"Karena aku mencintaimu."
Aku terdiam mendengarnya. Apa yang baru saja dia katakan? Dia mencintaiku?! Serius?
Aku ingin bertanya, tetapi lidahku terasa kelu untuk sekadar membuka mulut.
Mataku menatap kedua matanya yang indah. Aku tidak menyangka bisa memiliki suami setampan dia. Astaga! Apa yang sebenarnya merasukiku hingga aku tega mengabaikannya selama bertahun-tahun?
Kenapa aku bersikap dingin kepadanya? Kenapa?
"Kenapa?"
Aku terbelalak karena tanpa sadar melontarkan pertanyaan itu kepadanya.
Aku melihat dia tersenyum. "Karena aku mencintaimu," ujarnya.
"Itu bukan jawaban!" balasku dengan jengkel.
Kali ini dia tertawa kecil. "Ya, mau bagaimana lagi? Aku jatuh cinta kepadamu, jadi aku menerimamu sepenuhnya, meskipun kamu mengabaikanku dan bersikap dingin kepadaku."
Entah sudah berapa kali hari ini mataku berkaca-kaca. Aku merasa sangat sedih. Dadaku terasa sesak sekali.
Aku tidak menyangka bahwa suamiku ternyata mencintaiku, padahal sejak awal aku tidak mencintainya.
"Kapan?" tanyaku kepadanya. Sejak kapan dia jatuh cinta kepadaku?
Aku sudah menangis seperti ini, tetapi wajahnya justru terlihat santai.
"Sudah sangat lama."
"Setelah kita dijodohkan?"
"Lebih tepatnya, sebelum perjodohan kita terjadi." Mataku terbelalak mendengarnya.
Itu sangat... sangat lama. Tanganku bergerak menghapus air mata yang jatuh membasahi pipiku.
"Kapan itu?" tuntutku dengan nada rendah. Aku tidak ingin mengambil risiko membuat Zacharia terbangun.
Namun, pria itu justru tampak biasa saja dengan senyuman manisnya.
"Rahasia."
"Ezra!" seruku tanpa sadar karena tidak kuat menahan rasa kesalku. Namun, suaraku membuat Zacharia hampir terbangun.
"Hmmm..."
Tubuh Zacharia bergerak dalam pelukanku.
Aku pun langsung mengelus kepala dan pundaknya, mencoba membuatnya kembali tidur nyenyak. Aku berharap putraku tidak terbangun karena seruanku sendiri.
"Dia hampir terbangun," kata Ezra dengan suara yang terdengar menyebalkan di telingaku. Aku menatap pria itu dengan kesal.
"Itu semua karena dirimu!" seruku dengan suara rendah, tetapi penuh tekanan, sambil menutup kedua telinga putraku yang sedang tertidur.
"Baiklah, yang tadi memang salahku," balasnya.