Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #8

Berharap

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku segera menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim, yaitu Salat Zuhur.

Sehabis salam, aku mengangkat kedua tanganku.

'Ya Allah, maafkan Hamba yang banyak salah baik kata maupun perbuatan. Hapuskanlah dosa Hamba selama ini, Ya Allah, dan lapangkanlah hati serta rejeki Hamba, Ya Allah.'

Aku menutup mataku karena tiba-tiba saja teringat kenangan malam tadi bersama Zacharia dan Ezra.

'Apa ini, Ya Allah? Apa yang Hamba rasakan semalam itu? Kenapa rasanya Hamba sudah merasakannya bertahun-tahun? Apakah semalam itu hanyalah mimpi semata dan Hamba dibangunkan? Ataukah ini sebenarnya mimpi, dan Hamba belum dibangunkan oleh Ezra serta Zacharia? Ataukah Hamba benar-benar kembali ke masa lalu? Hamba tidak tahu apa yang harus Hamba lakukan sekarang, selain berserah diri kepadamu, Ya Allah.'

Aku terdiam sebentar sebelum akhirnya melepaskan mukena dan melipat sejadahku. Lalu berdiri dan meletakkan semua perlengkapan salatku dengan rapi di tempatnya semula.

Aku melihat jam di ruangan itu telah menunjukkan pukul 12.45 siang. Cukup lama juga aku izin mandi dan salat, ya?

Aku mulai berjalan keluar dari ruangan istirahat karyawan dan melihat kafe lumayan sepi. Ya, masih ada beberapa pelanggan yang tengah makan atau mengobrol dengan temannya. Aku melihat ada Aldo dan Rama tengah mengobrol dengan Ratih di kasir kafe.

Aku memilih untuk kembali ke ruangan tadi di mana kami, para karyawan, berkumpul untuk beristirahat.

Di sana ternyata masih ada yang lain: Anjani, Reka, Lena, dan yang lainnya.

Anjani lebih dulu sadar kalau aku mendekat.

"Eh, Dian, udah selesai salatnya?" aku menganggukkan kepalaku, lalu duduk di samping Reka yang masih kosong.

"Enggak panas? Padahal habis salat?" tanya Reka.

"Enggak kok, malah habis salat langsung adem," jawabku yang mengibaskan rambutku.

"Oh, ya? Kalau gitu aku mau salat juga!" ucap Reka yang bersiap ingin berdiri, tapi dihalangi oleh Anjani.

"Lo nonis, memang tahu gerakan dan doa salat?" tanya Anjani.

"Ya... ya... ya, enggak tahu," jawab Anjani yang kembali duduk di sebelahku. "Tapi kok lo berdua tidak salat seperti Dian?"

"Mens," jawab Anjani dan Lena bersamaan.

Lihat selengkapnya