Dia yang Tak Bisa Kuraih

Sasha Q
Chapter #9

Bab 8

Gwen’s POV




Aku tahu tak seharusnya aku melakukan itu. Tapi, aku ingin sekali orangtuaku untuk mengenal Adnan. Jadi aku mengajaknya ke rumah untuk berkenalan dengan mereka. Seperti dugaanku, Adnan diteror banyak pertanyaan yang mengganggu. Aku bisa melihat dari wajahnya kalau dia tak sabar ingin pergi, tapi dia tetap bersikap sopan pada orangtuaku meskipun mereka sudah mulai bertanya “Penghasilanmu sebulan berapa?”, “Kamu bisa kasih apa saja ke anak saya?”, “Kamu yakin Gwen suka sama kamu?”

Aku tidak membela orang tuaku, tapi disaat yang sama mereka juga tidak sepenuhnya salah. Kurasa bukan masalah besar kalau mereka meragukan Adnan—maksudku, kalau kau punya anak perempuan, kau pasti tidak ingin dia jatuh ke tangan lelaki yang salah. Aku paham sekali perasaan mereka. Tapi, aku sudah dewasa. Aku bisa menilai mana yang baik dan buruk, benar atau salah. Aku bisa menentukan apa yang sudah seharusnya menjadi bagian dari hidupku. Dan, aku sudah menentukan bahwa Adnan akan menjadi bagian dari hidupku, entah mereka menyukainya atau tidak.

Setelah dari rumah orangtuaku, kami berkunjung ke rumah ibunya. Sebelumnya aku hanya pernah berbincang lewat video call dengan ibunya. Ini kali pertama aku bertemu langsung. Tak sabar rasanya ingin melihat calon mertuaku. Dari cerita Adnan, aku bisa tahu kalau ibunya adalah orang yang penuh kasih sayang. Tapi, saat aku datang, pemikiranku seketika berubah.

Aku melangkah masuk ke rumah Adnan, sebuah rumah kecil dengan dinding bercat putih yang mulai mengelupas di beberapa sudut. Udara di dalam terasa hangat, meskipun kipas angin tua di langit-langit berputar dengan suara berderit pelan. Ruang tamunya sederhana, dengan sofa bermotif bunga yang terlihat agak lusuh namun tetap bersih. Di atas meja kecil di tengah ruangan, ada termos the dan beberapa cangkir, dikelilingi oleh piring kecil berisi kue kering.

Ibunya Adnan, seorang wanita paruh baya dengan kerudung sederhana, menyambut kami dengan senyum sopan, tapi ada sesuatu di matanya yang sulit kuartikan. Aku merasa ia menatapku sedikit lebih lama dari yang seharusnya, seolah-olah sedang menilai setiap inci dari keberadaanku.

Kami duduk, dan aku mencoba bersikap santai. Aku memuji kue kering buatannya, mengatakan bahwa rasanya sangat enak. Ibunya mengangguk kecil, tapi tidak tersenyum. Hanya ucapan terima kasih yang dingin keluar dari bibirnya. Obrolan berlangsung biasa, tapi aku merasakan ketegangan menggantung di udara, seperti benang halus yang hampir putus.

“Jadi, Gwen,” katanya akhirnya, suaranya lembut tapi dengan nada yang menekan, “kamu Kristen, ya?”

Aku menelan ludah, mencoba untuk tetap tenang. “Iya, Bu.”

Lihat selengkapnya