Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #19

Bertemu Dengan Suami Masa Depan

Ezra segera mendekati Dianthus, lalu memegang kedua bahunya dari belakang untuk membantunya berdiri perlahan.

Sementara itu, Dianthus masih terpaku. Bahkan setelah Ezra membantunya berdiri, pandangannya tetap tertuju pada pria itu tanpa berkedip.

Dianthus ingin memastikan apakah pria yang diyakininya sebagai suami di masa depan itu benar-benar nyata atau hanya ilusi pikirannya semata. Dia dapat merasakan tangan kanan Ezra yang masih bertumpu lembut di punggungnya, seolah pria itu belum ingin melepaskan pegangannya.

Keduanya saling menatap tanpa memedulikan gerimis yang mulai membasahi pakaian yang mereka kenakan.

"DIANTHUS!"

Teriakan itu membuat mereka berdua terkejut dan langsung mengalihkan pandangan ke arah datangnya suara.

Mereka menoleh dan melihat Zain, mantan kekasih Dianthus, yang ternyata masih terus mengejarnya.

Zain menghentikan langkahnya karena terkejut melihat mantan kekasihnya berdiri berdampingan dengan seorang pria yang tidak dikenalnya. Dia kemudian berjalan mendekati Dianthus.

"Dian! Kamu tidak apa-apa? Ayo pulang bersamaku, soalnya sudah gerimis," ujarnya sambil berusaha meraih tangan Dianthus.

Namun, Dianthus dengan cepat menepis tangan Zain sebelum sempat menyentuh tangannya.

"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri. Jadi, sebaiknya kamu pergi dari hadapanku!" ketus Dianthus kepada Zain.

"Tapi, Dian—"

"Tidak ada tapi-tapian! Aku mau pulang sendiri! Pergi! Menjauh dariku!" seru Dianthus.

"Dian..."

Zain hendak mendekati Dianthus. Namun, perempuan itu segera berlindung di belakang Ezra agar Zain tidak bisa mendekatinya.

Ezra yang sejak tadi hanya diam kini mendapati dirinya dijadikan tempat berlindung oleh Dianthus. Dia kemudian menatap Zain yang juga sedang menatapnya.

"Sebaiknya Anda pergi. Nona ini tidak ingin pulang bersama Anda," ucap Ezra dengan nada datar.

Zain jelas tidak terima.

"Dia harus pulang bersamaku! Memangnya siapa kamu sampai menyuruhku pergi?"

Kali ini, Ezra benar-benar menjadikan tubuhnya sebagai tameng bagi Dianthus. Dia berdiri tegap melindungi tubuh mungil perempuan itu dari pria yang berdiri di hadapannya. Bahkan, sosok Dianthus sama sekali tidak terlihat karena seluruh tubuhnya tertutupi oleh tubuh Ezra yang jauh lebih tinggi.

"Saya hanyalah orang yang kebetulan bertemu dengan nona ini. Namun, nona ini sudah dengan jelas meminta Anda untuk menjauh darinya. Dia ingin pulang sendiri, jadi tolong hargai keputusannya," ujar Ezra dengan nada tegas.

Wajahnya tetap datar, tetapi tatapannya begitu tajam hingga Zain tanpa sadar menelan ludah.

"Tapi sudah mulai gerimis, Dian harus pulang," ujar Zain. Dia masih bersikeras ingin mengantar Dianthus pulang.

Di balik punggung Ezra yang lebar, Dianthus mengejek Zain dengan wajah jengkel. Namun, dia langsung terkejut ketika mendengar jawaban Ezra.

"Saya yang akan mengantar Nona ini pulang. Jadi, silakan Anda pergi. Dia tidak nyaman berada di dekat Anda."

Lihat selengkapnya