Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #18

Pengkhianatan

Walaupun berdiri seorang diri, Dianthus tidak tampak takut ataupun lemah. Dia berdiri di tengah jalan sambil menatap tajam ke arah kekasihnya yang balas menatapnya dengan mata terbelalak. Pria itu sedang duduk di salah satu kursi pelanggan sebuah kafe pinggir jalan. Di sampingnya duduk seorang perempuan yang sama sekali tidak dikenali oleh Dianthus.

Dengan langkah mantap, perempuan itu berjalan menghampiri meja tempat kekasihnya dan perempuan asing tersebut duduk.

Tatapannya berubah semakin tajam, seolah mampu membunuh pria yang kini terduduk kaku di kursinya.

"Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Zain?" tanya Dianthus dengan nada rendah, tetapi tatapannya penuh tuntutan.

Zain masih terdiam kaku, sementara perempuan yang duduk di sebelahnya tampak kebingungan. Tatapannya bergantian mengarah kepada Zain dan Dianthus.

Dianthus menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung kafe pinggir jalan itu. Namun, dia seolah tidak peduli.

Bagaimana mungkin dia bisa bersikap tenang ketika kekasihnya yang tidak dapat dihubunginya selama beberapa jam terakhir justru berada di tempat itu bersama perempuan lain?

"Zain! Aku tanya, kamu sedang apa di sini? Kenapa teleponku tidak kamu angkat?" tanya Dianthus, yang masih sabar menunggu jawaban dari kekasihnya itu.

Dianthus mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Orang-orang yang sedang duduk maupun berdiri di kafe pinggir jalan itu tampak menjadikan mereka sebagai tontonan di menjelang waktu Magrib.

Perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. Sesaat kemudian, dia membuka matanya kembali dan menatap Zain dengan tatapan yang sama tajamnya.

"Kamu ikut aku! Kita bicara berdua!" ucap Dianthus dengan nada tajam, lalu berbalik dan berjalan menjauh dari tempat itu.

Beberapa langkah kemudian, Dianthus berhenti dan menoleh sekilas. Dia melihat Zain mengatakan sesuatu kepada perempuan yang tampak kebingungan itu sebelum akhirnya berdiri. Dianthus kembali memalingkan wajahnya dan melanjutkan langkahnya sambil menahan amarah yang berkecamuk di dalam dada. Sementara itu, Zain segera berlari mengejarnya.

Akhirnya, Dianthus menghentikan langkahnya di sebuah tempat yang sepi. Dia berbalik dan menatap Zain yang masih menundukkan kepalanya.

"Bisa jelaskan apa alasanmu mengenai kejadian tadi?" tanya Dianthus sambil menatap Zain dengan sinis.

Zain sempat mengangkat kepalanya, tetapi segera menundukkannya kembali agar pandangannya tidak bertemu dengan tatapan Dianthus. Tangan kanannya bergerak menggaruk tengkuknya, tanda kegugupan yang sedang melandanya.

"Gini, kamu bilang tidak bisa menghubungiku, kan? Ponselku rusak, Dian. Jadi, wajar saja kalau panggilanmu tidak bisa aku angkat," begitulah alasan yang keluar dari mulut Zain.

Dianthus terkejut. Mulutnya sedikit menganga mendengar alasan Zain yang terdengar kurang masuk akal.

"Terus, kenapa kamu duduk di kafe itu bersama perempuan itu? Siapa dia? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Dia jelas bukan teman sekolah ataupun teman satu gengmu, kan?" tanya Dianthus bertubi-tubi. Rasa penasarannya semakin besar, terlebih perempuan itu begitu asing di matanya. Padahal, Dianthus cukup mengenal teman-teman dan keluarga Zain.

"Dia teman," jawab Zain pelan.

"Iya! Teman yang mana? Teman seperti apa? Jelaskan, dong, Zain!" desak Dianthus, menuntut kejujuran dari Zain.

Udara yang tadinya terasa dingin kini berubah menjadi panas dan menegangkan.

Zain akhirnya berani menatap mata Dianthus yang tajam. Namun, kali ini tatapan Zain pun sama tajamnya.

"Dia bukan urusanmu, Dian! Pokoknya dia temanku! Kamu kenapa, sih?! Kenapa kamu terlihat marah sekali sekarang?" Zain seolah membalikkan pertanyaan itu.

Dianthus tertawa sinis.

Lihat selengkapnya