Dianthus melihat seorang pria dewasa berkemeja hitam berdiri di kejauhan.
"Rio!" panggilnya sambil berjalan mendekati mereka.
"Papa!" seru anak itu. Ia langsung memeluk pria dewasa yang telah berdiri di dekat mereka.
Pria itu sedikit berjongkok untuk membalas pelukan putranya. "Kamu dari mana saja, Rio? Papa mencarimu ke mana-mana, tahu!" keluhnya dengan lembut.
Anak kecil itu terlihat menyeringai. "Maaf, Pa. Tadi Rio iseng jalan-jalan, lalu Rio bertemu dengan nenek yang berjualan ini. Jadi, Rio mampir karena kue-kuenya terlihat enak, Pa," jelas anak itu dengan suara yang imut.
Dianthus merasa sangat gemas mendengarnya. Jadi ingat Zacharia.
Pria itu menoleh ke arah dagangan Nenek Sunih. Setelah itu, ia menoleh kepada Nenek Sunih, lalu mengalihkan pandangannya kepada Dianthus. Tatapan tajam pria itu membuat perempuan tersebut seketika menjadi kaku.
Pria itu berjalan mendekat ke depan dagangan Nenek Sunih dan berdiri di samping Dianthus. Namun, anak kecil yang berdiri di antara mereka menjadi pembatas.
"Saya ingin membeli kue-kue Nenek untuk anak saya," ucapnya dengan ramah kepada Nenek Sunih.
"Oh iya, Nak. Anakmu sudah memilih kue-kuenya," jawab Nenek Sunih.
"Oh, sudah, ya? Kalau begitu, pilih lagi. Biar Papa yang membayarnya," ucap pria itu kepada putranya.
"Eh, tidak perlu, Nak. Kue-kue untuk anakmu ini gratis karena anak cantik ini sudah membeli semua dagangan Nenek," jelas Nenek Sunih sambil membungkus kue-kue yang tadi dipilih anak itu.
Pria itu langsung menoleh ke arah Dianthus yang tersenyum kaku kepadanya.
Dianthus merasa heran karena pria di hadapannya itu menatapnya begitu intens.
"Nanti akan saya ganti uangnya, Nona," ucap pria itu. Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya untuk Dianthus.
Gadis itu terkejut. "Oh, tidak perlu repot-repot. Saya memang membeli semua ini untuk dibagikan kepada orang-orang yang lewat. Kebetulan Rio, ya, namanya? Tiba-tiba dia datang dan ingin kue, jadi saya memberikannya," jelas Dianthus dengan kaku.
Sejujurnya, ia merasa kurang nyaman berhadapan dengan pria itu. Namun, Dianthus tetap memberikan senyum manis kepada anak kecil yang berdiri di antara dirinya dan ayah anak itu.
"Iya, Papa! Kakak cantik ini yang mentraktir Rio!" seru anak kecil itu, membenarkan penjelasan Dianthus.