melukis sesuatu yang aneh.”
Dia mengangguk, tapi aku tahu dia tidak sepenuhnya percaya. Kuambil kuas dan mulai mencelupkannya ke dalam cat biru.
“Gwen,” panggilnya, suaranya sedalam dan setenang laut di pagi hari saat matahari masih mengintip di penghujung bumi.
Aku menoleh, dan mataku bertemu dengan tatapannya yang penuh rasa ingin tahu, seolah dia mencoba membaca lebih dalam dari apa yang kuucapkan. Dia membuka mulutnya untuk berbicara, tapi kemudian menutupnya lagi.
“Apa?” tanyaku sambil tersenyum kecil, mencoba memecah ketegangan.
Dia menatapku dari balik kacamata tebalnya, bibirnya melengkung dalam senyuman kecil. “Kalau aku bisa melukis, akan kulukis wajahmu setiap hari.”
Aku tertawa pelan, menggeleng sambil kembali menatap kanvas. “Diam atau kulempar kuas ini ke wajahmu!” Ujarku penuh canda.
Aku mendengar tawanya yang renyah. “Loh, kenapa? Bukankah itu romantis?” Dia menungguku untuk menjawab, lalu kembali berkata, “Tidak?”
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, berusaha untuk terlihat fokus dengan karyaku. “Kurasa, sedikit,” kataku.
“Hanya sedikit?”
Aku menatap matanya. “Kau mau seberapa banyak?”
Dia mengerucutkan bibir. “Aku tak tahu.”
“Sudahlah,” kataku, kembali pada kanvas. “Fokus saja pada apa yang kau bisa. Tulislah puisi atau semacamnya.”