"Kamu gila, Rosa!" teriak Melati yang tidak habis pikir dengan tindakan putrinya itu.
"Ya! Aku gila karena melihat Mama terluka fisik maupun batin terus-menerus! Jadi aku ingin kita punya hidup yang sehat dan keluarga yang sehat! Aku ingin kita hidup bertiga saja tanpa pria yang menyakiti Mama itu! Jadi aku melaporkannya ke polisi dan berharap Mama setuju untuk menjadi saksi korban nanti." jelas Rosa dengan amarah yang menggebu-gebu. Bahunya naik turun karena emosi yang dia keluarkan tadi.
Melati menggelengkan kepalanya. "Mama tidak mau menjebloskan suami Mama ke jerusi besi. Dia papamu Rosa! Dia om kamu juga Dian!"
Dian yang terdiam mendengar teriakan Melati itu, tapi tidak dengan Rosa yang sudah emosi.
"Papa itu cuma label untuknya, tapi dia tidak pernah menjadi suami yang baik untuk Mama! Dia tidak menjadi papa yang baik untukku dan dia tidak pernah menjadi om yang baik untuk Dian. Dia selalu galak pada kami!"
"Rosa!" Dianthus memegang erat tangan kiri Rosa sebagai tanda untuk menghentikan mulutnya.
"Diam!" Rosa menepis tangan Dianthus dan berjalan keluar dari ruangan meninggalkan mamanya yang meneriaki namanya.
"Rosa!"
"Rosa!"
"Berhenti Rosa!"
Tapi Rosa terus berjalan hingga lenyap dari pandangan mereka.
"Ros-"
Melati tiba-tiba saja merasakan pening di kepalanya. Dianthus langsung berlari mendekat ke tantenya itu.
"Tante! Tante kenapa?" perempuan itu memegang bahu tantenya dan memperhatikan ekspresinya yang seperti kesakitan.
Dianthus dengan cepat menekan bel yang berada di samping kasur tantenya.
Beberapa menit kemudian, dokter dan perawat datang. Mereka langsung memberikan penanganan untuk pasien.
Dianthus mundur ke belakang dengan wajah cemas.
Setelah berhasil menangani pasien, dokter meminta perawat untuk memeriksa lagi kondisi pasien lebih lanjut. Sementara dia berjalan mendekati Dianthus dengan wajah tegas.
"Apa yang terjadi pada pasien?" suara dokter itu tenang namun nadanya tajam, ditambah dengan ekspresi dokter itu juga membuat Dianthus cemas.