Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #30

Ruang Interogasi

Dianthus dan Melati segera berlari ke luar rumah.

Di luar rumah, mereka mendapati Rosa sedang menunjuk seseorang yang mereka kenal.

Mata Dianthus terbelalak saat melihat seorang pria mengenakan pakaian serba hitam, berupa celana, kaus, dan jaket. Di sampingnya terparkir sebuah mobil sedan berwarna hitam di depan rumah kos mereka.

"Lo siapa? Kenapa lo ada di depan rumah gue? Lo penguntit, ya?" Rosa melontarkan pertanyaan bertubi-tubi kepada Ezra yang hanya diam menatapnya.

Tidak lama kemudian, mata Ezra menangkap sosok Dianthus yang baru saja keluar dari rumah.

"Dian!" sapanya sambil tersenyum.

Rosa menoleh ke belakang. Dia melihat Dianthus dan mamanya keluar dari rumah.

"Dian! Kamu kenal orang ini?" tanya Rosa sambil menunjuk pria yang berdiri di hadapannya.

Melati segera berjalan cepat menghampiri Rosa. Ia menurunkan tangan Rosa yang menunjuk Ezra dengan tidak sopan. "Kamu ini! Jangan menunjuk orang sembarangan seperti itu!"

Kemudian, Melati menatap Ezra. "Maafkan putri Tante yang tidak sopan ini, Nak."

Ezra yang semula menatap Rosa dengan wajah datar langsung tersenyum tipis kepada Melati.

"Tidak apa-apa, Tante," balas Ezra dengan nada sesopan mungkin.

"Lalu, kenapa Anda di sini, Ezra?" tanya Dianthus sambil berjalan menghampiri mereka.

Senyum Ezra semakin lebar saat melihat Dianthus mendekatinya.

"Saya di sini untuk mengantar kalian ke kantor polisi," jawab Ezra.

Ketiga perempuan itu terkejut mendengar Ezra mengetahui bahwa mereka hendak pergi ke kantor polisi.

"Kok lo tahu kita mau pergi ke kantor polisi?" tanya Rosa dengan nada penuh selidik.

"Lo kayaknya benar-benar penguntit, ya?" tuduh Rosa sambil melotot.

Kemudian, Rosa menoleh kepada Melati yang berdiri di sebelahnya. "Dia siapa sih, Ma? Mama dan Dian kenal sama dia?"

"Dia orang yang akan dijodohkan dengan Dian, Ros," bisik Melati kepada putrinya.

"Oh! Jadi lo penguntitnya Dian?" Rosa kembali menuduh Ezra.

"Rosa!" seru Melati sambil melototi putrinya, seakan menyuruhnya diam.

Ia kemudian menatap Ezra dengan rasa bersalah.

Lihat selengkapnya