Ezra menghela nafas lega mendengar jawaban Dianthus. Tapi respon itu justru membuat Dianthus bingung.
"Baiklah." Ezra kembali menjalankan mobil.
Walaupun bingung, Dianthus tetap diam dan sesekali melirik ke arah Ezra yang fokus ke jalan.
"Kita mampir ke rumah saya dulu, baru saya mengantar Anda ke rumah sakit. Jangan khawatir, rumah saya ada di dekat sini."
"Kenapa? Rumah sakitnya paling dekat dari sini kok. Namanya Rumah Sakit Abadi Jaya," ucap Dianthus. Ezra hanya melirik sekilas.
"Iya, saya mengerti. Tapi pakaian kita basah, tidak mungkin kan kamu masuk rumah sakit dengan keadaan baju basah begitu?" balas Ezra tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
Dianthus terkejut mendengar jawaban Ezra, lalu dia memandangi pakaiannya yang basah. Dia tampaknya lupa saat bertemu dengan Ezra tadi sudah turun gerimis. Mungkin saking terpesonanya dengan suami masa depannya itu membuat Dianthus sampai lupa dengan pakaian yang basah.
"Oh, iya!" seru Dianthus sambil memegang rambutnya. "Aaaa! Rambutku juga basah!" serunya dengan histeris membuat Ezra yang menyetir tidak bisa menahan senyum yang muncul di wajahnya.
"Jika baju saja basah apalagi rambut, nona. Kita akan mampir ke rumah saya untuk mandi, ganti pakaian, salat dan makan dulu." jelas pria itu.
Dianthus tersenyum pada Ezra, karena Ezra selalu saja menjadi pria yang begitu padanya. Baik dulu maupun sekarang, tapi ada satu hal yang membuat Dianthus harus menolak kebaikan Ezra kali ini.
"Tidak perlu makan, tuan. Bisa langsung antar saya saja setelah salat? Karena saya kasihan sepupu saya yang menunggu tante sendirian di rumah sakit?" tolak Dianthus dengan pelan dan lembut agar tidak melukai pria itu yang telah berbaik hati menawarkan.
"Baiklah."
Di tengah perjalanan, Dianthus merasa heran kenapa mobil ini belum berhenti juga. Padahal waktu diantar oleh papanya Rio cepat sekali sampai ke rumah sakit. Hanya butuh waktu beberapa belas menit, tapi kok ini belum sampai juga?
Tapi hampir tiga puluh menit kemudian, mobil berbelok memasuki pagar yang terbuka lebar dan berhenti di halaman rumah yang begitu mewah.
Dari kaca mobil, Dianthus memperhatikan rumah besar dengan pandangan kagum. Rumah yang asing di matanya.
"Ayo keluar!" ajak Ezra pada Dianthus. Dianthus menoleh sekali untuk menganggukkan kepalanya pada Ezra. Mereka keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk. Gerimis masih turun.
Tapi saat menaiki anak tangga rumah mewah itu, pintu rumah terbuka lebar dan muncul dua perempuan dari balik pintu.
"Ezra!" seru perempuan yang berjalan lebih dulu, disusul oleh perempuan yang ada di belakangnya. Perempuan berkerudung rapi itu berdiri di depan Ezra.
Dianthus mengenal perempuan paruh baya itu, ibu dari Ezra sekaligus ibu mertuanya yang baik hati di masa depan. Tidak lupa juga merupakan nenek dari Zacharia anaknya di masa depan.
"Ibu menunggu kamu sampai salat Magrib lebih dulu, tapi kamu masih belum datang juga!" perempuan itu mengomel pada Ezra. Namun omelannya berhenti begitu melihat Dianthus yang berdiri kaku di samping Ezra dengan kondisi basah.
Perempuan itu menarik telinga putranya. "Ibu memang meminta kamu membawakan menantu, tapi kenapa kamu malah membawa menantu Ibu dalam keadaan basah!"
Dianthus terkejut dengan omongan ibunya Ezra. 'Apa katanya? Menantu?' pipi gadis itu bersemu.
Sementara Ezra kesakitan karena telinga kirinya ditarik oleh ibunya.
"Ibu! Apa-apaan sih! Sakit ini!" ibunya melepaskan telinga Ezra.
"Ada pekerjaan tadi makanya aku telat datang, terus di tengah jalan ketemu dengan Dianthus yang memerlukan bantuan." jelas Ezra pada ibunya.
Dianthus berdiri kaku dan tidak nyaman ditatap oleh calon ibu mertuanya—maksudnya ibunya Ezra. Ditambah lagi pakaian basah dan rambutnya basah. Astaga! Seberantakan apa Dianthus sekarang? Dianthus sangat merutuki nasibnya dalam keadaan kacau ini malah bertemu dengan Ezra dan ibunya.