Keduanya mengobrol selama beberapa menit. Setelah itu, Rosa meminta izin untuk mandi dan berganti pakaian karena dia belum mengganti bajunya sejak sore. Bersamaan dengan itu, suara azan Isya terdengar sehingga Dianthus memutuskan untuk melaksanakan salat Isya terlebih dahulu.
Setelah Rosa selesai mandi dan Dianthus selesai salat, mereka kembali duduk di sofa tempat mereka makan tadi.
Dianthus menoleh ke arah tantenya yang masih belum sadar.
"Tante masih belum sadar, ya?"
Rosa menatap ke arah Melati yang masih tertidur.
"Iya, Dian."
Lama sekali mereka berdua terdiam dalam keheningan. Hingga akhirnya, Dianthus kembali bertanya.
"Kalau Tante bangun, kamu harus menceritakan soal visum dan laporan polisi ini, Ros. Karena kita tetap membutuhkan keterangan Tante sebagai korban. Walaupun banyak bukti yang sudah terlihat, tetapi jika Tante memihak Om, kamu sendiri yang akan dirugikan."
"Aku tahu, Dian. Jangan khawatir, Mama pasti ada di pihak kita." Rosa menatap mamanya dengan penuh harapan.
"Ya, semoga saja Tante tidak mengecewakan kita."
Waktu terus berlalu.
Dianthus berjalan menuju pintu untuk membukanya.
Pukul tujuh malam telah berlalu.
Pukul delapan malam.
Pukul sembilan malam pun tiba.
Di sanalah keajaiban terjadi.
Rosa melihat jari-jari Melati bergerak. Dia spontan berdiri.
"Mama!" serunya sambil langsung berlari menuju tempat tidur.
Dianthus pun ikut mendekati tempat tidur tantenya.
"Mama! Mama sudah sadar? Apa yang sakit?" tanya Rosa sambil memeriksa kondisi Tante Melati. Begitu pula dengan Dianthus.
Dianthus yang melihat tombol di samping tempat tidur tantenya langsung berinisiatif untuk menekan tombol tersebut.
Bunyi bip pelan dari tombol di samping tempat tidur masih terasa menggema di telinga Dianthus.
Tangannya belum sepenuhnya menjauh dari tombol itu ketika dia kembali menatap wajah Tante Melati. Kelopak mata perempuan itu terbuka perlahan. Napasnya masih terdengar berat, seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga lebih.
"Mama..." panggil Rosa lirih.
"Tante..." ucap Dianthus pelan, hampir seperti takut mengganggu.
Mata Melati bergerak perlahan, mencoba untuk fokus. Pandangannya sempat kosong selama beberapa detik sebelum akhirnya berhenti pada dua wajah di hadapannya.
"Ro...sa... Dian...thus...?" suaranya terdengar serak, nyaris tidak terdengar.
Dada Dianthus terasa sesak. Perasaan lega dan khawatir bercampur menjadi satu.
"Iya, Tante. Aku dan Rosa di sini."
Belum sempat Dianthus mengatakan hal lain, pintu ruangan itu terbuka.
Seorang dokter masuk bersama dua perawat dengan langkah cepat, tetapi tetap terkontrol. Suasana ruangan pun langsung berubah menjadi lebih sibuk.
"Pasien sudah sadar?" tanya dokter sambil mendekat.
"Iya, Dok," jawab Dianthus sambil sedikit mundur untuk memberi ruang.