Ezra membawa Dianthus keluar dari kantor polisi. Dia membawa perempuan itu duduk di salah satu kursi yang berada di taman depan kantor polisi.
"Pelan-pelan duduknya," ucap Ezra pada Dianthus.
"Tunggu di sini ya, aku mau beli minuman dulu. Ya?" Dianthus menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Ezra pergi meninggalkan Dianthus untuk mencari minuman di warung-warung terdekat di kantor polisi.
Sambil menunggu Ezra membeli minuman, Dianthus hanya duduk diam sesuai perintah Ezra.
Namun, seseorang memanggil Dianthus membuat dia menoleh.
"Nona?" Dianthus menoleh pada orang yang memanggilnya.
"Eh, kamu petugas yang membantu saya lima hari yang lalu itu ya?" ucap Dianthus yang ingat wajah orang di depannya itu.
Dia menganggukkan kepalanya. "Benar, Nona. Saya yang membantu Anda beberapa hari yang lalu. Tapi, Anda sedang apa di sini?"
"Pagi tadi ada telepon dari sini bilang om saya yang melakukan kekerasan pada tante saya sudah ditangkap. Jadi kami diminta ke sini,"
"Oh, tapi kenapa Anda keluar duduk di sini, tidak di dalam?"
"Oh, itu karena saya tidak tahan di dalam. Jadi saya dibawa keluar dan duduk di sini,"
"Oh, begitu. Oh ya, perkenalkan Nona. Saya adalah adalah Frin,"
"Saya Dianthus, panggil saja Dian. Terima kasih atas bantuan Anda tentang koper-koper saya beberapa hari yang lalu,"
"Oh, tidak perlu sampai segitunya. Itu sudah menjadi tugas saya,"
"Dian!" panggil Ezra membuat Dianthus menoleh, petugas muda bernama Frin itu juga menoleh.
"Ezra,"
Laki-laki itu mendekat dan memberikan sebotol air minum pada Dianthus. Perempuan itu menerima botol itu, kemudian dia duduk di kursi.
Ezra menatap Frin dengan tatapan datarnya. "Anda siapa?"
"Oh, saya adalah Frin, salah satu petugas muda di kantor polisi ini. Tuan," petugas muda itu mengulurkan tangannya.
"Oh, begitu. Perkenalkan, saya adalah calon tunangan Dianthus," Dianthus yang sedang minum hampir saja menyemburkan air di mulutnya karena mendengar ucapan Ezra.
Ezra menjabat tangan Frin dengan senyuman formal, sedangkan Frin sendiri terkejut dengan perkenalan Ezra.
Setelah tangan mereka terlepas, Frin merasa dia tidak diinginkan di tempat itu. Dia segera pamit undur diri.
Ezra melihat Frin pergi, lalu menghilang dari pandangannya. Dia langsung duduk di samping Dianthus.
Dianthus menepuk bahu Ezra dengan cukup keras.
"Kenapa kamu malah memperkenalkan diri sebagai calon tunanganku?"
Ezra dengan tetap mempertahankan wajah datarnya menjawab. "Memangnya kenapa? Kita kan memang calon tunangan, sebentar lagi kita akan ditunangan lalu menikah."
Ezra menjawab dengan santai sekali, sementara wajah Dianthus memerah karena mendengar ucapan itu.
"Diam!"