Beberapa minggu kemudian, Dianthus tampak duduk di sofa ruang tamu bersama Melati dan Rosa.
Mereka sedang menunggu kedatangan Vian, selaku pengacara Melati, yang akan mewakili mereka dalam persidangan perceraian antara kedua orang tua Rosa.
Awalnya, mereka ingin menghadiri persidangan tersebut. Namun, Rosa menahan mereka.
Hari ini adalah sidang terakhir.
Beberapa minggu sebelumnya, mereka sempat berkumpul untuk membahas jalannya persidangan perceraian itu.
Di sana telah berkumpul Ezra, Dianthus, Vian, Tante Melati, Rosa, serta beberapa bawahan Vian yang turut membantu menangani perkara perceraian ini.
"Bagaimana kalau Tante ikut saja?" tanya Melati kepada mereka.
Mereka serentak menoleh ke arah Melati dengan raut wajah bingung dan terkejut.
"Tidak!" seru Rosa dengan nada tegas.
"Untuk apa Mama datang ke pengadilan? Mau melihat orang itu? Tidak perlu! Yang kita butuhkan hanya perceraian Mama dengan orang itu. Lagi pula, tidak ada harta gono-gini yang harus dibagi karena orang itu memang tidak meninggalkan apa pun untuk kita. Setelah itu, kita juga akan terbebas dari semua utang yang dia buat."
"Sayang, jangan begitu. Bagaimanapun juga, dia papamu," tegur Melati kepada putrinya.
Rosa langsung cemberut setelah mendapat teguran itu.
Sementara itu, yang lain hanya terdiam menyaksikan perdebatan antara ibu dan anak tersebut, kecuali Dianthus.
"Tante, menurutku, yang Rosa bilang itu benar. Sebaiknya Tante tidak usah ikut ke pengadilan. Cukup diwakilkan oleh pengacara saja," ujar Dianthus, turut menyampaikan pendapatnya.
Rosa tersenyum penuh kemenangan karena Dianthus membelanya. Ditambah lagi, mamanya tampak pasrah setelah Dianthus memintanya untuk tetap tinggal di rumah.
"Baiklah," jawab Melati.
"Jangan khawatir, Bu. Saya pastikan Anda akan memenangkan persidangan ini," ucap Vian, berusaha meyakinkan Melati.
Melati tersenyum mendengarnya. "Terima kasih banyak."
Vian membalas dengan senyuman sambil menganggukkan kepala. "Sama-sama."
Tanpa disadari oleh siapa pun, pandangan Vian dan Rosa saling bertemu cukup lama.
Rosa diam-diam tersenyum saat mengingat momen itu, membuat Dianthus merasa heran.
"Kenapa senyum-senyum sendiri begitu? Memangnya ada yang lucu?" tanya Dianthus ketika Rosa baru tersadar dari lamunannya.
"Ah, tidak kok! Cuma senyum saja," jawab Rosa agak gelagapan karena Dianthus mulai menaruh curiga kepadanya.
Dianthus masih penasaran dengan alasan sepupunya yang terkenal cukup bar-bar itu tiba-tiba tersenyum sendiri seperti tadi. Namun, perhatiannya langsung teralihkan ketika Melati tiba-tiba berbicara.
"Seharusnya Tante ikut saja ke persidangan ini, Dian," ucap Melati, membuat kedua gadis muda di sebelahnya serentak menoleh ke arahnya.