Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #13

Rumah Sakit

Posisi tantenya berada di tengah antara Dianthus dan Rosa anaknya. Rosa menaruh kepala mamanya ke pundaknya lalu menahan agar tubuh mamanya tetap duduk tidak jatuh. Sementara Dianthus memegangi tangan tantenya. Mereka berdua menangisi wanita yang masih belum sadar.

Ketegangan menyelimuti mobil itu dan tidak ada satu pun yang berani membuka suara, bahkan Rio pun duduk tegang di kursi samping Papanya. Dianthus ingin menyapa Rio dan berbicara dengannya untuk meredakan ketegangannya. Tapi kondisi tantenya dan sepupunya membuat dia mengurungkan niat menyapa anak manis dan imut itu. Belum lagi Dianthus juga merasa bersalah, karena membuat anak sekecil itu berada dalam situasi tegang begini.

Keheningan dan ketegangan hmenyelimuti mobil itu hingga sampai ke rumah sakit yaitu Rumah Sakit Abadi Jaya.

Mobil berhenti setelah masuk ke parkiran. Pria itu keluar dari mobil lalu mengabarkan ada pasien yang kritis.

Langsung saja datang beberapa perawat laki-laki dengan membawa brankar. Papa dari Rio membukakan pintu di samping Rosa. Dianthus melihat Rosa langsung keluar dari mobil dan mereka dibantu dua perawat cowok mengeluarkan tantenya dari mobil, lalu direbahan secara perlahan ke brankar.

Setelah itu, brankar yang berisikan tantenya Dianthus didorong masuk ke dalam rumah sakit. Rosa mengikuti para perawat yang masuk ke dalam rumah sakit, berbeda dengan Dianthus yang berdiri di depan pria yang telah membantunya membawa tantenya ke sini.

"Terima kasih tuan, karena Anda telah membantu membawa tante saya sampai ke rumah sakit sini. Saya akan mengganti minyak Anda," ucap Dianthus sambil ingin membuka tasnya.

"Tidak perlu nona, tidak usah repot-repot. Lagipula saya yang memang memutuskan ingin membantu Anda dan keluarga Anda. Saya harap tante Anda cepat sadar dan kembali pulih," kali ini Dianthus melihat ekspresi yang berbeda, ekspresi yang cukup santai dan lembut dan tidak lagi datar di wajah pria itu.

"Terima kasih atas doanya," balas Dianthus sambil tersenyum, lalu matanya menoleh pada Rio yang menatap mereka dari jendela mobil.

"Rio, terima kasih sudah membantu Kakak ya. Maaf sudah membuat Rio ikutan tegang tadi di mobil," ucap Dianthus sambil menatap Rio, membuat pria di depannya menoleh sedikit ke belakang untuk melihat reaksi anaknya yang diajak bicara oleh Dianthus.

Anak kecil itu tersenyum. "Sama-sama, Kakak cantik." jawabnya sambil tersenyum. Dia tidak lagi terlihat ketakutan dan kaku seperti tadi.

Dianthus pun tersenyum melihat sikap Rio kembali cerita, dia langsung pamit karena teringat Rosa membutuhkan dirinya.

"Kalau begitu saya harus pergi dulu, sepupu saya membutuhkan saya. Terima kasih sekali lagi atas bantuannya!" Dianthus kembali menundukkan pada pria itu sebelum berbalik untuk masuk ke Rumah Sakit menyusul Rosa dan bibinya.

Namun pria itu mencegat Dianthus pergi. "Tunggu! Tunggu sebentar nona!" Dianthus berbalik dan melihat pria itu mengeluarkan sebuah kartu dan diulurkan padanya.

"Ini kartu nama saya, jika Anda membutuhkan bantuan pekerjaan atau apapun. Anda bisa menghubungi saya, di kartu itu ada nomor saya dan nomor perusahaan saya." Dianthus mengedipkan matanya lucu sebelum menganggukkan kepalanya.

"Baiklah saya mengerti. Terima kasih atas kartu namanya dan sampai jumpa Rio!" untuk sekali lagi Dianthus melambaikan tangan pada Rio sebelum berbalik dan berlari dengan membawa bungkusan kue nenek Sunih, tas dan kartu nama pria itu.

Lorong rumah sakit terasa terlalu dingin bagi Dianthus.

Lampu putih memantul di lantai mengilap, menyilaukan matanya yang sejak tadi belum benar-benar berkedip. Bau antiseptik menusuk, membuat kepalanya semakin berat. Di ujung lorong, pintu ruang pemeriksaan masih tertutup rapat menyembunyikan satu-satunya keluarga dari mendiang mamanya yang dia takutkan akan hilang malam itu.

Rosa berdiri di sampingnya, tangannya gemetar, namun berusaha tetap terlihat kuat. Sesekali dia mengusap air mata dengan kasar, seolah tidak ingin terlihat lemah.

Klik.

Pintu terbuka.

Seorang dokter keluar dengan langkah tenang, tapi raut wajahnya tidak memberi kabar yang menenangkan.

“Siapa keluarga pasien?” tanyanya.

Dianthus langsung berdiri tegak. "Saya keponakannya dan ini anaknya,"

Dokter mengangguk pelan, lalu menatap mereka bergantian. Ada jeda singkat seperti dia sedang memilih kata-kata yang tepat.

"Pasien mengalami beberapa luka akibat benturan keras. Lebam di wajah yaitu di dahi, pipi, dan dagu. Itu bukan luka yang biasa terjadi karena jatuh sendiri."

Kata-kata itu menggantung di udara.

Dianthus merasa seperti suara di sekitarnya meredam. Seolah dunia tiba-tiba menjauh beberapa langkah darinya.

"Selain itu," lanjut dokternya. "kami menemukan memar di lengan dan pergelangan tangan. Polanya…mengarah pada kemungkinan adanya kekerasan fisik,"

Rosa tersentak kecil.

Lihat selengkapnya