Walaupun berdiri seorang diri. Tapi Dianthus tidak terlihat takut atau lemah. Dia berdiri di tengah jalan, menatap nyalang pada kekasihnya yang sedang menatap dirinya dengan mata melotot. Pria itu tengah duduk di salah satu kursi pelanggan kafe tengah jalan dan di sampingnya ada seorang perempuan yang tidak pernah dikenal oleh Dianthus.
Dengan langkah berani perempuan itu berjalan mendekati meja yang berisikan kekasihnya dan perempuan asing itu.
Matanya yang berubah tajam seakan bisa membunuh pria yang terduduk kaku di kursinya itu.
"Kamu sedang apa di sini? Zain?" tanya Dianthus dengan nada rendah tapi mata menuntut. Pria itu masih terdiam kaku, sementara perempuan di sebelahnya tampak bingung sambil menatap pria di depannya dan Dianthus.
Dianthus tahu dirinya menjadi tontonan beberapa orang yang ada di kafe pinggir jalan itu, tapi dia seakan tidak perduli.
Bagaimana dia bisa baik-baik saja melihat kekasihnya yang tidak bisa dia hubungan beberapa jam yang lalu, justru berada di sini bareng perempuan lain.
"Zain! Aku tanya kamu sedang apa di sini? Kenapa teleponku tidak kamu angkat?" tanya Dianthus yang masih sabar menunggu jawaban kekasihnya itu.
Dianthus melihat sekitar di mana orang-orang yang ada di sana baik yang sedang duduk atau berdiri tengah menjadikan mereka tontonan di jam-jam mau magrib ini.
Perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu menutup mata dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Matanya terbuka dan menatap pria itu lagi.
"Kamu ikut aku! Kita bicara berdua!" ucap Dianthus dengan tajam lalu pergi menjauh dari tempat itu.
Dianthus berhenti dan menoleh sekilas pada Zain yang berkata sesuatu pada perempuan yang kebingungan itu sebelum berdiri. Dianthus berbalik lagi dan kembali berjalan dengan amarah yang dia tahan. Sementara pria itu langsung berlari mengejar Dianthus.
Akhirnya Dianthus menghentikan langkah kakinya di tempat sepi. Dia berbalik dan menatap Zain yang menundukkan kepalanya ke bawah.
"Bisa jelaskan apa alasanmu padaku mengenai hal tadi?" tanya Dianthus sambil menatap sinis pada Zain.
Zain mengangkat kepalanya sekali tapi langsung dia tundukkan agar matanya tidak bertemu pandang dengan mata Dianthus. Tangan kanannya langsung bergerak menggaruk leher belakangnya bukti kegugupan yang melandanya.
"Gini, kamu bilang kamu tidak bisa menghubungi aku kan? Ponsel aku rusak, Dian. Jadi wajar aja panggilan kamu enggak bisa aku angkat," begitulah alasan yang keluar dari mulut Zain.
Dianthus terkejut dengan mulut menganga kecil mendengar alasan Zain yang kurang masuk akal.
"Terus, kenapa kamu duduk di kafe itu sama perempuan itu? Siapa dia? Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya, dia jelas bukan teman sekolah atau teman satu gengmu?" tanya Dianthus bertubi-tubi karena penasaran, terlebih perempuan itu begitu asing di mata Dianthus yang cukup mengenal baik pertemanan Zain dan keluarganya.
"Dia teman," jawab pelan Zain.
"Iya! Teman yang mana? Teman yang gimana? Jelasin dong Zain!" Dianthus menuntut kejujuran Zain.