Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #1

Menghormati Batas

Hari ini aku terbaring di tempat tidurku. Selama tiga puluh enam tahun hidupku, baru kali ini aku merasa sangat tidak berdaya. Mataku menatap langit-langit kamar, seakan membawaku melayang entah ke mana.

Ceklek!

Suara pintu terbuka membuat lamunanku terhenti. Aku menoleh dan melihat seorang laki-laki dewasa tengah menutup pintu kamarku. Tanpa sadar, mataku bertemu dengan matanya

Dia adalah suamiku, Ezra Narendra—salah satu pengusaha muda yang sukses membawa usaha keluarganya menuju puncak keberhasilan.

Dia berjalan ke arahku lalu duduk di kursi yang ada di samping kasurku.

"Kamu sudah makan?" tanyanya dengan lembut. Walaupun wajahnya datar, suaranya begitu halus di telingaku.

"Ya, aku sudah makan tadi," jawabku singkat.

Keheningan menyelimuti kami. Namun, mataku justru sibuk menatap sorot cokelatnya yang indah, yang kini juga tertuju padaku. Aku tidak menyangka dia bisa seperhatian ini. Lebih tepatnya, perhatian dan kasih sayangnya seharusnya sudah bisa kurasakan sejak dulu.

Tapi aku termakan oleh ego dan gengsi hingga menciptakan pernikahan yang dingin. Bahkan keluarga kecil kami ikut merasakan dinginnya.

Seharusnya aku bisa melakukan ini… seharusnya sejak dulu, agar aku tidak merasa sebersalah ini—kepada suamiku, kepada putraku.

Dengan masih menatap matanya, aku bertanya, "Zacharia di mana?"

Aku melihat satu alisnya sedikit terangkat. "Kamu lupa? Dia sedang di sekolah sekarang. Baru pulang beberapa jam lagi," jawabnya, membuatku mengangguk mengerti.

Tok! Tok! Tok!

Kami menoleh ke arah pintu yang diketuk sebanyak tiga kali.

"Siapa?" tanya suamiku.

"Ini saya, Daniel, Tuan. Saya datang untuk membawa dokumen yang Anda minta tadi," ucap sekretarisnya dari balik pintu.

"Oh, Daniel, masuklah!"

Pintu kembali terbuka. Seorang laki-laki yang lebih muda dari suamiku melangkah masuk sambil membawa sebuah dokumen.

"Tuan Ezra dan Nyonya Dianthus," sapanya hormat, lalu menyerahkan dokumen itu pada suamiku.

Daniel terlihat sangat rapi dengan kemeja putih yang dilapisi jas hitam, berbanding terbalik dengan suamiku yang hanya mengenakan celana jins dan kaus hitam—terlalu santai. Apa dia tidak bekerja hari ini?

"Ini dokumen yang Anda minta, Tuan."

Ezra mengambil dokumen itu.

Lihat selengkapnya