Dianthus berlari keluar rumah hingga tiba di teras. Pandangannya jatuh pada kantong plastik berisi kue-kue yang baru saja dibelinya. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil kantong plastik itu, lalu meletakkannya di salah satu kursi di dalam rumah.
Setelah itu, Dianthus kembali berlari ke luar rumah. Matanya menyapu keadaan sekitar yang tampak sepi. Dianthus mengenal banyak pemilik rumah di kawasan itu. Kebanyakan dari mereka sengaja membeli tanah dan membangun rumah di sana sebagai rumah kedua yang jarang ditempati karena mereka lebih sering tinggal di rumah utama mereka.
Meskipun jarak antarrumah cukup berjauhan, Dianthus tidak memedulikannya. Ia segera berlari menuju rumah yang letaknya paling dekat dengan rumah Rosa.
Setelah tiba di rumah itu, Dianthus mengetuk pintunya sekali sambil mengatur napas yang masih memburu.
Tidak ada jawaban. Dianthus kembali mengetuk pintu untuk kedua kalinya, lalu ketiga kalinya, dan seterusnya. Namun, tetap tidak ada seorang pun yang keluar dari rumah ataupun sekadar menyahut ketukannya.
Dianthus melihat ada rumah lain yang letaknya cukup dekat dari rumah yang baru saja diketuknya. Tanpa membuang waktu, ia langsung berlari menuju rumah berikutnya.
Ia mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati itu sekali.
Suasana tetap hening sehingga Dianthus kembali mengetuk pintu tersebut sekali lagi.
Namun, tetap tidak ada jawaban.
Dianthus memejamkan matanya, berusaha menahan tangis karena tidak ada seorang pun yang dapat dimintai pertolongan.
Kepala, wajah, hingga lehernya basah oleh keringat dan air mata yang terus menetes.
"Ya Allah Yang Maha Penolong, tolonglah hamba-Mu ini."
Dianthus terduduk di anak tangga teras rumah orang lain. Kedua tangannya menutupi wajahnya, sementara isak tangis kecil terdengar keluar dari bibirnya.
Beberapa saat kemudian, gadis itu kembali mengangkat wajahnya yang basah dari balik kedua telapak tangannya. Ia mengambil ponsel dari dalam tas, lalu mencari nomor telepon pacarnya yang dapat dimintai pertolongan.
Panggilan pertama tidak diangkat.
Panggilan kedua juga tidak diangkat.
Panggilan ketiga pun tetap tidak diangkat.
"Panggilan yang Anda tuju sedang-"
Karena kesal, Dianthus langsung memutuskan panggilan itu.
"Benar kata Tante!"
Dianthus kembali teringat bahwa laki-laki itu tidak pernah membantunya setiap kali ia menghadapi masalah, bukan hanya hari ini. Sikapnya benar-benar menunjukkan bahwa dia bukan laki-laki yang baik.
'Ya! Aku tahu kami baru saja berpacaran. Tapi anggap saja ini sebagai ujian untuk melihat apakah dia bisa menjadi pasangan yang baik atau tidak. Dan akhirnya jawabannya sudah jelas, dia bukan pasangan yang baik! Bodoh sekali kamu, Dianthus masa depan! Kenapa kamu mengabaikan suamimu yang tampan, mapan, dan setia demi seonggok laki-laki yang tidak berguna ini? Bodoh! Bodoh! Bodoh!'
Setelah selesai memaki dirinya di masa depan, Dianthus kembali membuka ponselnya dan mencari nomor kontak seseorang.
Orang itu adalah bos pemilik kafe tempat ia bekerja. Pria yang menyukai sepupunya itu kemungkinan besar dapat menolongnya.
"Pak Bos! Tolong angkat teleponku ini! Biar nanti aku bisa dengan bangga bilang kalau Bapak harus jadi calon pasangan Rosa dan calon menantu Tante!" seru Dianthus tanpa sadar.
Namun, yang terjadi justru sama seperti saat ia menghubungi pacarnya tadi.