Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #25

Nasehat Lagi

"Dian memang merasa Rosa impulsif saat itu, tetapi sejujurnya Dian mendukung rencananya. Soalnya, Om sudah keterlaluan kepada Tante hingga Tante harus dibawa ke rumah sakit. Ya, kami melakukan visum saat Tante belum sadar, lalu langsung melapor ke polisi. Semalam, polisi sedang memeriksa rumah kami."

"Lalu, kenapa Rosa pergi sampai kamu harus mencarinya seperti ini?"

Dianthus menghela napas lelah sebelum melanjutkan ceritanya.

"Kami membawa Tante sore kemarin. Tante baru sadar pada malam harinya, sekitar pukul sembilan malam. Lalu kami memanggil dokter, dan dokter mengatakan bahwa kondisi Tante saat itu tidak boleh diberi pertanyaan yang menyudutkan atau menekan dirinya. Jadi, kami berencana mengatakan yang sebenarnya hari ini."

"Tadi kami bertanya kepada Tante pelan-pelan, sesuai saran dokter semalam. Aku bertanya dengan sangat hati-hati, Bu. Hanya saja, Rosa sedikit menekan karena tidak kuat melihat Tante tidak mau menjawab, bahkan masih membela Om yang sudah bersikap kasar kepadanya dengan melakukan kekerasan fisik. Hal itu membuat Rosa marah karena, sama seperti Tante Melati, Rosa juga memiliki trauma akibat sikap Om selama ini."

"Ya, alhamdulillah, Dian baik-baik saja selama tinggal bersama mereka, walaupun sering dimarahi Om, Bu."

Wajah perempuan itu tampak jelas dipenuhi kekhawatiran.

"Kamu pasti mengalami banyak hal yang sulit seorang diri, Nak."

Dianthus menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, Bu. Saya punya Tante Melati dan Rosa di sisi saya. Mereka keluarga saya sekarang," jelas Dianthus sambil tersenyum.

"Ibu senang mendengarnya. Tadi kamu bilang kalau kalian berdua sudah memberi tahu Tante Melati tentang visum dan laporan ke polisi, ya?"

Dianthus menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu. Cuma, cara Rosa menyampaikannya memang agak bar-bar. Ya, mungkin karena trauma melihat Tante tidak jujur dan terus membela Om. Entah kenapa Tante tetap membela Om, padahal sudah mengalami kekerasan darinya. Justru hal itu membuat trauma Rosa terpicu. Sekarang Dianthus sedang mencari Rosa yang entah ada di mana."

"Ibu berusaha melihat dari semua sisi. Dari sisi Tante kamu, kita tidak bisa menghakiminya karena dia adalah produk budaya patriarki yang diwariskan secara turun-temurun. Kita juga tidak bisa menghakimi sepupu kamu karena apa yang dia katakan juga benar. Dia adalah salah satu perempuan pemberani yang ingin memutus rantai kekerasan dalam keluarganya. Dia berani menyuarakan pendapatnya demi kehidupan yang bebas dari tekanan dan kekerasan."

Dianthus menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan perempuan itu.

"Benar, Bu. Rosa pernah bercerita kalau selama ini dia mengalami trauma karena perilaku kasar yang dilakukan papanya kepada mamanya. Akibatnya, Rosa jadi tidak bisa menyukai, bahkan menghargai, laki-laki di sekitarnya karena kekerasan yang dia saksikan sepanjang hidupnya."

"Oleh karena itu, aku mendukung Rosa untuk melapor ke polisi. Aku juga sudah mencoba memberi tahu Tante, tetapi trauma Rosa kembali terpicu."

"Iya, Ibu mengerti. Kamu juga sedang mencari Rosa, kan?"

"Iya. Dokter memintaku untuk mencari Rosa dan menasihatinya agar tidak sembarangan berbicara kepada Tante Melati yang baru saja sadar. Padahal, Rosa juga tidak sepenuhnya salah, Bu Lia."

Perempuan yang akrab dipanggil Bu Lia oleh Dianthus itu tersenyum, lalu memberikan nasihat bijak kepada perempuan muda yang tengah kebingungan di hadapannya.

"Kalau begitu, kamu cari Rosa dan berikan dia nasihat. Katakan kepadanya untuk jujur tentang semua hal yang selama ini dia pendam, termasuk tentang dirinya sendiri, traumanya, Tante kamu, dan Om kamu. Minta Tante kamu mendengarkan seluruh perasaan yang selama ini dipendam oleh putrinya. Ibu yakin, jika sepupu kamu jujur tentang trauma yang dialaminya, hal itu bisa menggerakkan perasaan Tante kamu. Sebab, sekuat apa pun doktrin yang diwariskan secara turun-temurun, hati nurani seorang ibu tidak akan bisa dihentikan."

Dianthus sekali lagi menganggukkan kepalanya. "Terima kasih atas pencerahannya, Ibu. Akhirnya Dian tahu apa yang harus Dian lakukan selanjutnya."

"Sama-sama, Anakku." Bu Lia mengusap kepala Dianthus dengan penuh kasih sayang.

Lihat selengkapnya