Rosa masih menunggu Melati selesai diperiksa. Sudah satu jam berlalu sejak ia menyetujui pelaksanaan visum terhadap mamanya. Di samping Rosa terdapat bungkusan plastik hitam berisi kue-kue yang dibawa oleh Dianthus.
Dianthus berjalan mendekati Rosa, lalu mengulurkan sebotol air mineral kepadanya. Botol itu langsung diterima oleh sepupunya.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka perlahan, membuat keduanya menoleh.
Seorang perawat keluar dengan langkah cepat, tetapi tetap teratur. Matanya langsung mencari keberadaan mereka.
"Maaf," ucapnya sopan, "keluarga pasien bisa ikut sebentar? Kami perlu mengurus administrasi."
Rosa yang sejak tadi berdiri kaku langsung bergerak.
"Saya—"
Namun, sebelum ia sempat melangkah, Dianthus menahan lengannya.
"Kamu tetap di sini!" katanya pelan, tetapi tegas.
Rosa menoleh kepada Dianthus, sedikit terkejut dengan perintah sepupunya itu.
"Tapi—"
"Aku saja yang urus," potong Dianthus. Tatapannya tetap lembut, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah.
"Kamu tetap di sini dan jaga Tante, Rosa."
Ada jeda singkat.
"Kamu juga makan kue itu, satu saja untuk mengisi perutmu yang kosong," perintah Dianthus.
Rosa menggigit bibirnya. Jelas ia masih ingin bersikeras, tetapi akhirnya mengangguk pelan. Kakinya kembali mundur, meskipun matanya masih tertuju pada pintu ruang pemeriksaan itu. Ia menerima kue yang diberikan Dianthus kepadanya.
Dianthus mengembuskan napas singkat, lalu berbalik mengikuti perawat.
Langkah mereka menjauh dari lorong utama, menuju meja administrasi yang diterangi lampu putih dengan suara ketikan yang hampir tidak pernah berhenti.
"Silakan duduk," ujar petugas di balik meja sambil menarik beberapa berkas.
Dianthus duduk. Tangannya masih terasa dingin.
"Untuk pasien atas nama Melati..." Petugas itu mulai menyebutkan data pasien, lalu melanjutkan, "...kami akan melakukan penanganan lanjutan dan juga visum sesuai permintaan keluarga."
Kata visum itu kembali membuat dada Dianthus terasa sesak.
Dianthus mengangguk pelan.
"Ini untuk data dan persetujuan," lanjut petugas sambil menyerahkan formulir. "Untuk sementara, kami juga memerlukan jaminan biaya awal."
Dianthus menatap lembaran itu sekilas, tetapi pikirannya tidak benar-benar membaca isi formulir tersebut. Bayangan kondisi rumah yang hancur, tubuh tantenya yang tidak bergerak, dan kata-kata dokter tadi terus berputar di kepalanya.
Tangannya perlahan merogoh tas.
Ia mengeluarkan sebuah kartu ATM.
Kartu itu terasa dingin di sela-sela jarinya.
Beberapa hari lalu, kartu itu hanya memiliki satu arti baginya: hasil dari kerja kerasnya. Gaji yang baru saja ia terima. Rencana kecil yang sempat ia susun untuk dirinya sendiri.
Namun, sekarang semuanya terasa tidak penting.
Ia meletakkan kartu itu di atas meja.
"Saya pakai ini saja," katanya pelan.