Saat ini, aku masih duduk di atas kasur dengan punggung menempel pada kepala tempat tidur. Di pangkuanku ada sebuah mangkuk yang berisikan potongan buah apel yang tadi dikupas oleh Asher.
Sesekali, potongan apel itu aku ambil dengan garpu dan dimasukan ke mulut. Berharap rasa masam bercampur manis buah itu bisa meredakan kegelisahanku menunggu kedatangan Asher dan Zacharia.
Sekarang sudah waktunya Zacharia pulang dari Sekolahnya. Oleh karena itu, Asher pamit ingin menjemput putra mereka seperti biasanya.
Sementara aku tengah gelisah memikirkan apa yang harus aku lakukan ketika berhadapan dengan Zacharia! Putra yang hanya aku beri kasih sayang dari dia lahir sampai berumur lima tahun! Setelah itu, aku termakan ego dan gengsiku karena dia sangat mirip dengan Asher!
Ah, sialan! Seharusnya aku tetap memberikan kasih sayang pada anak itu, sekalipun wajahnya mirip dengan Asher!
Tanpa sadar aku memasukkan potongan buah yang banyak sehingga membuatku tersedak. Tanganku menepuk-nepuk dadaku yang terasa sesak, berharap tepukan itu bisa meredakan sesak di dadaku.
Dan tanpa sengaja, mataku menatap pada ponselku yang tergeletak di atas meja sebelah kasur. Secara perlahan, aku mengambil ponsel yang sejak semalam tidak aku buka.
Begitu ponsel itu aku buka, yang aku lihat pertama kali bukan aplikasi-aplikasi yang ada di ponselku. Tapi sebuah artikel yang pertama kali aku lihat. Artikel yang sempat aku buka kemarin, namun tidak sempat aku baca karena keburu sakit.
Sebuah artikel yang menunjukkan pengertian tentang keluarga dan makna keluarga itu sendiri.
"Keluarga bukan hanya sekadar status sejak lahir. Bukan juga cuma tempat berpulang atau persoalan siapa dari mereka yang lebih dekat denganmu. Namun, kehadiran keluarga di tengah kehidupan merupakan sesuatu yang lebih besar dan berharga."
"Seorang pepatah pernah mengatakan, Darah lebih kental daripada air. Benar adanya bahwa ikatan darah merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan cara apapun."
"Hubungan ini akan semakin erat karena terbentuk dari ikatan emosional antar individu anggota keluarga. Semakin kamu menghargai kehadiran mereka, maka akan semakin dalam pula makna keluarga yang dirasakan."
Membaca pengertian saja membuat dadaku sesak. Aku teringat mendiang kedua orangtuaku, teringat suami dan putraku yang selama ini aku abaikan.
Kedua orangtuaku yang mengajarkan arti cinta dan keluarga pada Awalnya. Namun aku tidak melakukan hal yang sama pada suami dan putraku. Betapa berdosanya aku.
Beribu-ribu air mata jatuh pun tidak akan bisa menghapus rasa bersalahku.
Saat sedang bersedih, pintu kamarku terbuka tanpa aba-aba. Membuatku dengan cepat menghapus air mata yang turun dikedua pipiku.
Terlihat seorang anak yang berlari masuk ke dalam kamarku. Namun dia berhenti saat sudah setengah langkah menuju kasurku.
Wajah anak laki-laki itu terlihat penuh harap, tapi juga seperti takut untuk mendekat.
Astaga! Separah itukah aku selama ini?