Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #32

Alasan

Semakin hari, hubungan Ezra dan Dianthus semakin dekat. Setiap hari, Ezra selalu mengantar dan menjemput Dianthus saat bekerja.

Bahkan panggilan mereka untuk satu sama lain juga berubah. Dari Anda-Saya ke Kamu-Aku.

Bahkan, rekan-rekan kerja Dianthus juga sudah mengetahui bahwa sosok Ezra adalah calon tunangannya. Mereka semua heboh, termasuk para karyawan perempuan. Mereka tidak menyangka bahwa Dianthus ternyata sudah memiliki kekasih dan sebentar lagi akan menikah.

Dianthus merasa kesal dengan rumor yang tidak benar itu. Namun, ia juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena hal tersebut menyangkut privasi kedua keluarga.

Malam harinya, setelah menjemput Dianthus yang baru selesai bekerja pada shift malam, Ezra melihat perempuan itu bersandar di kursi mobil karena kelelahan.

Setelah menjemput Dianthus pulang bekerja pada malam hari, Ezra mengajak perempuan itu mampir ke salah satu rumah makan yang masih buka.

Dianthus menyetujui ajakan tersebut karena ia juga merasa sedikit lapar.

"Bagaimana kalau kita mampir ke salah satu rumah makan?" tanya Ezra kepada Dianthus.

Dianthus langsung menoleh, seolah mendapatkan energi baru ketika mendengar kata makanan.

"Makan? Boleh-boleh. Kebetulan aku juga lapar."

Ezra tertawa kecil mendengar keluhan Dianthus.

Akhirnya, mobil yang dikendarai Ezra berhenti di sebuah rumah makan bernama Rumah Makan Pak Haji Karsono, salah satu rumah makan yang cukup ramai di daerah tersebut.

Setelah mematikan mesin mobil, Ezra segera membantu Dianthus melepaskan sabuk pengamannya, lalu ia melepaskan sabuk pengamannya sendiri.

Mereka masuk ke dalam rumah makan dan melihat beberapa pelanggan sedang duduk di meja masing-masing.

"Kita di sana saja," ujar Dianthus sambil menunjuk sebuah meja kosong yang letaknya cukup jauh dari pelanggan lain.

"Baiklah."

Akhirnya, keduanya berjalan menuju meja tersebut. Setelah duduk berdampingan, Ezra mengangkat tangan untuk memanggil salah satu pelayan yang kemudian berjalan mendekati mereka.

"Mau pesan apa, Mbak, Mas?" tanya pelayan perempuan itu.

Ezra dan Dianthus melihat daftar menu untuk memilih makanan yang akan mereka pesan.

"Saya mau bakso, ya, Mbak," jawab Dianthus.

Pelayan itu mencatat pesanan Dianthus, lalu beralih menatap Ezra.

"Samakan saja dengan calon istri saya," jawab Ezra, membuat Dianthus tersipu malu dengan wajah yang memerah.

Pelayan itu pun spontan menutup mulutnya dengan buku catatan. Ia kembali mencatat pesanan sambil tersenyum salah tingkah, seperti sedang menyaksikan drama romantis.

"Baiklah, Mas dan calon istrinya. Tunggu, ya. Pesanan akan segera datang."

Pelayan itu pergi sambil menahan rasa salah tingkah karena pasangan tersebut.

Dianthus langsung memukul bahu Ezra dengan wajah kesal. Sementara itu, Ezra justru tertawa sambil menatap wajah Dianthus yang terlihat kesal.

"Kenapa?" tanya Ezra dengan senyuman jahilnya.

Dianthus tidak menjawab. Ia justru membuka tasnya untuk mengambil ponsel.

Lihat selengkapnya