Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #10

Membeli Kue

Namun begitu masuk, dia melihat seseorang yang dia kenal tengah duduk di pinggiran gng masuk.

Dianthus melihat seorang nenek-nenek tengah duduk di kursi, di depannya ada sebuah meja dengan dagangan kue-kue tradisional yang terpajang di atasnya. Dia mengenal nenek-nenek itu, namanya nenek Sunih. Salah satu orang yang dia kenal, rumah nenek Sunih masih dekat dengan jalan sekitaran sini.

"Kenapa nenek Sunih di sini? Mana gang masuk juga sepi lagi?" ucap Dianthus keheranan.

"Yang nenek Sunih jual adalah kue-kue tradisional dan jualannya di pinggir jalan di mana orang yang lewat banyak. Tapi dilihat-lihat, jualannya masih banyak?" mata Dianthus menatap kue-kue yang terbungkus cantik dan nampaknya tidak ada pengurangan jumlah sama sekali.

Lalu Dianthus berinisiatif untuk berjalan mendekati nenek Sunih.

"Assalamualaikum, Nek Sunih!" sapa Dianthus dengan ramah membuat nenek itu menoleh.

"Waalaikumsalam, ya? Ada apa, Nak?" tanya nenek itu dengan ramah disertai senyuman yang muncul dari bibir keriputnya.

Dianthus pun makin melebarkan senyumnya. "Nenek jualan kue-kue tradisional?" tanyanya dengan ramah.

"Oh, iya Nak! Ini kue-kue yang nenek jual, ini Nenek buat sendiri loh. Rasanya pasti enak, kamu mau yang mana?" nenek Sunih dengan ramah dan sopan menawarkan dagangannya pada Dianthus.

Gadis itu tersenyum, dia memandangi semua dagangan nenek Sunih. Kue-kue tradisional bermacam-macam bentuk dan warna serta dibungkus dengan sangat cantik. Ada yang menggunakan kertas dan ada yang menggunakan daun pisang.

"Nenek sudah lama jual ini tadi?" tanya Dian sambil tangannya memilih kue-kue yang menarik perhatiannya.

"Iya, Nak. Nenek sudah jualan sejak pagi," jawab nenek Sunih dengan ramah.

Tapi jawaban itu membuat Dianthus terkejut hingga tangannya yang memilih kue terhenti.

Nenek Sunih yang melihat tingkah Dianthus jadi menjawab. "Tenang aja, Nak. Kue-kue Nenek tahan lama kok, bahkan sampai malam nanti." nenek itu tampak tidak enak pada Dianthus.

Dianthus yang mengerti nenek Sunih memberikan senyuman lembut dan kembali memilih kue-kue yang ingin dia beli. "Tenang aja, Nek. Saya percaya kok kue Nenek enak. Soalnya tante saya kadang beli ke sini," jawab Dianthus mencoba menenangkan nenek itu.

"Oh, ya? Siapa tante kamu? Sepertinya nenek suka lupa sama siapa saja orang yang menjadi pelanggan Nenek. Bahkan kamu saja Nenek tidak kenal, Nak." jelas suara tua dan lembut itu sambil tertawa. Dianthus tersenyum sekilas sebagai jawaban. Dia mengerti dan tidak tersinggung jika nenek itu melupakannya.

"Tidak masalah, Nek. Jadi, saya yang baru membeli dagangan Nenek ini?"

Lihat selengkapnya