Sekarang aku tengah duduk di meja makan. Di dekat meja tersebut, Tante Melati sedang mencuci piring. Di sampingku, sepupuku sedang makan sambil menatapku.
"Makan! Nanti Mama lihat dan marah karena tingkah diammu ini!" tegur Rosa kepadaku.
Namun, aku tidak menghiraukannya karena tenggelam dalam kesedihan yang kurasakan.
"Ayo makan, Dian!" seru Rosa.
Dengan lemah, letih, dan lesu, aku mengambil sendok untuk menyuapkan nasi ke mulutku. Namun, yang kulakukan hanyalah mengaduk-aduk nasi dan lauk yang ada di piring.
""Kamu kenapa, sih?" tanya sepupuku sambil terdengar dentingan sendok di piring dan suara kunyahan makanan. Sementara itu, aku masih tidak ingin makan.
"Astaga, Dian! Nasi dan laukmu itu dimakan!" tegurnya sekali lagi, tetapi kali ini nadanya terdengar lebih tinggi daripada sebelumnya. Namun, aku masih tidak peduli, bahkan untuk sekadar menoleh kepadanya.
"Ada apa ini?" tanya Tante Melati dari samping.
"Ini, Ma! Dian dari tadi aneh banget. Eh, enggak! Dia sudah aneh sejak bangun tidur! Setelah Mama keluar dari kamar, dia tiba-tiba menangis sampai membuatku panik. Lalu, dari tadi makanannya tidak dimakan, hanya diaduk-aduk saja!" Rosa mengadukanku kepada Tante Melati.
Aku memutar bola mataku. Tadi dia bertingkah seolah-olah melindungiku agar tidak dimarahi Tante Melati. Eh, sekarang dia malah mengadu. Menyebalkan sekali!
"Angkat kepalamu, Dianthus!" perintah Tante Melati, yang langsung aku lakukan.
Aku menatap wajah Tante Melati yang terlihat tegas.
"Wajahmu berantakan sekali. Apa kamu sudah mandi?"
Aku berdecak mendengar pertanyaannya. "Ck! Jelas sudah, Tante! Masa iya aku mau bekerja, tetapi tidak mandi?"
"Wajah Dianthus seperti orang yang baru saja patah hati," celetuk Rosa.
Aku menatap tajam ke arahnya yang tampak biasa saja dan masih sibuk mengunyah makanan yang disuapkannya.
"Habis putus dari laki-laki itu, ya? Ya ampun, Dian! Laki-laki seperti itu buat apa diingat-ingat lagi!"
Sejak dulu, Rosa memang tidak menyukai kekasihku yang lama. Kekasihku memiliki sifat baik dan buruknya sendiri. Dia adalah orang yang baik, tidak bersikap sembarangan, dan selalu meminta pendapatku terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Namun, di sisi lain, dia jarang membantuku ketika aku sedang mengalami kesulitan. Hal itulah yang membuat Rosa sangat membencinya.
"Benar kata Rosa, Dian! Untuk apa kamu menangisi laki-laki seperti itu? Ingat, ya, di dunia ini yang bisa membuat kenyang adalah nasi, bukan cinta! Jadi, buka matamu itu! Jangan hanya termakan oleh omongan manis laki-laki. Otakmu harus tetap berpikir dengan benar!"
Untuk kesekian kalinya, aku mendengar nasihat realistis dari Tante Melati. Ya, walaupun dia terkesan menukarku agar utang-utang keluarganya lunas. Namun, setidaknya, dia menjodohkanku dengan Ezra yang baik, bisa menerimaku apa adanya, dan juga setia.