Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #5

Hampir Gila

Sekarang aku tengah duduk di meja makan. Di dekat meja makan, ada tante yang tengah mencuci piring. Di sampingku, sepupuku tengah makan sambil menatapku.

"Makan! Nanti mama lihat dan marah sama tingkah diammu ini!" tegur sepupuku padaku. Tapi aku tak menghiraukannya, karena tenggelam dalam kesedihan yang kurasakan.

"Ayo makan Dian!" seru sepupuku.

Aku dengan lemah, letih, lesu mengambil sendok untuk menyuap nasi. Namun, yang kulakukan hanyalah mengaduk-aduk nasi dan lauk yang ada di piringku.

"Kamu kenapa sih?" tanya sepupuku, sambil terdengar dentingan sendok di piring dan suara kunyahan. Sementara aku masih tidak ingin makan.

Astaga, Dian! Itu nasi sama lauknya dimakan!" Tegurnya sekali lagi, tapi kali ini nadanya lebih tinggi dari tadi. Namun aku masih tidak peduli, bahkan untuk sekadar menoleh padanya.

"Ada apa ini?" tanya tanteku dari samping.

"Ini, Ma! Dian dari tadi aneh banget, eh, enggak! Dia dari bangun tidur sudah aneh banget! Setelah mama keluar kamar itu, dia tiba-tiba menangis bikin aku panik. Terus dari tadi makanannya tidak dia makan, hanya dia aduk-aduk tuh!" sepupuku mengadukan perbuatanku pada tante.

Aku memutar bola mataku. Tadi dia bertingkah seakan melindungiku agar tidak dimarahi tante. Eh, sekarang dia malah mengadu. Menyebalkan sekali!

"Angkat kepalamu, Dianthus!" perintah tante, yang langsung aku lakukan. Aku menatap wajah tanteku yang tegas.

"Wajahmu berantakan sekali. Apa kamu sudah mandi?"

Aku berdecak mendengar pertanyaannya. "Ck! Jelas sudahlah, Tante! Masa iya aku mau kerja malah tidak mandi?"

"Wajahmu seperti orang yang habis patah hati?" celetuk sepupuku. Aku menatap tajam dirinya yang tampak biasa saja dan sibuk mengunyah makanan yang dia suap.

"Habis putus dari laki-laki itu ya? Ya ampun, Dian! Laki-laki modelan gitu buat apa diingat-ingat lagi!"

Sejak dulu, sepupuku memang tidak menyukai kekasihku yang dulu. Kekasihku memiliki sifat baik dan buruknya sendiri. Dia baik, tidak bersikap sembarangan, dan selalu meminta pendapatku terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Namun di sisi lain, dia jarang membantuku saat sedang kesulitan. Hal itulah yang membuat sepupuku sangat membencinya.

"Benar apa kata Rosa, Dian! Untuk apa kamu menangisi laki-laki modelan begitu! Ingat ya, di dunia ini yang bisa bikin kenyang itu nasi, bukan cinta! Jadi, buka matamu itu! Jangan kemakan omongan manis laki-laki saja, otakmu harus berpikir dengan benar!"

Untuk kesekian kalinya, aku mendengar nasihat realistis dari tante. Ya, walaupun dia terkesan menukarku agar hutang-hutang keluarganya lunas. Tapi setidaknya, dia menjodohkanku dengan laki-laki yang baik, bisa menerimaku apa adanya, dan setia juga.

"Tidak usah memikirkan laki-laki itu lagi! Dia pun tidak bisa memenuhi kebutuhanmu dengan layak!" omel tante yang hanya bisa kudengarkan.

Lihat selengkapnya