Di dalam mobil, Dianthus menatap ke luar jendela. Di jok belakang terdapat dua tas plastik berisi nasi dan lauk-pauk yang disiapkan oleh Ibu Ezra untuk Dianthus.
Keheningan menyelimuti dua orang yang tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Waktu berlalu cukup lama hingga akhirnya mobil berhenti di Rumah Sakit Abadi Jaya. Ezra dengan cepat melepaskan sabuk pengaman dan mematikan mesin mobil.
Dianthus ingin melepaskan sabuk pengamannya, tetapi tangan Ezra lebih dahulu melepaskan sabuk pengaman milik Dianthus. Keduanya saling bertatapan cukup lama hingga akhirnya Dianthus lebih dahulu mengalihkan pandangannya ke depan.
"Terima kasih atas bantuan Anda, Ezra. Terima kasih sudah membantuku dari mantanku, membantu mendapatkan pakaian yang diberikan oleh Ibu Anda, dan mengantar saya ke sini," ucap Dianthus.
Kemudian, dia menoleh kepada Ezra yang masih fokus menatap dirinya.
Senyuman Dianthus muncul.
"Terima kasih banyak."
"Sama-sama," jawab Ezra dengan suara dalamnya.
Dia menoleh ke jok belakang dan mengambil dua tas berisi makanan yang telah disiapkan oleh ibunya. Tas tersebut berpindah tangan kepada Dianthus.
"Bagaimana cara saya mengembalikan kotak-kotak bekal ini?" tanya Dianthus sambil menatap kotak-kotak bekal yang ada di dalam tas tersebut.
"Kalau memang jodoh, kita akan bertemu lagi," ucap Ezra dengan tenang, membuat Dianthus refleks menoleh kepadanya karena terkejut.
"Ma-maksud saya, untuk mengembalikan kotak-kotak bekal itu. Selama kita belum bertemu lagi, simpan saja dan gunakan sesuka hatimu. Ibu tidak keberatan karena dia memiliki banyak kotak bekal yang disimpan di lemari," jelas Ezra sambil menatap Dianthus dengan wajah tenangnya.
"Baiklah. Sampai bertemu lagi," ucap Dianthus.
Ezra menganggukkan kepalanya.
Dianthus membuka pintu mobil lalu menutupnya kembali. Dia menunggu hingga mobil itu bergerak.
Namun, yang terjadi justru kaca mobil terbuka. Ezra membuka kaca mobil sambil berkata,
"Masuklah lebih dahulu, baru saya akan pergi!"
Dianthus menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Anda yang pergi lebih dahulu, baru aku masuk ke rumah sakit."
"Anda yang masuk lebih dahulu. Cepat!"
Dianthus cemberut mendengar perintah Ezra. Dia langsung berbalik dan berjalan meninggalkan mobil tersebut.
⏳
Begitu masuk ke dalam rumah sakit, Dianthus berhenti sejenak dan menoleh ke sekeliling.
Dia tidak tahu di kamar bagian mana tantenya sekarang berada. Pasalnya, Tante Melati sudah keluar dari ruang pemeriksaan. Oleh karena itu, Dianthus berjalan menuju meja administrasi.
"Maaf, Mbak Perawat. Saya boleh bertanya?"
Perawat itu mengangkat kepalanya dan menatap Dianthus. Dia bukan perawat yang sebelumnya membantu Dianthus mengisi administrasi.
"Ya, Mbak? Silakan."
"Pasien atas nama Bu Melati berada di kamar mana, ya?" tanya Dianthus. Seingatnya, dia memberikan kamar VIP, tetapi tidak mengetahui letaknya.
"Sebentar, ya." Perawat itu membuka data pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. "Ibu Melati berada di ruang VIP nomor lima di lantai dua. Jadi, silakan Anda naik ke lantai dua, lalu belok ke lorong kanan," jelas perawat itu kepada Dianthus.