Saat ini, aku masih duduk di atas kasur dengan punggung menempel pada kepala tempat tidur.
Di pangkuanku, ada semangkuk potongan apel yang tadi dikupas Ezra.
Sesekali, aku mengambil potongan apel itu dengan garpu dan memasukkannya ke mulut, berharap rasa masam bercampur manis buah itu bisa meredakan kegelisahanku menunggu kedatangan Ezra dan Zacharia.
'Sekarang sudah waktunya Zacharia pulang dari sekolah. Karena itu, Ezra pun pamit untuk menjemput putra kami seperti biasa.'
'Sementara itu, aku gelisah memikirkan apa yang harus aku lakukan ketika berhadapan dengan Zacharia. Putra yang hanya kuberi kasih sayang sejak lahir hingga usia lima tahun. Setelah itu, aku termakan ego dan gengsiku karena dia sangat mirip dengan Ezra.'
'Ah, sialan! Seharusnya aku tetap memberikan kasih sayang kepada anak itu, sekalipun wajahnya mirip Ezra!'
Tanpa sadar, aku memasukkan terlalu banyak potongan buah hingga tersedak. Tanganku menepuk dadaku berulang kali yang terasa sesak, sambil berharap tepukan itu bisa sedikit meredakannya.
Tanpa sengaja, mataku menatap ponselku, dan secara perlahan aku mengambil ponsel yang sejak semalam tidak aku buka.
Begitu aku membuka ponsel, yang pertama kulihat bukan aplikasi-aplikasi di ponselku, melainkan sebuah artikel yang sempat kubuka kemarin tapi belum sempat kubaca karena tiba-tiba sakit.
Sebuah artikel yang menunjukkan pengertian tentang keluarga dan makna keluarga itu sendiri.
"Keluarga bukan hanya sekadar status sejak lahir. Bukan juga cuma tempat berpulang atau persoalan siapa dari mereka yang lebih dekat denganmu. Namun, kehadiran keluarga di tengah kehidupan merupakan sesuatu yang lebih besar dan berharga."
"Sebuah pepatah pernah mengatakan, Darah lebih kental daripada air. Benar adanya bahwa ikatan darah merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan cara apapun."
"Hubungan ini akan semakin erat karena terbentuk dari ikatan emosional antar individu dalam keluarga. Semakin kamu menghargai kehadiran mereka, maka akan semakin dalam pula makna keluarga yang dirasakan."
Baru membaca pengertiannya saja sudah membuat dadaku sesak. Aku teringat mendiang kedua orang tuaku. Aku juga teringat suami dan putraku yang selama ini aku abaikan.
Kedua orang tuaku telah mengajarkanku arti cinta dan keluarga sejak awal, namun aku tidak melakukan hal yang sama pada suami dan putraku. Betapa berdosanya aku!
Beribu-ribu air mata pun tidak akan mampu menghapus rasa bersalahku.
Saat sedang menangis, pintu kamarku terbuka tanpa aba-aba, membuatku cepat-cepat menghapus air mata.
Terlihat seorang anak yang berlari masuk ke dalam kamarku, namun dia berhenti saat baru setengah langkah menuju kasurku.
Wajah anak laki-laki itu terlihat penuh harap tapi juga tampak takut untuk mendekat.
Astaga! Separah itukah aku selama ini?