Ezra menggelengkan kepalanya.
"Dan kamu tahu apa yang ironis dari pada itu?" tanya Dianthus pada Ezra.
Wajah Ezra melembut karena tidak tega melihat Dianthus menangis. "Apa itu?" Ezra balik bertanya dengan lembut.
"Kamu dan anak itu tetap mencintaiku dan selalu berharap bahwa aku bisa berbalik mencintai kalian. Lalu, aku akhirnya berbalik mencintai mereka." jawab Dianthus dengan isakan tangis.
Ezra tersenyum mendengarnya. "Ternyata cintaku dan Ezra di dalam mimpimu sama ya? Aku dan dia sama-sama mencintaimu, sekalipun kamu bersikap begitu padaku." ucap Ezra sambil mengelap air mata Dianthus.
Tapi Dianthus tetap menangis. "Bahkan ketika aku bersikap dingin pada putra kita?!" tanya Dianthus dengan nada tinggi.
"Dian-"
"Enggak, Ezra! Aku masih mengingat tiap kata anak itu yang merindukan diriku dan menginginkan kasih sayangku."
"Aku begitu bodoh dan egois, aku hanya mementingkan diriku sendiri. Aku sudah tidak berguna sebagai istrimu dan ibu buat Zacharia. Tapi kalian tetap mencintaiku sepenuh hatiku." ucap Dianthus yang kembali menangis.
"Akhirnya harapan Zacharia menjadi kenyataan."
"Harapan yang mana?" tanyaku dengan bingung dan penasaran.
"Mama kembali menyayangi Zacharia seperti dulu, saat Zacharia masih kecil. Bibi Erin mengatakan bahwa ketika Zacharia lahir, Mama selalu menggendongnya dari pagi hingga malam. Namun, setelah Zacharia besar, Mama berhenti melakukannya. Zacharia pun selalu berdoa kepada Allah agar Mama memberikan kembali kasih sayang itu. Zacharia sangat menginginkannya karena teman-temannya selalu mendapat perhatian dari mama mereka. Bahkan, Zacharia rela menjadi kecil lagi hanya agar bisa merasakan kasih sayang Mama," jelasnya sambil cemberut.
"Sudah! Sudah! Tidak apa-apa, jika pun hal itu terjadi lagi. Aku tetap mencintaimu dan memilihmu!" seru Ezra berharap bisa menenangkan Dianthus. Mata pria itu berkaca-kaca melihat keadaan Dianthus sekarang.
Mata gadis itu merah dan wajah sembab karena air mata.
Kedua tangan kekar itu mengusap lembut pipi mungil gadis itu.
"Bagaimana jika kamu lanjutkan saja ceritanya? Aku ingin mendengarkanya."
Ezra mengajak Dianthus untuk kuat dan berusaha bangkit dengan mengalirkan cerita.