Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #12

Minta Pertolongan

Dianthus berlari keluar dari rumah dan berdiri di lantai teras rumah. Dia melihat bungkus plastik yang berisikan kue-kue yang dia beli tadi, langsung saja dia mengambil bungkus plastik itu lalu meletakkan di salah satu kursi di dalam eumah. Lalu gadis itu berlari lagi keluar rumah, matanya menatap ke sekitar yang mana posisi sekitar itu sepi. Dia kenal banyak orang-orang yang punya rumah di sini. Kebanyakan dari mereka itu sengaja membeli tanah dan rumah di sini untuk dijadikan rumah kedua, yang mana jarang mereka tempati karena mereka pastinya lebih sering tinggal di rumah pertama mereka. Ditambah lagi jarak per rumah sangat jauh, tapi Dianthus tidak perduli. Dia segera berlari menuju rumah yang paling dekat dengan rumah bibinya.

Setelah sampai, dia mengetuk pintu rumah itu sekali sambil bahu yang turun naik mengambil nafas.

Tidak ada jawaban. Dianthus kembali mengetuk kedua kali, ketiga dan seterusnya. Tapi tetap tidak ada yang keluar dari rumah atau sekedar menjawab ketukannya.

Dian melihat ada rumah lain yang cukup dekat dengan rumah yang dia ketuk ini, langsung berlari menuju rumah berikutnya.

Dia mengetuk sekali pintu berbahan kayu jati yang langka.

Hening, membuat Dian kembali mengetuk pintu itu sekali lagi.

Tetap tidak ada jawaban.

Dianthus menutup matanya menahan tangisnya karena tidak ada satu pun orang yang bisa dimintai tolong.

Kepalanya, wajahnya hingga lehernya basah oleh keringat dan air mata yang menetes.

"Ya Allah yang Maha Penolong. Tolonglah Hamba ini," Dian duduk di anak tangga teras rumah orang lain. Kedua tangannya menutupi wajahnya dengan isakan kecil terdengar.

Lalu, gadis itu mengangkat kembali wajahnya yang basah dari kedua tangan, dia mengambil ponselnya dari dalam tas. Tangannya mencari ponsel sang pacar yang bisa dimintai tolong.

Panggilan pertama tidak diangkat.

Panggilan kedua juga tidak diangkat.

Panggilan ketiga pun tetap tidak diangkat.

"Panggilan yang anda tuju sedang-" karena kesal, Dianthus langsung mematikan ponselnya.

"Benar kata tante!"

Dianthus jadi mengingat bahwa laki-laki itu tidak pernah membantu setiap Dianthus ada masalah, tidak hari ini saja. Terlihat sekali dia bukan laki-laki yang baik! 'Ya! Aku tahu kami baru saja pacaran, Tapi anggap aja sebagai tes apakah dia bisa menjadi pasangan yang baik atau tidak. Dan akhirnya terjawab sudah dia pasangan tidak baik! Bodoh sekali kamu Dianthus masa depan! Kenapa kamu mengabaikan suami tampan dan mapanmu serta setiamu demi seonggok laki-laki tidak berguna ini! Bodoh! Bodoh! Bodoh!'

Setelah selesai memaki dirinya sendiri di masa depan, Dianthus membuka ponselnya lagi dan mencari nomor kontak satu orang.

Pak bos pemilik kafe tempat dia berkerja. Orang yang menyukai sepupunya dan kemungkinan besar bisa menolongnya.

"Pak bos! Kamu harus mengangkat teleponku ini! Agar aku bisa dengan bangga mengatakan kamu harus jadi calon pasangan Rosa dan calon menantu tante!" seru Dianthus tanpa sadar.

Lihat selengkapnya