"Aku mau tidur siang bareng papa dan Mama di sini!" seru Zacharia ceria di tengah pelukan kami bertiga.
Aku dan Ezra bertatapan setelah mendengar permintaan putra kami.
"Tidak bisa, Zac! Mama-mu harus beristirahat dengan tenang di sini. Jangan menambah pikiran mama-mu dengan memaksa tidur di sini. Kita akan tidur siang di kamar masing-masing," tegur Ezra, yang berusaha menasehati putra kami itu.
Wajah Zacharia berubah, yang tadinya ceria, langsung cemberut menatap papanya.
“Enggak! Enggak mau! Zac mau tidur di sini! Mau tidur bareng mama di kasur ini!” seru Zacharia dengan keras kepala. Dia menatap papanya dengan pandangan menantang.
Karena tidak mau ada pertengkaran, aku akhirnya membuat keputusan.
"Baiklah, kita akan tidur bersama di sini. Zacharia, Mama, dan Papa juga," ucapku sambil menatap Zacharia dan Ezra.
Zacharia jelas bahagia.
"YEAAAAYYY!" Anak itu melompat di atas kasurku dengan gembira.
Aku menoleh pada Ezra dan melihat tatapan bingungnya. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman.
"Zacharia mau ke kamar dulu, mau mengambil bantal kesukaan Zacharia, ya Ma," aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban atas pertanyaannya itu.
YEAAAAYYY!" tanpa aba-aba, anak itu melompat dari kasurku ke lantai kamar, membuatku dan Ezra terkejut. Lalu dia berlari tanpa rasa bersalah, sementara orangtuanya dibuat kaget.
"Zacharia! Jangan bertingkah seperti tadi lagi! Jangan lompat-lompat sembarangan!" Ezra kembali menegur Zacharia, tapi anak itu keburu lari menjauh.
"Dia tidak mendengar teguranmu," ucapku, membuat Ezra menghela napas. Laki-laki itu langsung menatapku dengan tatapan yang sedikit tajam.
"Kenapa kamu membolehkan anak itu tidur di sini?" tanyanya dengan nada sedikit ketus. Aku bingung dengan sikapnya itu.
"Memangnya kenapa? Putraku ingin tidur di sini, dan aku izinkan. Lagipula, apa yang salah? Selain Zacharia, kamu kan juga tidur di sini," jawabku dengan santai.
Namun, hal itu membuat Ezra terkejut, lalu dia menunduk dan menutup matanya dengan tangan kanannya.
Terlihat sekali pria itu tersenyum malu-malu, membuatku juga ikut tersenyum. Lalu, dia melepaskan tangan yang menutupi matanya.
"Bukan begitu maksudku, kamu harus banyak istirahat. Kakimu kan masih sakit." Aku dapat merasakan ketulusan dan perhatian yang terdengar dari setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Aku baik-baik saja, Suamiku. Lagipula, aku tidak sesakit di awal. Rasa sakitnya sudah reda sekarang. Jadi, tidak apa-apa jika kamu dan Zacharia tidur bersamaku di sini."
"Tapi kan..." aku langsung memegang tangannya.
"Tidak apa-apa, suamiku. Memang awalnya tubuhku terasa lemas karena kakiku baru saja patah, sehingga aku merasa kakiku lumpuh, bukan cuma patah, padahal kakiku sebenarnya cuma patah sedikit. Tapi karena kamu sudah merawatku dengan baik, sakitku sekarang sudah reda."
Aku tertawa keras karena melihatnya tersipu malu. Padahal yang aku katakan ini fakta, tapi mungkin terdengar seperti gombalan baginya.
'Tapi dia lucu sekali.'