Rosa masih berdiri di tempatnya, napasnya perlahan mulai teratur meski emosinya belum benar-benar reda. Tangan Dianthus masih menggenggam tangannya, hangat, menahan sekaligus menenangkan.
Dokter di hadapan mereka sempat mengamati keduanya, lalu berkata dengan nada lebih hati-hati,
"Kalau memang ingin melaporkan, sebaiknya dilakukan secara resmi. Kalian bisa langsung ke kantor polisi terdekat, atau kami bisa membantu menghubungi pihak kepolisian dari sini?"
Rosa langsung mengangkat wajahnya. "Bisa dari sini?"
"Bisa." jawab dokter singkat. "Terutama karena ini menyangkut dugaan kekerasan. Biasanya pihak berwajib akan datang untuk mengambil keterangan awal."
Dianthus mengangguk pelan. Itu terdengar lebih aman dan lebih terarah.
"Aku rasa kita lakukan dari sini saja," katanya, menoleh pada Rosa. "Biar semuanya jelas."
Rosa terdiam beberapa detik.
Lalu, dengan pelan dia mengangguk.
"Ya, dari sini aja."
Keputusan itu akhirnya diambil.
Dokter memberi isyarat pada salah satu perawat yang tidak jauh dari situ. Tanpa banyak bicara, perawat itu segera pergi, langkahnya cepat menuju bagian dalam rumah sakit.
Dan untuk beberapa saat, waktu kembali terasa menggantung.
⏳
Di tempat yang sama di mana Dianthus dan Rosa menunggu, terdengar suara langkah kaki di lorong.
Namun kali ini bukan sekadar lalu-lalang biasa, tapi dua orang berseragam datang dengan langkah tegas. Pandangan mereka tajam menyapu sekitar sebelum berhenti di hadapan Dianthus dan Rosa.
"Selamat malam," salah satu dari mereka membuka suara. "Kami dari kepolisian. Kami menerima laporan dugaan kekerasan."
Dianthus menarik napas pelan.
Ini benar-benar terjadi.
"Iya," jawab Rosa, suaranya lebih stabil dari sebelumnya. "Korbannya adalah mama saya."
Polisi itu mengangguk, lalu melirik ke arah pintu ruang pemeriksaan.
"Apakah pasien sudah bisa dimintai keterangan?"
"Belum," jawab dokter. "Pasien masih belum sadar."
"Baik," sahutnya singkat. Ia kembali menatap Rosa. "Kami akan mulai dari keluarga. Bisa diceritakan apa yang terjadi?"
Rosa sempat terdiam, namun kali ini dia tidak goyah.
"Saya pulang sore tadi,” katanya. "Rumah sudah berantakan. Barang-barang hancur, seperti habis ada perkelahian atau kemalingan. Lalu saya menemukan mama dalam keadaan pingsan."
Polisi mencatat dengan cepat.
"Apakah ada barang yang hilang?"
"Tidak ada," jawab Dianthus pelan.
Kedua polisi itu saling berpandangan sebentar.
"Kalau begitu, kemungkinan besar ini bukan perampokan," gumam salah satunya.
Hening sejenak.
"Apakah kalian mencurigai seseorang?" lanjutnya.
Rosa mengangkat wajahnya.
"Ada," katanya. "Papa saya."
Dianthus langsung menoleh, tapi kali ini dia tidak memotong.
"Dia sering mabuk akhir-akhir ini," lanjut Rosa yang napasnya mulai berat. "Dan ini bukan pertama kali dia kasar pada mama saya."
Polisi itu tidak langsung bereaksi berlebihan. Ia hanya mencatat, lalu bertanya,
"Terakhir kali Anda melihatnya?"
"Beberapa hari lalu. Tapi kalau dia minum, biasanya dia ada di tempat-tempat tertentu."
"Di mana?"