Semakin hari, Ezra dan Dianthus semakin dekat. Setiap hari Ezra selalu mengantar dan menjemput Dianthus bekerja.
Bahkan rekan-rekan kerja Dianthus juga sudah tahu kalau sosok Ezra itu adalah calon tunangan Dianthus. Mereka semua heboh termasuk karyawan-karyawan perempuan. Mereka tahu kalau Dianthus ternyata telah memiliki kekasih dan sebentar lagi akan menikah.
Dianthus kesal karena rumor tidak benar itu, tapi dia tidak bisa jujur juga karena ini menyangkut privasi kedua keluarga.
Malam harinya, setelah menjemput Dianthus yang selesai bekerja di shift malam. Dianthus bersandar pada kursi mobil karena kelelahan bekerja.
Setelah menjemput Dianthus pulang kerja di malam harinya, Ezra mengajak perempuan itu untuk mampir ke salah satu warung makan yang masih buka.
Dianthus setuju untuk mampir ke warung makan, karena dia juga merasakan sedikit lapar.
"Gimana kalau kita mampir ke salah satu rumah makan?" tanya Ezra pada Dianthus.
Dianthus langsung menoleh seakan mendapatkan energi ketika mendengar makanan. "Makan? Boleh-boleh, kebetulan aku juga lapar."
Ezra tertawa kecil mendengar keluhan Dianthus itu.
Akhirnya mobil yang dikendarai Ezra berhenti di warung makan bernama Rumah Makan Pak Haji Karsono. Salah satu rumah makan yang ramai di daerah sana.
Mobil berhenti, Ezra mematikan mesin mobilnya. Dia segera membantu Dianthus untuk membuka sabuk pengaman, lalu membuka sabuk pengamannya sendiri.
Mereka masuk ke dalam dan melihat ada beberapa pelanggan yang duduk di beberapa meja.
"Kita di sana saja," tunjuk Dianthus ke satu meja yang kosong dan letakknya lumayan jauh dari pelanggan lain.
"Baiklah."
Akhirnya, keduanya berjalan menuju meja yang kosong itu. Setelah mereka duduk bersampingan, Ezra mengangkat tangannya kepada salah satu pelanggan yang langsung berjalan mendekati mereka.
"Mau mesan apa Mbak, Mas?" tanya pelayan perempuan itu.
Ezra dan Dianthus melihat makanan apa saja yang ada dalam daftar menu.
"Saya mau bakso ya Mbak," jawab Dianthus. Pelayan itu mencatat pesanan Dianthus, lalu dia menoleh ke Ezra.
"Samakan saja dengan calon saya," jawab Ezra membuat Dianthus malu dengan wajah merona.
Pelayan itu juga spontan menutup mulutnya dengan buku catatan. Dia kembali mencatat dengan senyuman salting seperti menonton drama romantis.