Lima hari telah berlalu sejak Tante Melati dirawat di rumah sakit. Lima hari pula telah berlalu sejak kejadian itu. Hasil visum pun berhasil mereka peroleh dua hari yang lalu.
Kini, mereka bertiga memilih tinggal di rumah kos untuk sementara waktu karena rumah mereka disita sebagai barang bukti.
Mereka menjalani hari-hari dengan penuh ketenangan dan kedamaian.
Tidak ada lagi yang membuat mereka takut. Tidak ada lagi yang membuat mereka terluka.
Tante Melati merasa lebih hidup. Rosa dan Dianthus belum pernah melihat perempuan itu seceria dan secerah ini. Rosa pun baru melihat sisi lain dari perempuan yang telah melahirkannya.
Selama ini, Rosa memang sering melihat senyum mamanya. Namun, senyum itu lebih sering tampak sebagai senyum yang getir dan penuh kepura-puraan.
Akan tetapi, senyum yang dilihatnya sekarang adalah senyum Melati yang paling indah. Senyum yang baru pertama kali ia saksikan, senyum mamanya yang benar-benar memancarkan kehidupan.
Pagi ini, Melati menyiapkan sarapan untuk Dian dan Rosa. Menu sarapan yang ia sajikan adalah roti panggang dengan dua pilihan rasa selai.
Melati menyiapkan sarapan sambil bersenandung dengan riang. Senyum manis pun tak pernah lepas dari wajahnya.
Senandung Melati membuat kedua gadis muda yang sedang asyik berbincang menoleh ke arahnya.
Mereka saling menoleh, lalu sama-sama tersenyum. Keduanya senang melihat perubahan yang terjadi pada Melati.
"Keputusan kita pindah ke rumah kos ini memang tepat," ucap Dianthus membuka percakapan pada pagi itu.
Rosa pun menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.
"Ya, kamu benar, Dian!" serunya sambil tersenyum.
Rosa menoleh kepada Melati yang masih sibuk memanggang roti sambil tersenyum.
"Kita akhirnya bisa melihat seorang perempuan yang biasanya lebih sering membentak kami daripada menasihati dengan lembut. Ternyata, dia memiliki senyum seindah bidadari surga," goda Rosa dengan senyum lebar.
"Kamu, ya!" Melati membalas godaan putrinya itu dengan wajah cemberut. Namun, beberapa detik kemudian, ia tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Rosa kemudian menatap Dianthus yang sedang menikmati rotinya.
"Kamu masuk kerja hari ini, Dian?" tanya Rosa.
Dianthus menoleh kepada sepupunya. "Iya. Apalagi, aku sudah izin hampir lima hari. Gajiku bakal dipotong lagi sama bos pelit itu!" jawab Dianthus dengan nada malas.
Rosa menahan tawa. "Kok bisa?"