Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #2

Harapan

Saat ini, aku masih duduk di atas tempat tidur dengan punggung bersandar pada kepala tempat tidur.

Di pangkuanku, ada semangkuk potongan apel yang tadi dikupas Ezra.

Sesekali, aku mengambil sepotong apel dengan garpu, lalu memasukkannya ke dalam mulut, berharap rasa masam bercampur manis buah itu dapat meredakan kegelisahanku saat menunggu kedatangan Ezra dan Zacharia.

'Sekarang sudah waktunya Zacharia pulang dari sekolah. Karena itu, Ezra pun pamit untuk menjemput putra kami seperti biasa.'

'Sementara itu, aku gelisah memikirkan apa yang harus kulakukan ketika berhadapan dengan Zacharia. Putra yang hanya kuberi kasih sayang sejak lahir hingga usia lima tahun. Setelah itu, aku justru termakan oleh ego dan gengsiku karena dia sangat mirip dengan Ezra.'

'Ah, sialan! Seharusnya aku tetap memberikan kasih sayang kepada anak itu, sekalipun wajahnya sangat mirip dengan Ezra!'

Tanpa sadar, aku memasukkan terlalu banyak potongan buah ke dalam mulut hingga tersedak. Tanganku menepuk-nepuk dada yang terasa sesak, sambil berharap tepukan itu dapat sedikit meredakannya.

Tanpa sengaja, mataku tertuju pada ponselku. Perlahan, kuambil ponsel yang sejak semalam belum sempat kubuka.

Begitu membuka ponsel, yang pertama kulihat bukan aplikasi-aplikasi di dalamnya, melainkan sebuah artikel yang sempat kubuka kemarin, tetapi belum sempat kubaca karena tiba-tiba jatuh sakit.

Sebuah artikel yang membahas pengertian tentang keluarga dan makna keluarga itu sendiri.

"Keluarga bukan hanya sekadar status yang melekat sejak lahir. Keluarga juga bukan sekadar tempat untuk pulang atau persoalan siapa di antara mereka yang lebih dekat denganmu. Kehadiran keluarga dalam kehidupan merupakan sesuatu yang jauh lebih besar dan berharga."

"Sebuah pepatah mengatakan, 'Darah lebih kental daripada air.' Benar adanya bahwa ikatan darah merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dengan cara apa pun."

"Hubungan ini akan semakin erat karena terbentuk dari ikatan emosional antaranggota keluarga. Semakin kamu menghargai kehadiran mereka, semakin dalam pula makna keluarga yang akan kamu rasakan."

Baru membaca pengertiannya saja sudah membuat dadaku sesak. Aku teringat mendiang kedua orang tuaku. Aku juga teringat suami dan putraku yang selama ini kuabaikan.

Kedua orang tuaku telah mengajarkanku arti cinta dan keluarga sejak kecil. Namun, aku tidak melakukan hal yang sama kepada suami dan putraku. Betapa berdosanya aku!

Beribu-ribu tetes air mata pun tidak akan mampu menghapus rasa bersalahku.

Saat sedang menangis, pintu kamarku tiba-tiba terbuka tanpa aba-aba, membuatku cepat-cepat menghapus air mata.

Kulihat seorang anak laki-laki berlari masuk ke dalam kamarku. Namun, langkahnya terhenti ketika baru setengah jalan menuju tempat tidurku.

Wajah anak laki-laki itu tampak penuh harap, tetapi juga menyimpan rasa takut untuk mendekat.

'Astaga! Separah itukah sikapku selama ini?'

Aku merentangkan kedua tanganku ke arahnya, seolah mengajaknya untuk berpelukan. Hal itu membuatnya tersenyum. Dia naik ke tempat tidurku dan langsung masuk ke dalam pelukanku. Namun, aku dapat merasakan bahwa dia sengaja memelukku dari samping agar tidak mengenai kakiku yang sedang sakit.

Ah, anak ini pengertian sekali.

Lihat selengkapnya