Ezra segera mendekat pada Dianthus dan memegang kedua bahunya dari belakang untuk membantunya berdiri pelan-pelan.
Sementara Dianthus masih bengong bahkan ketika Ezra sudah membantunya berdiri. Dia masih terus menatap Ezra tanpa kedip.
Dianthus ingin memastikan apakah suami masa depannya ini nyata atau sekedar ilusi pikirannya saja. Dia bisa merasakan pelukan Ezra dari samping karena pria itu tidak melepaskan tangan kanannya dari punggung Dianthus.
Keduanya saling menatap tanpa peduli pada gerimis yang mulai membasahi pakaian yang mereka kenakan.
"DIANTHUS!" teriakan itu membuat mereka berdua terkejut dan mengalihkan tatapan mereka ke arah lain.
Mereka menoleh pada pria yang merupakan mantan kekasih Dianthus yang ternyata masih tetap mengejar Dianthus.
Zain berhenti berlari karena terkejut melihat mantan kekasihnya berdiri berdampingan dengan pria asing. Dia kemudian berjalan mendekat pada Dianthus.
"Dian! Kamu tidak apa-apa? Ayo pulang bersamaku, soalnya udah gerimis." jelasnya pada Dian dan berusaha menyentuh tangan Dian.
Tapi Dian dengan cepat menepis tangan Zain sebelum menyentuh tangannya. "Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri! Jadi, sebaiknya kamu pergi dari hadapanku!" ketus Dian pada Zain.
"Tapi Dian-"
"Enggak ada tapi-tapian! Aku mau pulang sendiri! Pergi! Menjauh dariku!" seru Dianthus.
"Dian..." Zain ingin mendekat pada Dianthus, tapi perempuan itu langsung menjadi Ezra sebagai perisainya agar Zain tidak bisa mendekatinya.
Ezra yang sejak tadi diam sampai tubuhnya dijadikan perlindungan oleh Dianthus. Dia menatap Zain yang juga menatap dirinya.
"Sebaiknya Anda pergi, nona ini tidak mau pulang dengan Anda." ucap datar Ezra.
Zain jelas tidak terima. "Dia harus pulang denganku, memang siapa kamu yang memerintahku untuk pergi!"
Kali ini Ezra benar-benar membuat tubuhnya menjadi bentang hidup bagi Dianthus. Dia berdiri tegap melindungi tubuh mungil Dianthus dari pria di depannya itu, bahkan tubuh Dian tidak terlihat sedikit pun karena terlindungi oleh tubuh Ezra yang lebih tinggi darinya.
"Saya adalah orang yang kebetulan bertemu dengan nona ini. Lalu nona ini sudah berkata pada Anda untuk pergi menjauh dari dirinya! Dia ingin pulang sendiri dan tolong hargai keputusannya!" Ezra berucap tegas dengan wajah datar, tidak lupa dengan tatapan yang begitu tajam membuat Zain tanpa sadar meneguk ludah.