Pukul delapan malam.
Lantai delapan Gedung TJ Consulting & Strategy Partners masih menyisakan beberapa lampu yang menyala. Sebagian besar karyawan telah pulang sejak satu jam yang lalu. Lorong yang biasanya dipenuhi suara langkah kaki kini berubah sunyi, hanya terdengar dengungan pendingin ruangan dan bunyi jemari yang sesekali mengetuk papan ketik.
Irene menghela napas panjang. Matanya terasa perih setelah hampir seharian menatap layar komputer. Ia melirik jam di sudut monitor, lalu menyimpan berkas terakhir ke dalam folder proyek sebelum akhirnya menutup laptop.
“Besok lanjut lagi,” gumamnya pelan.
Ia meraih tas yang tergantung di sandaran kursi, lalu memasang cardigan merahnya. Sebelum beranjak, ia mengecek ponselnya terlebih dulu. Ada pesan masuk yang belum dibalas, datang dari Rama.
Rama: Ren, sorry aku masih di Jakarta, mungkin baru pulang tengah malam. Kamu pulang naik ojol gakpapa?
Irene lantas mengetik balasan pesan itu dengan singkat, “Iya, Ram.” Lalu menekan tombol kirim. Singkat bukan berarti dirinya marah atau kesal karena malam ini harus pulang sendiri. Memang gayanya saja begitu.
Lantas Irene mengedarkan pandangannya ke arah lain. Di ruangan luas itu ternyata hanya tersisa dua orang saja. Dirinya dan seorang laki-laki yang terkenal tidak banyak bicara namun selalu menjadi kebanggaan kantor, Alan Mahesa. Konsultan yang terkenal disiplin, perfeksionis, dan nyaris tidak pernah berbasa-basi. Selama hampir tiga tahun bekerja di perusahaan itu, Irene bisa menghitung dengan jari berapa kali mereka berbicara di luar urusan pekerjaan.
Dan semuanya singkat.
Seperlunya.
Tidak lebih.
Laptopnya masih menyala. Pandangannya lurus pada layar laptopnya dan terlihat amat serius. Irene hanya melirik sekilas, takutnya Alan tidak nyaman dan merasa sedang diperhatikan. Lalu ia beranjak dari tempatnya dan mulai berjalan menjauh dari ruangan.
Pintu lift terbuka dengan bunyi pelan. Irene masuk seorang diri. Angka demi angka menyala hingga akhirnya lift berhenti di lantai dasar.
Begitu pintu terbuka, suara hujan langsung memenuhi pendengarannya.
Deras.
Air mengguyur jalanan tanpa ampun, memantul di atas aspal dan membentuk kabut tipis di bawah sorot lampu jalan. Beberapa orang tampak berlari kecil menuju kendaraan mereka, sementara yang lain memilih menunggu di bawah kanopi.
Irene mengeluarkan ponselnya.
Aplikasi transportasi daring sudah terbuka sejak beberapa menit yang lalu.
Mencari pengemudi…
Ia menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Lalu muncul pemberitahuan.
“Driver membatalkan pesanan.”
Irene mengembuskan napas pelan. “Serius?”
Ia mencoba lagi, namun hasilnya tetap sama. Memang agak susah mendapatkan driver ketika hujan turun deras begini.
“Ya ampun…” Irene terus mendengus.
Kemudian hujan mulai mereda. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya ke genangan air yang memenuhi aspal. Kini hanya tersisa angin dingin yang menerpa wajahnya. Irene memeluki tubuhnya, merasakan udara dingin menembus cardigannya. Ia berjalan sendirian menuju halte dekat kantor. Sambil kembali memeriksa ponsel dan mengecek aplikasi transportasi daring, berharap kini lebih mudah untuk mendapatkan pengemudi.
Lima menit berlalu.