"Cieeee datang bareng Pak Bos!"
"Cieeeee!"
Aku memakaikan lipstikku dengan wajah datar, lalu seruku kepada mereka yang masih sibuk menggodaku, "Diam!"
"Aku tidak ada apa-apa sama Pak Bos! Berhenti menggodaku!"
"Ah, masa!" ucap Aldo. Aku ingin sekali melempar lipstik dan kaca yang ada di tanganku ke muka menyebalkannya itu.
Semua orang menggodaku, kecuali Reka, yang aku tahu memang menyukai bos. Dia hanya diam sambil menatapku.
"Lagi pula Pak Bos hanya ingin kelihatan baik di depanku agar nantinya aku bisa mengatakan hal-hal baik tentangnya kepada sepupuku yang dia sukai," ucapku dengan kesal.
"Memangnya lo bakalan cerita kalau dikasih tumpangan sama Pak Bos ke sepupumu itu?"
Kali ini Anjani yang bertanya.
"Ya, kalau sepupuku tanya, sih." Lalu kami pun tertawa kecil, kecuali Reka. Menurut rumor yang aku dengar, Reka menyukai pemilik kafe ini. Gawat! Aku tidak mau mempunyai musuh dalam selimut di tempat kerjaku ini. Dia mungkin diam saja jika Pak Bos menyukai sepupuku, karena tidak kenal dan tidak pernah bertemu. Tapi berbeda cerita jika aku yang disukai pemilik kafe ini.
"Lagi pula, jika Pak Bos menyukaiku, aku tidak akan semenderita sekarang, kan!" Lalu tawa rekan-rekanku makin kencang.
"Iya juga, ya? Hahaha!"
"Malah kalau dia yang suka sama sepupuku, kalian yang enak!" seruku sambil memasukkan kaca kecil dan lipstik ke dalam tasku. Tawa mereka makin kencang mendengar ucapanku itu.
"Lah iya, bener! Kasihan banget lo, Dian," ucap Lena.
"Lagian, salah lo sendiri, sih. Kenapa kamu tidak terima saja jadi mak comblangnya Pak Bos sama sepupu lo yang namanya Rosa itu? Karena, kalau lo menolak jadi mak comblang, kan, lo jadi diisengin sama Pak Bos."
"Ya, Rosa tidak mau. Tidak mungkin kan aku menjadi mak comblang terus, seperti menyuruh dia menerima apa yang diberikan Pak Bos? Jatuhnya aku memaksa sepupu sendiri, dong? Lagian, Pak Bos juga sudah kukasih tahu apa saja yang menjadi kesukaan dan kebiasaan Rosa. Tinggal Pak Bos sendiri yang memutuskan bagaimana mendekati Rosa."
"Tapi tetap saja aku dikerja rodi seperti ini sampai sakit. Padahal aku sudah baik memberi tahu kesukaan Rosa itu!" Aku bisa melihat beberapa rekanku menahan tawa, bahkan Reka yang sejak tadi diam ikut tertawa juga.