Dianthus: Kesempatan Kedua

Azalea Rhododendron
Chapter #37

Kejujuran

Dianthus dan Ezra memasuki sebuah kafe.

Dianthus mengamati sekeliling kafe, lalu menemukan mantan kekasihnya sedang duduk di salah satu meja.

Dianthus menatap Ezra, yang juga sedang memandang mantan kekasihnya itu. Beberapa saat kemudian, Ezra mengalihkan pandangannya dan membalas tatapan Dianthus setelah mantan kekasihnya menoleh ke arah mereka.

"Kamu yakin? Mau aku temani?" tanya Ezra kepada Dianthus.

Dianthus menggelengkan kepala. "Aku bisa sendiri," jawabnya.

Ezra menganggukkan kepala. Setelah itu, mereka pun berpisah. Ezra duduk di salah satu meja kosong dekat jendela kafe, lalu langsung memesan minuman kepada salah seorang pelayan.

Sementara itu, Dianthus berjalan menuju meja tempat mantan kekasihnya duduk.

"Halo! Maaf baru datang. Sudah menunggu lama?"

Zain, yang sejak tadi memang memandangi Dianthus, tersenyum. "Tidak apa-apa."

"Silakan duduk, Dian."

Dianthus pun duduk di hadapan Zain.

Zain sempat menoleh ke arah Ezra yang mengawasi mereka dari meja lain.

"Kamu sekarang dekat dengannya, ya?"

Dianthus memahami maksud pertanyaan Zain itu.

"Benar, kami semakin dekat sekarang. Lalu, bagaimana denganmu? Masih bersama perempuan itu, kan?" tanya Dianthus kepada Zain.

"Kami juga semakin dekat," jawab Zain.

"Baguslah."

Senyum di wajah Zain perlahan memudar. Ia menatap Dianthus dengan raut penuh penyesalan.

"Maaf karena telah menyakitimu, Dian," ucap Zain dengan wajah bersalah.

Dianthus tersenyum mendengarnya. "Tidak apa-apa, Zain. Namanya juga tidak berjodoh. Entah kamu melakukannya dengan sengaja ataupun tidak, itu menjadi salah satu bukti bahwa kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama."

Zain mengangguk.

"Ya, setidaknya kamu tidak memaksakan diri seperti mantan-mantan orang."

Zain tertawa mendengar ucapan itu. "Aku yang salah, jadi aku harus menerima konsekuensi kehilanganmu. Kamu juga terlihat bahagia dengan pilihanmu. Untuk apa aku memaksakan kehendakku kepadamu?"

Dianthus tersenyum mendengarnya. Ia mengembuskan napas lega.

"Kamu benar."

Wajah Zain kini tampak lebih lembut saat menatap Dianthus.

"Aku tahu aku bukan pria yang baik untukmu. Aku sering bersikap cuek dan jarang membantumu. Namun, aku berterima kasih karena kamu selalu baik kepadaku. Kamu selalu sabar dan juga membantuku menyelesaikan masalah."

"Iya, sama-sama. Aku juga berterima kasih atas semua kebaikanmu selama ini. Jangan lupa datang ke pernikahanku nanti."

Zain menganggukkan kepala. "Pasti, Dian. Selamat berbahagia."

Pria itu mengulurkan tangan kepada Dianthus. Dianthus pun menyambutnya dengan menjabat tangan Zain.

"Kamu juga," balas Dianthus, lalu langsung berdiri dari duduknya.

"Kamu tidak mau minum sebentar?" tanya Zain sambil memperhatikan Dianthus.

Dianthus menggelengkan kepala. "Tidak perlu. Aku juga punya urusan dengan Ezra. Duluan, ya," ucap Dianthus.

Zain menganggukkan kepala.

Melihat Dianthus berdiri dan berjalan menghampirinya, Ezra langsung berdiri dan mendekatinya.

"Sudah selesai?" tanya Ezra.

Dianthus mengangguk sebagai jawaban.

Lihat selengkapnya