Hari lamaran pun tiba. Ezra, ditemani Angelia dan seluruh kerabat dekatnya, datang ke rumah Dianthus untuk melamar sang kekasih.
Lamaran Ezra diterima dengan penuh kebahagiaan oleh keluarga Dianthus.
Momen itu terjadi tepat satu bulan setelah Dianthus menceritakan semuanya kepada Ezra.
Satu minggu setelah perkara pidana Ridwan selesai dan suami Melati itu mendekam di penjara.
Dianthus menatap cincin yang kini melingkar di jari manis tangan kirinya.
Mulai hari itu, ia benar-benar menjadi perempuan yang sangat berbahagia.
''Zacharia sayang, mulai hari ini kami akan membangun keluarga yang harmonis untukmu. Jadi, datanglah kepada kami saat kamu sudah siap, ya.'
Namun, saat berjalan melewati jendela, Dianthus merasa ada yang aneh hingga langkahnya terhenti. Ia kembali menoleh ke arah jendela.
Di sana, ia melihat bos tempatnya bekerja sedang bertengkar dengan Rosa.
Mata Dianthus terbelalak menyaksikan keduanya saling beradu mulut di luar rumah. Sebelum ia sempat keluar untuk menghampiri Rosa, pertengkaran itu telah berakhir. Leon masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Rosa yang tampak frustrasi.
Dianthus yang semula ingin menemui Rosa akhirnya mengurungkan niatnya.
⏳
Dianthus memasuki salah satu butik milik keluarga Narendra, ditemani oleh Melati dan Rosa.
"Selamat datang, Nona Dianthus. Nyonya Angelia telah berpesan kepada saya untuk melayani Anda," ucap manajer butik tersebut.
"Terima kasih, Bu Jena," balas Dianthus sambil melihat name tag yang dikenakan perempuan itu.
Manajer butik tersebut tersenyum sebagai jawaban, lalu mengajak mereka masuk lebih dalam.
Ketiganya kini berada di salah satu butik milik Angelia Narendra. Sebenarnya, Ibu Angelia juga seharusnya ikut bersama mereka. Namun, ada pekerjaan yang mau tidak mau harus beliau selesaikan terlebih dahulu.
Dianthus diajak oleh manajer butik tersebut untuk memilih gaun. Tujuan mereka datang ke sana adalah mencari gaun akad nikah dan gaun resepsi. Angelia tidak ingin calon menantunya kekurangan apa pun.
Sebagai tambahan informasi, Ezra dan Dianthus telah dipisahkan selama satu minggu menjelang hari pernikahan mereka.
Dianthus mengambil salah satu gaun. "Saya memilih yang ini."
"Kalau begitu, salah seorang petugas akan membantu Anda mengenakannya," ucap Manajer Jena.
"Ah, tidak! Sepupu saya yang bernama Rosa saja yang akan membantu saya," ujar Dianthus sambil menolak bantuan petugas yang mendekat. Ia kemudian menoleh ke arah Rosa.
Rosa dan semua orang yang berada di sana terkejut mendengar ucapan Dianthus.
"Kok aku, sih?" tanya Rosa sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu saja yang bantu aku. Lagipula, pakaian yang aku pilih ini mudah dipasang," jawab Dianthus.
Manajer butik tersebut akhirnya angkat bicara karena ia memang ditugaskan oleh Angelia untuk membantu Dianthus.
"Benar yang dikatakan Nona Dianthus. Pakaian itu mudah dipasang. Jadi, tolong bantu Nona Dianthus, Nona Rosa."
Rosa mengembuskan napas panjang mendengar ucapan manajer butik tersebut. Dengan langkah kesal, ia pun ikut masuk ke dalam ruang ganti.
Rosa mengerti maksud permintaan Dianthus. Itulah sebabnya ia merasa sangat kesal sekarang.
"Maksud kamu menyuruh aku membantumu berganti pakaian ini apa?"
"Cuma ingin mengobrol."
Jawaban Dianthus membuat Rosa memutar bola matanya dengan jengah.
"Kan sudah kubilang—"
"Aku melihat kamu berdebat dengan Pak Leon semalam."
Rosa terdiam mendengar ucapan itu.
"Apa yang kalian perdebatkan sampai dia semarah itu?"
"Dia marah karena aku dekat dengan Vian dan lebih memilih Vian. Dia tidak terima. Makanya, aku juga marah."
"Kamu tidak mencoba menjelaskan semuanya baik-baik sejak awal? Seperti saat kamu sudah berkali-kali menolaknya?"
"Sudah, Dian! Aku sudah berbicara baik-baik dengannya. Namun, dia tetap bersikeras ingin aku memilihnya. Kamu tahu, kan, perasaan tidak bisa dipaksakan? Ditambah lagi, aku merasa dia mulai terobsesi padaku," jelas Rosa kepada Dianthus.
Dianthus yang telah selesai berganti pakaian menoleh ke arah Rosa
"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk ke depannya," ucap Dianthus.
Rosa mengangguk pelan.
Kedua sepupu yang sudah tidak saling berbicara selama beberapa hari itu akhirnya saling berpelukan. Namun, Dianthus masih merasakan firasat buruk.
⏳
Akhirnya, tibalah hari ketika Ezra dan Dianthus resmi menjadi pasangan suami istri.
Hari itu menjadi hari yang paling membahagiakan bagi keduanya.
Akad nikah digelar pada pagi hari. Keduanya mengenakan busana serba putih.
Ezra duduk berhadapan dengan pria paruh baya yang menjadi wali nikah Dianthus. Beliau adalah salah seorang kerabat jauh Dianthus yang masih hidup. Di dekat mereka juga duduk dua orang laki-laki yang bertindak sebagai saksi, disaksikan oleh keluarga, kerabat, dan para tamu yang hadir.
"Saya terima nikahnya Dianthus Dyah Noir binti Firahman Dyah Noir dengan mahar dua ratus miliar rupiah dibayar tunai."
Di ruangan lain, Dianthus yang ditemani beberapa perempuan, Melati, dan Rosa memandangi jalannya prosesi akad nikah dengan perasaan lega.
Dianthus menangis karena pernikahannya tidak dihadiri oleh kedua orang tuanya. Melati dan Rosa pun berusaha menenangkannya.
Setelah akad nikah selesai, acara resepsi pernikahan pun dimulai.
Keduanya berdiri berdampingan untuk menyalami para tamu yang hadir.
Keluarga, kerabat, teman-teman, serta rekan kerja mereka datang untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
Begitu Leon mendekati mereka, Dianthus seketika menjadi tegang. Ezra pun menyadari perubahan raut wajah istrinya.