Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #16

Melapor

Rosa masih berdiri di tempatnya. Napasnya perlahan mulai teratur, meskipun emosinya belum benar-benar reda. Tangan Dianthus masih menggenggam tangannya dengan hangat, seolah menahan sekaligus menenangkannya.

Dokter yang berdiri di hadapan mereka sempat mengamati keduanya. Setelah itu, dia berkata dengan nada yang lebih hati-hati,

"Kalau memang ingin melaporkan, sebaiknya dilakukan secara resmi. Kalian bisa langsung ke kantor polisi terdekat, atau kami dapat membantu menghubungi pihak kepolisian dari sini."

Rosa langsung mengangkat wajahnya.

"Bisa dari sini?"

"Bisa," jawab dokter singkat. "Terutama karena ini menyangkut dugaan tindak kekerasan. Biasanya, pihak kepolisian akan datang untuk mengambil keterangan awal."

Dianthus mengangguk pelan. Menurutnya, cara itu terdengar lebih aman dan lebih terarah.

"Aku rasa kita lakukan dari sini saja," katanya sambil menoleh kepada Rosa. "Biar semuanya menjadi lebih jelas."

Rosa terdiam selama beberapa detik.

Lalu, dia mengangguk pelan.

"Ya, dari sini saja."

Keputusan itu pun akhirnya diambil.

Dokter memberi isyarat kepada salah satu perawat yang tidak jauh dari situ. Tanpa banyak bicara, perawat itu segera pergi dengan langkah cepat menuju bagian dalam rumah sakit.

Untuk beberapa saat, waktu kembali terasa seolah berhenti.

Di tempat yang sama, tempat Dianthus dan Rosa menunggu, terdengar suara langkah kaki di lorong.

Namun, kali ini bukan sekadar lalu lalang biasa. Dua orang berseragam datang dengan langkah tegas. Tatapan mereka menyapu sekeliling dengan saksama sebelum berhenti di hadapan Dianthus dan Rosa.

"Selamat malam," salah seorang dari mereka membuka suara. "Kami dari kepolisian. Kami menerima laporan mengenai dugaan tindak kekerasan."

Dianthus menarik napas pelan.

Ini benar-benar terjadi.

"Iya," jawab Rosa. Suaranya terdengar lebih stabil daripada sebelumnya. "Korbannya adalah Mama saya."

Polisi itu mengangguk, lalu melirik ke arah pintu ruang pemeriksaan.

"Apakah pasien sudah bisa dimintai keterangan?"

"Belum," jawab dokter. "Pasien masih belum sadar."

"Baik," sahut polisi itu singkat. Dia kembali menatap Rosa.

"Kami akan mulai dari pihak keluarga. Bisa diceritakan apa yang terjadi?"

Rosa sempat terdiam. Namun, kali ini dia tidak goyah.

"Saya pulang sore tadi," katanya. "Rumah sudah berantakan. Barang-barang hancur, seperti habis terjadi perkelahian atau perampokan. Lalu, saya menemukan Mama dalam keadaan pingsan."

Polisi itu mencatat keterangan Rosa dengan cepat.

"Apakah ada barang yang hilang?"

"Tidak ada," jawab Dianthus pelan.

Kedua polisi itu saling berpandangan sejenak.

"Kalau begitu, kemungkinan besar ini bukan perampokan," gumam salah seorang di antara mereka.

Suasana kembali hening.

"Apakah kalian mencurigai seseorang?" lanjutnya.

Rosa mengangkat wajahnya.

"Ada," katanya. "Papa saya."

Dianthus langsung menoleh. Namun, kali ini dia tidak menyela.

"Dia sering mabuk akhir-akhir ini," lanjut Rosa. Napasnya mulai terdengar berat. "Dan ini bukan pertama kalinya dia bersikap kasar kepada Mama saya."

Polisi itu tidak langsung bereaksi berlebihan. Dia hanya mencatat keterangan Rosa, lalu bertanya,

"Kapan terakhir kali Anda melihatnya?"

"Beberapa hari yang lalu. Namun, kalau dia sedang mabuk, biasanya dia berada di tempat-tempat tertentu."

"Di mana?"

Lihat selengkapnya