Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #36

Firasat Buruk

Vian segera berdiri dari duduknya, lalu mengangkat panggilan telepon itu.

Melati dan Dianthus mengobrol tentang persidangan yang tadi diceritakan oleh Vian. Mereka juga membahas Ezra yang sedang sibuk saat ini. Sementara itu, Rosa justru sibuk memperhatikan Vian yang entah sedang berbicara dengan siapa melalui telepon.

Rosa sedikit cemberut melihat Vian tersenyum dan tertawa karena entah apa yang dikatakan oleh orang di seberang telepon.

Akhirnya, Vian selesai berbicara melalui telepon. Ia langsung berjalan menuju sofa tempat yang lain masih duduk. Rosa pun segera menoleh ke arah Melati dan Dianthus, seolah-olah sejak tadi ia mendengarkan obrolan mereka.

"Maaf sebesar-besarnya, Bu Melati, Nona Dian, dan Nona Rosa. Saya tidak bisa berlama-lama di sini dan harus segera pergi," ucap Vian dengan nada menyesal. Ia masih berdiri di dekat sofa tunggal yang diduduki Melati.

Melati, Dianthus, dan Rosa pun segera berdiri dari tempat duduk mereka.

"Ah, iya, tidak apa-apa, Nak. Tapi kenapa? Apa ada masalah?" tanya Melati yang seketika merasa khawatir.

Vian tertawa kecil. "Tidak ada masalah apa-apa, Bu Melati. Rio, anak saya, tadi menelepon. Dia meminta saya segera pulang karena ingin jalan-jalan bersama saya. Kebetulan saya juga sedang tidak ada pekerjaan hari ini, jadi saya ingin pamit," jelas Vian, yang berhasil mengusir rasa khawatir Melati.

Melati menutup mata sambil tersenyum. "Baiklah kalau begitu, Nak Vian. Mari, saya antar sampai ke depan," ucap Melati.

Vian mengangguk.

Melati langsung mengantar Vian hingga ke depan rumah.

Dianthus menahan Rosa agar tidak ikut ke depan.

"Kenapa?"

"Kamu tidak perlu ikut mengantar. Duduk saja di sini."

Dianthus sedikit memaksa Rosa untuk duduk kembali di sofa. Setelah itu, ia juga duduk di samping Rosa.

Beberapa menit kemudian, Melati kembali dari depan rumah dan duduk lagi di sofa tunggal.

Kali ini, ia duduk tegak sambil menatap tajam putrinya sendiri.

"Apa maksud pelukan tadi?" Melati mulai bertanya kepada Rosa dengan nada tajam.

"Ma—"

"Jawab!" seru Melati, membuat Dianthus dan Rosa terkejut.

"Kenapa kamu memeluknya seperti itu, Rosa? Itu tidak sopan!"

"Aku enggak bermaksud begitu, Ma. Itu... hanya pelukan akrab saja, tidak lebih," jawab Rosa dengan sedikit gelagap.

Melati memperhatikan setiap gerak-gerik putrinya itu. "Benarkah?"

Rosa tanpa sadar menelan ludahnya. "Iya."

Melati mengembuskan napas panjang.

"Kamu yakin?"

Rosa dan Dianthus sama-sama tampak heran mendengar pertanyaan Melati.

"Apa maksud Mama?" tanya Rosa.

"Dia seorang duda. Kamu yakin?"

"Apa maksud Mama? Memangnya kenapa kalau dia duda? Memangnya duda tidak boleh jatuh cinta dan menjalin hubungan?" tanya Rosa dengan nada yang sedikit tidak terima.

"Bukan itu masalahnya, Rosa! Dengarkan Mama dulu. Dia duda dengan satu anak. Dia memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Apa kamu siap menjadi istri sekaligus ibu bagi anak suamimu? Menjadi ibu bagi anak yang bukan darah dagingmu sendiri, anak dari pernikahan suamimu dengan perempuan lain. Apa kamu siap?" jelas Melati panjang lebar kepada Rosa.

Rosa terdiam mendengar penjelasan perempuan yang telah melahirkannya itu. Ia perlahan menundukkan kepala.

"Pikirkan lagi, sayangku. Mama tidak melarang kamu dan Vian saling mencintai, tetapi tolong pikirkan semuanya dengan matang. Kamu bukan hanya harus masuk ke dalam kehidupan Vian, tetapi juga ke dalam kehidupan putranya, Rio. Kamu harus mampu menjalin kedekatan dengan anak itu agar dia bisa menerimamu sebagai ibu barunya. Selain itu, kamu juga harus menjadi ibu yang baik baginya. Terlebih lagi, sejak dulu kamu tidak terlalu menyukai anak kecil, bukan? Kamu berbeda dengan Dian. Kamu juga belum pernah benar-benar berinteraksi dengan Rio."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rosa berdiri dari duduknya, lalu berlari menuju kamarnya.

"Rosa!" seru Melati memanggil putrinya.

"Rosa!"

Dianthus menahan Melati yang hendak menyusul Rosa.

Lihat selengkapnya