"Aku memang merasa Rosa implusif saat itu, tapi jujur saja aku mendukung rencananya. Soalnya om sudah keterlaluan banget sama tante sampai tante harus dibawa ke rumah sakit. Ya, kami melakukan visum saat tante belum sadar dan langsung lapor polisi. Semalam polisi sedang memeriksa rumah kami,"
"Lalu, kenapa Rosa pergi sampai kamu harus mencarinya seperti ini?"
Dianthus menghela napas lelah sebelum melanjutkan ceritanya.
"Kami membawa tante sore, dia baru sadar malam harinya sekitaran jam sembilan malam. Lalu kami panggil dokter dan dokter bilang posisi tante saat itu tidak bisa diberikan pertanyaan yang menyudut atau menekan dirinya. Jadi kami rencananya akan jujur hari ini. Kami tadi bertanya pada tante pelan-pelan seperti saran dokter semalam, aku bertanya dengan hati-hati banget, Bu. Cuma Rosa sedikit menekan karena tidak kuat melihat tante tidak mau menjawab, bahkan membela om yang sudah bersikap kasar pada dirinya dengan main fisik. Itu membuat Rosa marah, karena sama seperti tante Melati... Rosa juga punya trauma akibat sikap om selama ini. Ya, Alhamdulillah saya baik-baik saja selama tinggal dengan mereka walau sering kena marah sama om. Bu,"
Wajah perempuan itu jelas sekali khawatirnya. "Kamu pasti mengalami hal-hal yang sulit sendiri. Nak,"
Dianthus menggelengkan kepalanya. "Enggak kok Bu, saya punya tante Melati dan Rosa di sisi saya. Mereka keluarga saya sekarang," jelas Dianthus sambil tersenyum.
"Ibu senang mendengarnya. Tadi kamu bilang kalau kalian berdua sudah cerita tante Melati tentang visum, terus polisi ya?"
Dianthus menganggukkan kepalanya. "Iya Bu, cuman Rosa ceritanya agak bar-bar. Ya, mungkin trauma melihat tante tidak jujur dan membela om banget. Tidak tahu kenapa tante belain om padahal sudah mendapatkan kekerasan dari om. Tapi itu justru membuat Rosa ketrigger deh. Dianthus sekarang lagi nyari Rosa yang entah ada di mana,"
"Ibu berusaha berdiri di semua sisi. Di sisi tante kamu, kita tidak bisa menghakiminya...karena dia adalah produk patriarki turun-temurun. Kita juga tidak bisa menghakimi sepupu kamu...karena apa yang dia katakan itu juga benar. Dia adalah salah satu perempuan berani yang ingin memutuskan rantai kekerasan dalam keluarganya. Dia menyuarakan pendapatnya untuk kehidupannya yang jauh dari tekanan dan kekerasan."
Dianthus menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan perempuan itu.
"Benar, Bu. Rosa cerita kalau dia selama ini mengalami trauma, karena perilaku kasar yang dilakukan papanya pada mamanya. Rosa juga jadi tidak bisa menyukai bahkan menghargai laki-laki di sekitarnya...karena kekerasan yang dia saksikan sepanjang hidupnya,"
"Oleh karena itu, aku mendukung Rosa untuk melapor polisi. Aku juga mencoba memberitahu tante tapi Rosa ketrigger,"
"Iya Ibu mengerti. Kamu juga mencari Rosa, kan?"
"Iya, dokternya memerintahku untuk mencari Rosa dan memberikannya nasehat agar tidak sembarangan berbicara dengan tante Melati yang baru saja bangun. Padahal Rosa tidak selalu salah Bu Lia,"
Perempuan yang akrab dipanggil bu Lia oleh Dianthus itu tersenyum dan memberikan nasehat bijak untuk perempuan muda yang tengah kebingungan di depannya ini.
"Kalau begitu, kamu cari Rosa dan berikan dia nasehat. Kamu bilang padanya untuk jujur tentang semua hal yang selama ini dia pendam tentang dirinya sendiri, traumanya, tentang tante kamu dan om kamu. Minta tante kamu mendengarkan seluruh perasaan yang dipendam oleh putrinya selama ini. Ibu yakin, jika sepupu kamu jujur tentang traumanya. Itu bisa menggerakkan perasaan tante kamu, karena mau doktrin turun-temurun sekali pun tidak bisa menghentikan hati nurani seorang ibu."
Dianthus sekali lagi menganggukkan kepalanya. "Terima kasih atas pencerahannya, Ibu. Akhirnya Dian tahu apa yang harus Dian lakukan selanjutnya,"