Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #23

Mengambil Keputusan

Rosa dan Dianthus menuruti saran dokter untuk tidak membebani atau memaksa Melati berbicara tentang kekerasan yang dialaminya.

Namun, yang pasti, Melati mengatakan bahwa bukan maling yang telah melukainya. Setelah itu, Melati hanya terdiam dan tidak melanjutkan ceritanya, sehingga membuat Rosa geram.

Keesokan paginya, Rosa dan Dianthus sepakat untuk mencoba berbicara dengan Melati mengenai kekerasan yang dialaminya semalam. Namun, mereka bingung harus memulai dari mana. Yang pasti, Dianthus melarang Rosa bertanya secara blak-blakan.

Setelah Rosa selesai menyuapi Melati sarapan, Dianthus meminta izin untuk mengajak Rosa keluar sebentar agar mereka bisa berbicara berdua. Keduanya pun keluar dari ruangan Melati dan berbincang di lorong yang sepi.

"Harus di sini banget, ya?" tanya Dianthus karena dia memang takut berada di lorong yang sepi.

"Masih saja takut. Kebanyakan nonton film hantu, sih. Semalam waktu lari-lari di tengah jalan, kamu tidak takut."

"Ya, itu kan karena dikejar Zain, Ros. Jadi, mau tidak mau aku harus lari. Kamu tahu, kan, aku benci dipaksa, sama sepertimu," ucap Dianthus membela dirinya.

"Baiklah, fokus ke topik. Bagaimana ini? Bagaimana caranya bertanya kepada Mama tanpa terkesan blak-blakan menuduh Papa?"

"Aku juga tidak tahu, Ros. Semalam waktunya memang sedikit, tetapi Tante tidak mau menjawab."

"Terus bagaimana sekarang?"

Dianthus mengedikkan bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan Rosa.

Tiba-tiba, ponsel yang dipegang Dianthus berbunyi.

Nama Bos Kafe terlihat pada layar ponselnya.

Dianthus pun mengangkat panggilan itu.

"Halo?"

"Halo, Dian."

"Ada apa, Bos?"

"Lo izin tidak masuk kerja hari ini?"

Dianthus menatap Rosa yang mengangkat kedua alisnya. "Iya, Bos. Ada apa, ya?"

"Kenapa?"

Dianthus memutar bola matanya.

"Karena saya masih sakit, Bos. Jadi, saya mau izin tidak masuk kerja hari ini. Kemarin banyak yang sadar kalau kondisi saya sedang tidak baik-baik saja. Jadi, saya ingin izin hari ini," jawab Dian sambil berusaha mengubah suaranya agar terdengar seperti orang yang sedang sakit.

"Oh, oke. Baiklah. Kalau begitu, istirahatlah sampai kamu benar-benar sembuh. Salam untuk Rosa dan Tante Melati."

"Baik, Bos. Terima kasih."

Panggilan pun berakhir.

"Siapa, Dian?"

"Bos tempatku bekerja. Dia titip salam untukmu dan Tante juga," jelas Dian.

Rosa hanya mengangguk pelan sebagai respons.

Lihat selengkapnya