Dia yang Tak Bisa Kuraih

Sasha Q
Chapter #8

Bab 7

Adnan’s Pov

 

Setelah setahun berpacaran, Gwen mengajakku ke rumah orangtuanya. Seperti yang sudah kuduga, rumahnya tiga kali lipat lebih besar dari rumahku. Rumah Gwen berdiri megah di ujung jalan yang rindang, dikelilingi pagar besi hitam berornamen rumit. Halamannya luas, dengan taman yang dipenuhi bunga-bunga mekar dalam harmoni warna yang teratur, seakan setiap kelopak telah dipilih dengan cermat untuk menciptakan pemandangan sempurna. Sebuah air mancur kecil berdiri di tengahnya, airnya memercik lembut di bawah sinar matahari sore. 

Bangunan utama rumah itu bergaya klasik, dengan pilar-pilar putih menjulang yang menopang balkon berukiran indah. Jendela-jendelanya besar, dihiasi tirai tebal berwarna krem yang sesekali bergoyang oleh embusan angin. Di dalam, lantai marmer dingin memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal yang tergantung di langit-langit tinggi. Aroma lembut lilin beraroma vanila tercium di udara, bercampur dengan wangi bunga segar yang menghiasi setiap sudut ruangan. 

Ruang tamunya luas dan tertata rapi. Sofa berbahan beludru berwarna abu-abu muda melingkari meja kaca kecil yang dihiasi vas kristal berisi mawar merah. Dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan berbingkai emas, sebagian besar menggambarkan pemandangan alam dan potret klasik yang tampak seperti peninggalan berharga. Ada sebuah piano hitam berdiri di sudut ruangan, mengilap seperti cermin, seakan jarang disentuh. Di atasnya, terdapat beberapa foto keluarga dalam bingkai perak, semuanya menunjukkan senyuman hangat yang terasa sedikit jauh dariku. 

Rumah ini sempurna, tak bercela. Tapi, di balik keindahan ini, aku merasakan sesuatu yang dingin, sesuatu yang membuatku sadar bahwa tempat ini bukanlah rumahku. Ini adalah dunia Gwen, dunia yang berkilau, dunia yang terasa begitu jauh dari tempat aku berasal. 

Aku, Gwen, dan kedua orangtuanya duduk di ruang tamu. Orangtuanya ramah. Bukan seperti orang-orang kaya stereotip yang digambarkan sinetron. Namun, meskipun begitu, aku menyadari bahwa mereka tidak sepenuhnya menerimaku di sini. Karena ketika aku bilang ayahku meninggal saat aku berusia 7 tahun, dan ibuku hanya membuka warung kopi kecil di depan rumah, mereka menatapku dengan aneh. Bukan tatapan penghakiman, tapi lebih seperti tatapan merendahkan, seolah bukan Gwen-lah yang kubutuhkan, tapi rasa kasihan.

“Adnan, kamu kuliah jurusan Sastra Indonesia, ya?” suara Ayah Gwen terdengar ringan, tapi ada nada tertentu yang membuat jantungku terasa berat.

“Iya, Pak. Saya bercita-cita menjadi penulis,” jawabku dengan mantap, meskipun tanganku gemetar.

Dia mengangguk pelan, sambil melirik istrinya. “Pekerjaan yang… menarik, tentu saja. Tapi, bisa menghasilkan, ya? Maksud saya, kalau menikah nanti, bagaimana?”

Lihat selengkapnya