Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #22

Baru Sadar

Keduanya mengobrol beberapa menit, Rosa langsung izin buat mandi dan ganti baju karena dia belum ganti baju sejak sore. Bersamaan dengan itu juga suara azan isya terdengar membuat Dianthus memutuskan untuk Salat Isya dulu.

Setelah Rosa selesai mandi dan Dianthus selesai salat, mereka duduk kembali ke sofa di mana mereka makan tadi.

Dianthus menoleh ke arah tantenya yang masih belum sadar. "Tante masih belum sadar, ya?"

Rosa menatap ke arah mamanya. "Iya, Dian."

Lama sekali mereka berdua diam dalam keheningan. Sampai akhirnya Dianthus kembali bertanya.

"Kalau tante bangun, kamu harus cerita soal visum sama polisi ini Ros. Karena kita tetap butuh keterangan tante sebagai korban. Walau banyak bukti terlihat, tapi kalau tante mihak om. Kamu sendiri yang akan rugi,"

"Aku tahu, Dian. Jangan khawatir, mama pasti ada di pihak kita." Rosa menatap mamanya dengan penuh harapan.

"Ya, semoga aja tante enggak ngecewain kita."

Waktu terus berlalu.

Dianthus berjalan ke arah pintu untuk membuka kunci.

Jam tujuh malam telah lewat

Jam delapan malam.

Jam sembilan malam telah datang.

Di sanalah keajaiban terjadi.

Rosa melihat jari-jari mamanya bergerak. Dia spontan berdiri. "Mama!" serunya langsung berlari menuju kasur.

Dianthus pun ikut mendekati kasur tantenya itu.

"Mama! Mama sudah sadar? Apa yang sakit?" tanya Rosa sambil memeriksa tante Melati, begitu pun dengan Dianthus.

Dianthus yang melihat tombol di samping kasur tantenya berinisiatif untuk menekan tombol itu.

Bunyi bip pelan dari tombol di samping tempat tidur masih terasa menggema di telinga Dianthus.

Tangannya belum sepenuhnya menjauh dari tombol itu ketika dia kembali menatap wajah Tante Melati. Kelopak mata wanita itu terbuka perlahan, napasnya masih berat, seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga lebih.

"Mama..." ucap Rosa memanggil mamanya.

"Tante..." ucap Dianthus lirih, hampir seperti takut mengganggu.

Mata Melati bergerak pelan, mencoba fokus. Pandangannya sempat kosong beberapa detik, sebelum akhirnya berhenti pada dua wajah di depannya.

"Ro... sa... Dian… thus…?" suaranya serak, nyaris tak terdengar.

Dada Dianthus terasa sesak antara lega dan khawatir yang bercampur jadi satu.

“Iya, Tante. Aku sama Rosa di sini.”

Belum sempat dia mengatakan hal lain, pintu ruangan itu terbuka.

Seorang dokter masuk bersama dua perawat dengan langkah cepat namun tetap terkontrol. Suasana langsung berubah menjadi lebih sibuk.

"Pasien sudah sadar?" tanya dokter sambil mendekat.

"Iya, Dok," jawab Dianthus, sedikit mundur memberi ruang.

Perawat segera bergerak ke sisi tempat tidur. Salah satunya mengecek monitor, sementara yang lain mulai menyiapkan alat.

Lihat selengkapnya