Rosa dan Dianthus menuruti saran dokter untuk tidak membebani atau memaksa Melati untuk berbicara tentang kekerasan yang dia alami.
Tapi yang pasti, Melati cerita bukan maling yang melukai dirinya. Setelah itu, Melati hanya diam tidak melanjutkan cerita lagi membuat Rosa sendiri geram.
Keesokan paginya, Rosa dan Dianthus sepakat untuk mencoba berbicara dengan Melati soal kekerasan yang dialaminya semalam. Tapi bingung memulainya dari mana, yang pasti Dianthus melarang Rosa untuk bertanya blak-blakan.
Sehabis Rosa selesai menyuapi Melati sarapan. Dianthus izin untuk membawa Rosa keluar untuk berbicara sebentar. Jadi keduanya keluar dari ruangan Melati dan berbicara di pinggir lorong yang sepi.
"Harus di sini banget ya?" tanya Dianthus, karena perempuan ini memang takut sama lorong.
"Masih aja takut, kebanyakan nonton film hantu sih. Semalam pas lari-lari di tengah jalan kamu tidak takut,"
"Ya itu kan dikejar sama Zain, Ros. Jadi mau tidak mau ya aku lari. Kamu tahu kan aku benci dipaksa sama sepertimu," ucap Dianthus membela dirinya.
"Baiklah, fokus ke topik. Bagaimana ini? Bagaimana caranya bertanya ke mama tanpa harus terkesan blak-blakan nuduh papa?"
"Aku juga tidak tahu Ros, semalam waktu sedikit tapi tante enggak mau jawab."
"Terus gimana sekarang?"
Dianthus mengedipkan bahunya untuk menjawab pertanyaan Rosa.
Tiba-tiba saja ponsel yang dipegang Dianthus berbunyi.
Terlihat nama 'Bos Kafe' dilayar ponselnya.
Dianthus pun mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
"Halo, Dian."
"Ada apa Bos?"
"Kamu izin kerja hari ini?"
Dianthus menatap Rosa yang mengangkat kedua alisnya. "Iya? Ada apa ya, Bos?"
"Kenapa?"
Dianthus memutar bola matanya.
"Karena saya masih pusing, Bos. Jadi saya mau izin tidak masuk kerja hari ini. Kan kemarin banyak yang sadar saya tidak baik-baik aja, jadi saya mau izin hari ini."
"Ouh oke, baiklah. Kalau begitu istirahat sampai kamu benar-benar sembuh. Salam buat Rosa dan tante Melati."
"Baik Bos. Terima kasih."
Panggilan pun berakhir.