Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #15

Kemarahan

Rosa masih menunggu mamanya diperiksa, sudah satu jam lewat semenjak dia setuju untuk melakukan visum pada mamanya. Di samping Rosa ada bungkusan hitam berisikan kue-kue yang dibawa oleh Dianthus.

Dianthus berjalan mendekat pada Rosa lalu mengulurkan sebotol air mineral padanya dan langsung diterima oleh sepupunya itu.

Pintu ruang pemeriksaan itu terbuka perlahan membuat keduanya menoleh.

Seorang perawat keluar dengan langkah cepat namun teratur, matanya langsung mencari ke arah mereka.

"Maaf," ucapnya sopan, "Untuk keluarga pasien, bisa ikut sebentar? Kami perlu mengurus administrasi."

Rosa yang sejak tadi berdiri kaku langsung bergerak. "Saya—"

Namun belum sempat dia melangkah, Dianthus menahan lengannya.

"Kamu tetap di sini!" katanya pelan tapi tegas.

Rosa menoleh pada Dianthus, sedikit terkejut dengan perintah sepupunya itu. "Tapi—"

"Aku aja yang urus." potong Dianthus. Tatapannya tetap lembut, tapi tidak memberi ruang untuk dibantah. "Kamu tetap di sini dan jagain tante, Rosa."

Ada jeda singkat.

"Kamu juga makan kue itu, satu aja untuk mengisi perutmu yang kosong." perintah Dianthus.

Rosa menggigit bibirnya, jelas masih ingin bersikeras, tapi akhirnya mengangguk pelan. Kakinya kembali mundur, meski matanya masih tertuju ke pintu ruang pemeriksaan itu. Dia menerima kue yang diberikan Dianthus padanya.

Dianthus menghela napas singkat, lalu berbalik mengikuti perawat.

Langkah mereka menjauh dari lorong utama, menuju meja administrasi yang terang dengan lampu putih dan suara ketikan yang nyaris tanpa henti.

"Silakan duduk," ujar petugas di balik meja, sambil menarik beberapa berkas.

Dianthus duduk, tangannya masih terasa dingin.

"Untuk pasien atas nama Melati..." petugas itu mulai menyebutkan data, lalu melanjutkan, "...akan kami lakukan penanganan lanjutan dan juga visum sesuai permintaan keluarga."

Kata visum itu kembali membuat dadanya terasa sesak.

Dianthus mengangguk pelan.

"Ini untuk data dan persetujuan," lanjut petugas, menyerahkan formulir. "Dan untuk sementara, kami memerlukan jaminan biaya awal."

Dianthus menatap lembaran itu sekilas, tapi pikirannya tidak benar-benar membaca. Bayangan kondisi rumah yang hancur, tubuh tantenya yang tak bergerak dan kata-kata dokter tadi terus berputar di kepalanya.

Tangannya perlahan merogoh tas.

Dia mengeluarkan sebuah kartu ATM.

Kartu itu terasa dingin di sela jarinya.

Beberapa hari lalu, kartu itu hanya berarti satu hal, hasil kerja kerasnya. Gaji yang baru saja dia terima. Rencana kecil yang sempat dia susun untuk dirinya sendiri.

Sekarang, semuanya terasa tidak penting.

Dia meletakkan kartu itu di atas meja.

"Saya pakai ini saja," katanya pelan.

Petugas mengangguk, menerima kartu tersebut.

Lihat selengkapnya