Siang pun berganti menjadi sore. Sebentar lagi, waktunya pergantian shift kerja dari siang ke malam.
Beberapa karyawan shift malam sudah datang dan berganti pakaian. Dianthus dan teman-temannya juga bersiap untuk pergantian shift. Tinggal lima menit lagi sebelum waktu kerja mereka berakhir.
"Ayolah, cepat, jam! Gue mau pulang!" keluh Lena sambil menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 14.55. Lima menit lagi, tepat pukul 15.00, shift pagi Dianthus dan teman-temannya akan berakhir.
"Sabar!" ucap Dianthus sambil mengelap meja kafe yang cukup kotor.
Mereka berdua mencari kegiatan sambil menunggu pergantian shift kerja. Saat melihat sebuah meja yang masih kotor, mereka berinisiatif untuk membersihkannya.
Para pelanggan telah pulang beberapa menit yang lalu, sehingga suasana Kafe Sahabat menjadi sepi.
"Capek, Dian!" keluh Lena sambil duduk di salah satu kursi pelanggan di meja itu.
"Lena! Berdiri, Lena!" bisik Dianthus kepada Lena agar rekannya itu segera berdiri dari kursinya.
"Gue capek! Pengen nikah sama CEO aja!"
Dianthus memutar bola matanya dengan jengah sambil melanjutkan tugasnya mengelap meja.
"Jangan kebanyakan berhalusinasi, Lena! Mana mungkin CEO menikah dengan perempuan biasa seperti kita. Orang-orang kaya biasanya akan berakhir dengan sesama orang kaya. Lingkungan kita dan mereka sudah berbeda sejak lahir. Mereka juga selalu bergaul dengan orang-orang yang berasal dari kalangan yang sama, jadi kecil kemungkinan kamu bisa mendapatkan seorang CEO!" ujar Dianthus, berusaha memberikan penjelasan kepada temannya yang sering asal bicara saat sedang bosan.
"Tapi, di drama pendek China bisa, tuh!" Lena kembali membuka mulutnya, membuat Dianthus berhenti mengelap meja dan menatapnya dengan serius.
"Kamu itu jangan kebanyakan menonton drama pendek tentang CEO! Tontonan seperti itu membuatmu terus berhalusinasi. Padahal, bisa saja jodohmu bukan seorang CEO, Lena!" Gadis penyuka bunga yang sama seperti namanya itu sedikit menaikkan nada suaranya agar temannya berhenti mengangkat topik tentang impiannya memiliki pasangan seorang CEO.
Lena tampak biasa saja meskipun ditegur oleh Dianthus. Dia malah cemberut.
"Kalau lo diberi suami seorang CEO, lo juga bakal menerimanya, kan?" tanya Lena secara tiba-tiba, membuat Dianthus tersentak. Tangan Dianthus yang sedang mengelap meja pun berhenti begitu mendengar ucapan Lena itu.
Pikirannya langsung melayang kepada Ezra, suaminya di masa depan. Ezra merupakan CEO perusahaan keluarganya. Di masa depan, suaminya itu termasuk dalam jajaran pengusaha muda yang sukses. Sementara itu, Dianthus adalah istri dari CEO muda tersebut sekaligus menyandang gelar sebagai Nyonya Narendra.
"Ayo! Lagi mikirin apa?"
Dianthus terkejut saat Lena tiba-tiba memegang bahunya. Sejak kapan Lena berdiri di sampingnya?
"Lena! Ih!"
"Lo pasti lagi membayangkan bagaimana rasanya punya suami seorang CEO, iya, kan?" tuduh Lena kepada Dianthus.
Dianthus dapat melihat Lena sedang menatapnya dengan senyuman menggoda.
Dianthus mendengus, lalu melanjutkan kegiatannya mengelap meja.