Sore harinya, Dianthus selesai berkerja dan tengah berjalan pulang.
Selama tinggal di kos-kosan bu Lia ini, Dianthus ikut membantu guru mengajinya itu untuk mengajar anak-anak mengaji.
Dia sudah lakukan hal itu selama dua hari, di mana dia ditahan Melati untuk tidak bekerja. Sampai berujung gajinya bulan depan dipotong sama pemilik kafe tempat dia bekerja.
Sekarang Dianthus berjalan menuju rumah bu Lia, untuk membantu beliau mengajar anak-anak mengaji.
Dianthus berdiri di dekat pintu rumah yang terbuka.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Ibu Lia berjalan keluar rumah dan melihat ada Dianthus yang berdiri dekat pintu rumah yang sengaja dibuka lebar.
"Eh, Dian! Ayo masuk! Anak-anak sudah pada datang," ucap perempuan paruh baya itu.
Dianthus menganggukkan kepalanya dan ikut masuk ke dalam mengikuti bu Lia.
Di dalam sudah ada anak-anak yang ingin diajari mengaji oleh ibu guru Lia.
"Assalamualaikum, anak-anak!" seru ibu Lia kepada anak-anak itu.
Mereka pun serempak menjawab.
"Waalaikumsalam, Ibu Guru Lia!"
"Nah, karena di sini juga ada kak Dianthus yang membantu kalian, lalu kalian juga sudah hadir semua di sini. Jadi, kita akan memulai sesi belajar mengajinya. Kalian siap?"
"Siap!" jawab mereka bersama-sama membuat guru Lia dan Dianthus tertawa.
Kedua perempuan berbeda umur pun segera melakukan tugasnya masing-masing, yaitu mengajari anak-anak itu mengaji.
Dari yang baru belajar iqro sampai belajar Alquran.
Khusus iqro, akan diajari oleh Dianthus.
Khusus Alquran, akan diajari oleh Ibu Lia.