Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku segera menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan salat Zuhur.
Setelah mengucapkan salam, aku mengangkat kedua tanganku.
'Ya Allah, maafkan hamba yang masih banyak melakukan kesalahan, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Ampunilah dosa-dosaku selama ini, ya Allah. Lapangkanlah hati dan rezekiku, ya Allah.'
Aku menutup mata karena tiba-tiba teringat kenangan malam tadi bersama Zacharia dan Ezra.
'Ya Allah, apa ini? Apa yang hamba rasakan semalam? Mengapa rasanya hamba sudah pernah merasakan hal ini bertahun-tahun yang lalu? Apakah kejadian semalam hanyalah mimpi semata dan hamba telah dibangunkan? Ataukah sebenarnya ini adalah mimpi, dan hamba belum dibangunkan oleh Ezra serta Zacharia? Ataukah hamba benar-benar kembali ke masa lalu? Hamba tidak tahu apa yang harus hamba lakukan sekarang selain berserah diri kepada-Mu, ya Allah.'
Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya melepaskan mukena dan melipat sajadahku. Kemudian, aku berdiri dan meletakkan semua perlengkapan salatku dengan rapi di tempat semula.
Aku melihat jam di ruangan itu yang menunjukkan pukul 12.45 siang. Cukup lama juga aku meminta izin untuk mandi dan salat, ya?
Aku mulai berjalan keluar dari ruang istirahat karyawan dan melihat kondisi kafe yang cukup sepi. Ya, masih ada beberapa pelanggan yang sedang makan atau mengobrol bersama teman mereka. Aku melihat Aldo dan Rama sedang mengobrol dengan Ratih di kasir kafe.
Aku memilih untuk kembali ke ruangan tadi, tempat kami para karyawan berkumpul untuk beristirahat.
Di sana ternyata masih ada beberapa karyawan lain, yaitu Anjani, Reka, Lena, dan yang lainnya.
Anjani lebih dahulu menyadari kehadiranku yang mendekat.
"Eh, Dian, sudah selesai salatnya?"
Aku menganggukkan kepala, lalu duduk di samping Reka yang masih kosong.
"Tidak panas? Padahal baru selesai salat?" tanya Reka.
"Tidak, kok. Malah setelah salat langsung terasa sejuk," jawabku sambil mengibaskan rambut.
"Oh, ya? Kalau begitu, gue mau salat juga!" ucap Reka yang bersiap untuk berdiri, tetapi langsung dihalangi oleh Anjani.
"Lo nonis, memang tahu gerakan dan bacaan salat?" tanya Anjani.
"Ya... ya... ya, tidak tahu," jawab Reka sambil kembali duduk di sebelahku. "Tapi, kenapa kalian berdua tidak salat seperti Dian?"
"Sedang menstruasi," jawab Anjani dan Lena secara bersamaan.
"Kok bisa bersamaan begitu?" tanya Reka.