Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #24

Nasehat

"Kamu gila, Rosa!" teriak Melati yang tidak habis pikir dengan tindakan putrinya itu.

"Ya! Aku memang gila karena melihat Mama terluka, baik secara fisik maupun batin, terus-menerus! Jadi, aku ingin kita punya kehidupan yang sehat dan keluarga yang sehat! Aku ingin kita hidup bertiga saja tanpa pria yang terus menyakiti Mama! Itulah sebabnya aku melaporkannya ke polisi dan berharap Mama bersedia menjadi saksi korban nanti," jelas Rosa dengan amarah yang menggebu-gebu. Bahunya naik turun akibat emosi yang baru saja dia luapkan.

Melati menggelengkan kepalanya. "Mama tidak mau menjebloskan suami Mama ke jeruji besi. Dia Papamu, Rosa! Dia juga Om kamu, Dian!"

Dian terdiam mendengar teriakan Melati itu. Namun, Rosa yang sudah dikuasai emosi tidak tinggal diam.

"Papa itu cuma sebuah label baginya, tetapi dia tidak pernah menjadi suami yang baik untuk Mama! Dia juga tidak pernah menjadi papa yang baik untukku dan tidak pernah menjadi Om yang baik untuk Dian. Dia selalu bersikap kasar kepada kami!"

"Rosa!" Dianthus menggenggam erat tangan kiri Rosa sebagai isyarat agar dia menghentikan ucapannya.

"Diam!" Rosa menepis tangan Dianthus, lalu berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Melati yang terus meneriaki namanya.

"Rosa!"

"Rosa!"

"Berhenti, Rosa!"

Namun, Rosa terus berjalan hingga menghilang dari pandangan mereka.

"Ros—"

Melati tiba-tiba merasakan kepalanya pusing. Dianthus pun langsung berlari menghampiri tantenya itu.


"Tante! Tante kenapa?" tanya Dianthus sambil memegang bahu tantenya dan memperhatikan ekspresinya yang tampak kesakitan.

Dianthus dengan cepat menekan bel yang berada di samping tempat tidur tantenya.

Beberapa menit kemudian, dokter dan perawat datang. Mereka langsung memberikan penanganan kepada pasien.

Dianthus mundur beberapa langkah dengan wajah cemas.

Setelah berhasil menangani pasien, dokter meminta perawat untuk kembali memeriksa kondisi pasien lebih lanjut. Sementara itu, dia berjalan menghampiri Dianthus dengan wajah tegas.

"Apa yang terjadi pada pasien?" tanya dokter itu dengan suara tenang, tetapi bernada tajam. Ditambah lagi dengan ekspresinya yang serius, hal itu membuat Dianthus semakin cemas.

"Seperti saran Anda, saya dan sepupu saya sepakat untuk jujur kepada Tante hari ini. Jadi, kami berusaha menceritakan semua fakta kepada Tante," jelas Dianthus dengan suara pelan karena dokter itu menatapnya dengan tajam.

"Saya sudah bilang, lihat dulu kondisi pasien! Jika dia masih dalam keadaan lemah, jangan dipaksa! Lihat sekarang!" Dokter itu menunjuk ke arah Melati yang sedang tertidur. "Pasien kembali merasakan traumanya karena kejadian itu diungkit oleh kalian!"

Lihat selengkapnya