Hari ini aku terbaring di tempat tidurku. Selama tiga puluh enam tahun hidupku, baru kali ini aku merasa sangat tidak berdaya. Mataku menatap langit-langit kamar, seolah membawaku melayang entah ke mana.
Ceklek!
Suara pintu yang terbuka membuat lamunanku terhenti. Aku menoleh dan melihat seorang laki-laki dewasa sedang menutup pintu kamarku. Tanpa sadar, mataku bertemu dengan tatapannya.
Dia adalah suamiku, Ezra Narendra, salah satu pengusaha muda yang sukses membawa perusahaan keluarganya menuju puncak kejayaan.
Dia berjalan ke arahku, lalu duduk di kursi yang berada di samping tempat tidurku.
"Kamu sudah makan?" tanyanya dengan lembut. Meskipun wajahnya datar, suaranya terdengar begitu halus di telingaku.
"Ya, aku sudah makan tadi," jawabku singkat.
Keheningan menyelimuti kami. Namun, mataku justru sibuk menatap sorot mata cokelatnya yang indah, yang kini juga tertuju kepadaku. Aku tidak menyangka dia bisa seperhatian ini. Lebih tepatnya, perhatian dan kasih sayangnya seharusnya sudah bisa kurasakan sejak dahulu.
Namun, aku termakan oleh ego dan gengsi hingga menciptakan pernikahan yang dingin—bahkan keluarga kecil kami pun ikut merasakan dinginnya.
Seharusnya aku bisa melakukan ini... seharusnya sejak dahulu, agar aku tidak merasa sebersalah ini—kepada suamiku, kepada putraku.
Dengan masih menatap matanya, aku bertanya, "Zacharia di mana?"
Aku melihat salah satu alisnya sedikit terangkat.
"Kamu lupa? Dia sedang di sekolah sekarang. Baru akan pulang beberapa jam lagi," jawabnya, membuatku mengangguk mengerti.
Tok! Tok! Tok!
Kami menoleh ke arah pintu yang diketuk sebanyak tiga kali.
"Siapa?" tanya suamiku.
"Ini saya, Daniel, Tuan. Saya datang untuk membawa dokumen yang Anda minta tadi," ucap sekretarisnya dari balik pintu.
"Oh, Daniel. Masuklah!"
Pintu kembali terbuka. Seorang laki-laki yang lebih muda dari suamiku melangkah masuk sambil membawa sebuah dokumen.
"Tuan Ezra, Nyonya Dianthus," sapanya dengan hormat, lalu menyerahkan dokumen itu kepada suamiku.
Daniel tampak sangat rapi dengan kemeja putih yang dipadukan dengan jas hitam, berbanding terbalik dengan suamiku yang hanya mengenakan celana jins dan kaus hitam—terlalu santai. Apa dia tidak bekerja hari ini?
"Ini dokumen yang Anda minta, Tuan."