Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #33

Meminta Nasehat

Dianthus duduk di antara dua sujud. Kemudian, ia mengucapkan salam ke kanan dan kiri.

Ia mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.

"Hanya kepada-Mu hamba meminta pertolongan atas pertanyaan yang memenuhi pikiran dan hati hamba ini, ya Allah."

"Apa yang harus hamba lakukan selanjutnya? Hamba baru mengetahui alasan dia mencintai hamba, alasan mengapa dia menerima hamba apa adanya. Begitu pun dengan keluarganya. Namun, hamba masih bingung, ya Allah. Apakah yang hamba lihat kemarin benar-benar pernah hamba alami, atau itu hanyalah bunga tidur biasa? Jika itu hanya bunga tidur dan mimpi, mengapa rasanya begitu nyata? Mengapa orang-orang di dalam mimpi hamba terasa begitu nyata, terutama Ezra?"

"Tolong bantu hamba, ya Allah."

Keesokan harinya, Dianthus yang sedang libur bekerja datang mengunjungi mantan gurunya yang telah mendidiknya, Ibu Lia.

"Assalamualaikum, Bu Lia!" panggil Dianthus dengan lembut.

"Waalaikumsalam. Eh, Dian!" seru Bu Lia yang langsung mendekati Dianthus dan memeluknya.

"Ya Allah, Nak. Akhirnya kamu berkunjung juga. Sudah lama Ibu menunggu kedatanganmu ke sini," jelas Ibu Lia sambil mengajak Dianthus masuk ke dalam rumahnya.

Dianthus duduk di sofa ruang tamu rumah Ibu Lia. Ia menatap sekeliling rumah.

"Ibu sendirian saja? Bapak mana?"

Ibu Lia duduk di samping Dianthus sambil tersenyum.

"Bapakmu sedang ada pekerjaan dan baru saja keluar, jadi Ibu sendirian di rumah. Kebetulan sekali kamu mampir, jadi Ibu memiliki teman."

Dianthus tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai tanda jawaban.

"Kalau begitu, Dian tidak mengganggu, ya?" tanya Dianthus kepada Ibu Lia.

"Oh, jelas tidak! Karena kamu ada di sini, Ibu jadi tidak merasa kesepian," jawab Ibu Lia.

"Iya, Bu."

Kemudian, Ibu Lia berdiri dari tempat duduknya, membuat Dianthus merasa heran.

"Kenapa, Bu?" tanya Dianthus ketika Ibu Lia sudah berdiri.

"Ibu izin ke dapur dulu, ya. Ibu mau membuat minuman untuk kamu," jawab Ibu Lia kepada Dianthus.

"Enggak usah repot, Bu!" Dianthus menahan tangan Ibu Lia agar tidak pergi.

"Eh, kamu tamu, jadi harus Ibu layani. Terlebih lagi, Ibu rasa kita akan mengobrol panjang lebar. Kamu pasti punya banyak pertanyaan, kan?"

Ibu Lia seakan bisa menebak isi hati Dianthus, membuat perempuan itu terkejut.

Ibu Lia tersenyum melihat reaksi Dianthus. "Benar, kan? Sudah, Ibu ke belakang dulu, ya?"

Dianthus yang tidak memiliki pilihan lain langsung menganggukkan kepala sebagai jawaban.

Ibu Lia pun pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Dianthus. Sementara itu, Dianthus menunggu di ruang tamu sambil membuka ponselnya.

Setelah menunggu beberapa menit, Ibu Lia kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan di kedua tangannya.

Dianthus dapat melihat bahwa di atas nampan tersebut terdapat dua gelas jus jeruk yang terlihat segar dan dua toples camilan.

"Enggak perlu repot-repot sampai membawa camilan, Ibu," tegur Dianthus sambil membantu Ibu Lia meletakkan gelas dan toples camilan di atas meja.

"Baiklah, semuanya sudah siap. Kamu bisa minum es jeruk dan menikmati camilan ini. Es jeruk dan biskuit cocok, bukan?"

Dianthus tersenyum, lalu keduanya mulai menikmati camilan dan minuman masing-masing.

"Sekarang, kita bisa mengobrol. Bagaimana keadaan Melati? Apakah dia sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Ibu Lia membuka percakapan.

Lihat selengkapnya