Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #20

Bertemu Ibu Mertua Masa Depan

Ezra mengembuskan napas lega setelah mendengar jawaban Dianthus. Namun, respons itu justru membuat Dianthus merasa bingung.

"Baiklah."

Ezra kembali menjalankan mobilnya.

Meskipun masih merasa heran, Dianthus tetap diam. Sesekali, dia melirik ke arah Ezra yang fokus memperhatikan jalan.

"Kita mampir ke rumah saya terlebih dahulu, lalu saya akan mengantar Anda ke rumah sakit. Jangan khawatir, rumah saya berada tidak jauh dari sini."

"Kenapa? Rumah sakit yang paling dekat dari sini adalah Rumah Sakit Abadi Jaya," ucap Dianthus.

Ezra hanya meliriknya sekilas.

"Iya, saya mengerti. Tapi, pakaian kita basah. Tidak mungkin, kan, kamu masuk ke rumah sakit dengan keadaan baju seperti itu?" balas Ezra tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

Dianthus terkejut mendengar jawaban Ezra, lalu dia memandangi pakaiannya yang basah. Dia tampaknya baru menyadari bahwa saat bertemu dengan Ezra tadi, gerimis sudah mulai turun. Mungkin karena terlalu terpesona dengan sosok suami masa depannya itu, Dianthus sampai lupa bahwa pakaiannya masih basah.

"Oh, iya!" seru Dianthus sambil memegang rambutnya. "Aaaa! Rambutku juga basah!" serunya dengan panik.

Hal itu membuat Ezra yang sedang menyetir tidak dapat menahan senyum yang muncul di wajahnya.

"Jika baju saja sudah basah, apalagi rambut, Nona. Kita akan mampir ke rumah saya untuk mandi, berganti pakaian, salat, dan makan terlebih dahulu," jelas pria itu.

Dianthus tersenyum kepada Ezra karena pria itu selalu bersikap baik kepadanya. Baik dahulu maupun sekarang, Ezra tetap menjadi sosok yang sama. Namun, ada satu hal yang membuat Dianthus harus menolak kebaikan Ezra kali ini.

"Tidak perlu makan, Tuan. Bisa langsung mengantar saya setelah salat? Saya kasihan kepada sepupu saya yang menunggu Tante sendirian di rumah sakit," tolak Dianthus dengan pelan dan lembut agar tidak melukai perasaan pria yang telah berbaik hati menawarkan bantuannya.

"Baiklah."

Di tengah perjalanan, Dianthus merasa heran mengapa mobil itu belum juga berhenti. Padahal, saat diantar oleh papanya Rio, perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat cepat. Mereka hanya membutuhkan waktu beberapa belas menit untuk sampai, tetapi kali ini mobil tersebut belum juga tiba di tujuan.

Namun, hampir tiga puluh menit kemudian, mobil itu berbelok memasuki sebuah pagar yang terbuka lebar, lalu berhenti di halaman rumah yang tampak begitu mewah.

Dari balik kaca mobil, Dianthus memperhatikan rumah besar itu dengan pandangan kagum. Rumah yang terasa asing baginya.

"Ayo keluar!" ajak Ezra kepada Dianthus.

Dianthus menoleh sebentar lalu menganggukkan kepalanya kepada Ezra. Mereka pun keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk rumah. Gerimis masih turun.

Namun, saat menaiki anak tangga rumah mewah itu, pintu rumah tiba-tiba terbuka lebar. Dari balik pintu, muncul dua orang perempuan.

"Ezra!" seru perempuan yang berjalan lebih dahulu, diikuti oleh perempuan yang berada di belakangnya.

Perempuan berkerudung rapi itu berdiri tepat di hadapan Ezra.

Dianthus mengenali perempuan paruh baya itu. Beliau adalah ibu Ezra sekaligus calon ibu mertuanya yang baik hati di masa depan. Selain itu, perempuan tersebut juga merupakan nenek dari Zacharia, anaknya di masa depan.

"Ibu sudah menunggu kamu sampai selesai salat Magrib, tetapi kamu belum datang juga!" omel perempuan itu kepada Ezra.

Namun, omelannya terhenti ketika melihat Dianthus yang berdiri kaku di samping Ezra dengan kondisi pakaian yang masih basah.

Perempuan itu langsung menarik telinga putranya.

"Ibu memang meminta kamu membawa menantu, tetapi kenapa kamu malah membawa menantu Ibu dalam keadaan basah seperti ini?"

Dianthus terkejut mendengar ucapan Ibu dari Ezra itu.

'Apa katanya? Menantu?' batin gadis itu. Pipinya langsung bersemu merah.

Sementara itu, Ezra meringis kesakitan karena telinga kirinya ditarik oleh ibunya.

"Ibu! Apa-apaan, sih? Sakit!" seru Ezra.

Ibunya pun melepaskan telinga Ezra.

"Ada pekerjaan tadi, makanya aku terlambat datang. Lalu, di tengah jalan aku bertemu dengan Dianthus yang membutuhkan bantuan," jelas Ezra kepada Ibunya.

Dianthus berdiri kaku dan merasa tidak nyaman karena ditatap oleh calon ibu mertuanya—atau lebih tepatnya, Ibu Ezra. Ditambah lagi, pakaian dan rambutnya dalam keadaan basah. Astaga! Seberapa berantakan penampilan Dianthus sekarang? Gadis itu benar-benar merutuki nasibnya karena dalam keadaan kacau seperti ini, dia justru bertemu dengan Ezra dan Ibunya.

"Nak, kamu baik-baik saja? Pakaian dan rambutmu basah sekali," tanya Ibu Ezra kepada Dianthus.

Lihat selengkapnya