Aku menerima uluran tangan dari bos tempatku bekerja. Dia membantuku berdiri dan menggenggam tanganku agar aku tidak terjatuh.
"Masih sempat tertawa seperti orang gila? Cepat jawab pertanyaan gue! Kenapa kamu tadi berlutut di trotoar ini?"
"Tidak apa-apa, Pak Bos."
"Tidak apa-apa... tidak apa-apa... Tapi kalau terjadi sesuatu ke lo, menurut lo siapa yang akan disalahkan, Rosa? Ya, gue!"
Aku tertawa saat mendengar nama sepupuku disebut. Sebagai informasi, bos tempatku bekerja ini menyukai sepupuku yang galak itu. Namun, sayangnya, dia selalu ditolak oleh Rosa. Meski begitu, dia tidak pernah pantang menyerah untuk mendapatkan hati Rosa.
"Ketawa lagi!" ucapnya dengan wajah masam.
Sumpah, Bos yang satu ini benar-benar bisa menaikkan suasana hatiku. Baru saja aku merasa sedih dan hampir gila memikirkan Zacharia dan Ezra. Namun, dengan cepat dia berhasil membuatku tertawa seperti ini.
"Ya, sudahlah. Puas-puasin saja kalau mau tertawa." nada suaranya terdengar sangat pasrah.
Aku masih tertawa kecil melihat tingkahnya. Sayang sekali, Rosa tidak menjadi sepupu iparku melalui bos yang satu ini.
"Terus, lo mau ke mana sampai membawa tas segala?" tanyanya, membuat tawaku berhenti. Jujur saja, pertanyaannya terdengar sangat aneh.
"Kenapa lagi dengan wajahmu itu?"
"Anda masih bertanya saya mau ke mana? Saya jelas sedang bekerja di kafe, Bos! Bukankah Pak Bos adalah Bos saya?" Tanpa sadar, aku menaikkan nada suaraku karena kesal dengan sikap bos yang satu ini.
"Ah, iya, ya! Kok bisa gue lupa kalau lo adalah karyawan gue? Gue juga mau pergi ke kafe. Berangkat bersama saja, ya mau ya?" ucapnya sambil menawarkan tumpangan dengan mobilnya.
"Oh, saya boleh ikut, Pak?"
Dia mengangguk sebagai tanda setuju.
"Tapi dengan satu syarat, jadilah mak comblang gue dengan Rosa," ujarnya sambil tersenyum nakal.
Senyumku yang awalnya lebar langsung menghilang.
"Kalau itu memang tidak bisa, Pak!" kataku. Ini sudah kesekian kalinya dia memintaku untuk menjadi mak comblangnya.
"Ya, sudah. Kalau begitu, saya jalan kaki saja. Tidak perlu diantar bersama, Pak!"
Aku melepaskan tangannya yang memegangku dan mulai berjalan, meskipun perlahan karena tubuhku masih terasa lemah.
"Eeehhh!"
Dia segera mendekatiku dan menahan langkahku agar aku berhenti berjalan.