Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #3

Kejujuran

"Aku mau tidur siang bareng Papa dan Mama di sini!" seru Zacharia ceria di tengah pelukan kami bertiga.

Aku dan Asher bertatapan setelah mendengar permintaan putra kami itu.

"Tidak bisa, Zac! Mama kamu harus beristirahat dengan tenang di sini! Jangan menambah pikiran Mama kamu dengan memaksa tidur di sini. Kita akan tidur siang di kamar masing-masing!" tegur Asher yang berusaha menasehati putranya itu.

Wajah Zacharia berubah, yang tadinya ceria langsung cemberut menatap Papanya.

"Gak! Gak mau! Zac mau tidur di sini! Mau tidur bareng Mama di kasur ini!" seru Zacharia yang tetap keras kepala. Dia menatap Papanya dengan pandangan menantang.

Karena tidak mau ada pertengkaran. Aku akhirnya membuat keputusan.

"Baiklah, kita akan tidur bersama di sini. Zacharia dan Papa," ucapku sambil menatap Zacharia dan Asher.

Zacharia jelas bahagia. "YEAAAAYYY!" anak itu melompat di atas kasurku dengan gembira.

Sementara Asher memberikanku tatapan bingung, aku hanya bisa memberikan senyuman sebagai balasan tatapannya itu.

"Zacharia mau ke kamar dulu, mau ngambil bantal kesukaan Zacharia ya Ma!" aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban atas pertanyaannya itu.

"YEAAAAYYY!" tanpa aba-aba, anak itu melompat dari kasurku ke lantai kamar membuatku dan Asher terkejut. Lalu dia berlari tanpa rasa bersalah karena membuat orangtua serangan jantung sementara.

"Zacharia! Jangan bertingkah seperti tadi lagi! Jangan lompat-lompat sembarangan!" Asher kembali menegur Zacharia tapi anak itu keburu lari menjauh.

"Dia tidak mendengar teguranmu," ucapku membuat Asher menghela nafas. Pria itu langsung menatap diriku dengan tatapan yang sedikit tajam.

"Kenapa kamu membolehkan anak itu tidur di sini?" tanyanya dengan nada sedikit ketus membuatku bingung.

"Kamu juga tidur di sini dengan Zacharia dan aku," jawabku dengan santai.

Tapi hal itu membuat Asher terkejut, lalu dia menunduk dan menutup matanya dengan tangan kanannya.

Terlihat sekali pria itu tersenyum malu-malu membuatku juga ikut tersenyum. Lalu dia melepaskan tangan yang menutupi matanya.

"Bukan begitu maksudku, kamu harus banyak istirahat. Kakimu kan masih sakit," aku dapat merasakan ketulusan dan perhatian yang terdengar dari setiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Aku baik-baik saja, Suamiku. Lagipula aku tidak sesakit di awal, rasa sakitnya udah reda sekarang. Jadi, tidak apa-apa jika kamu dan Zacharia tidur bersamaku di sini."

"Tapi, kan..." aku langsung memegang tangannya.

"Tidak apa-apa, Suamiku. Memang awalnya tubuhku terasa lemas karena kakiku baru saja patah. Jadi aku merasa lumpuh. Tapi karena kamu sudah merawatku dengan baik, jadi sakitku sudah reda sekarang."

Lihat selengkapnya