Diary Bipolar

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #19

Pertanyaan Pertama

Anindya menatap sosok di hadapannya, pandangannya diselimuti bintik-bintik hitam, tubuhnya masih tersentak oleh trauma yang baru diingat dan luka fisik dari patung pahatan yang menghantam bahunya. Ayah. Berdiri. Tegak.

Ini bukan ilusi. Bukan halusinasi yang dipicu Bipolar. Ini adalah kenyataan yang paling absurd, paling tidak mungkin di antara semua keanehan yang ia hadapi. Ayahnya, yang sejak setahun lalu lumpuh di tempat tidur akibat dugaan stroke, kini berdiri di tepi sungai yang becek, mengarahkan senter, wajahnya tegang tetapi tegas, seolah baru saja menanggalkan topeng penyakit kronisnya.

“Ayah?” Anindya berbisik, suara serak. Kata itu terdengar asing di telinganya. Rasa tercekik di lehernya kini bercampur dengan desakan mual yang memutar perutnya. Jika Ayahnya bisa berdiri, lantas apa lagi yang selama ini ia yakini sebagai kebenaran, yang ternyata adalah kebohongan yang terawat rapi?

Di atas tebing, suara panik para petugas keamanan yang mencoba mencari pijakan setelah jembatan runtuh semakin nyaring.

“Kita tidak punya waktu untuk kuis anatomis, Anin,” ujar Cahya, menarik lengan Anindya, memaksanya bergerak. Cahya juga terhuyung, tetapi naluri sintasnya lebih kuat. “Apa pun yang terjadi di tubuhnya, itu bisa menunggu. Sekarang kita harus lari.”

Ayah tidak menunggu. Ia melangkah ke lumpur, pergerakannya sedikit kaku, tetapi jelas bukan gerakan pasien stroke. Ia menggapai Anindya dan Cahya. Di tangannya tidak ada tongkat, tidak ada alat bantu. Hanya senter dan ponsel yang tampak kuno.

“Sini,” perintah Ayah, pelan tapi berwibawa, suara yang lama tak didengar Anindya. Suara seorang pria yang memegang kendali. “Jangan pedulikan mereka. Om Danu tidak akan menemukanmu lagi malam ini. Aku sudah memastikan ini.”

Mereka melintasi sungai yang dangkal dan berlumpur. Di seberang sungai, tersembunyi di balik barisan pohon pisang dan bambu, ada sebuah perahu motor kecil yang disamarkan. Cahya menatap Ayah dengan mata curiga, mata yang terluka oleh pukulan Om Danu dan pemukul baseball Dimas.

“Ini semua ini bagian dari Konoha Anda, Om?” tanya Cahya sinis, membantu Anindya masuk ke dalam perahu. “Sebuah studio tersembunyi, jembatan yang bisa diruntuhkan, perahu penyelamat? Ini plot novel thriller yang murahan.”

Ayah menyalakan mesin. Mesin diesel kecil itu menderu lembut, cukup meredam suara hiruk pikuk di belakang mereka. “Kalian meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh seorang pria ketika dia merasa kebenaran adalah racun yang paling lambat bekerja,” balas Ayah, tanpa menoleh. Ia mahir mengendalikan perahu itu, mengarahkan mereka menyusuri sungai sempit yang berkelok-kelok.

Angin malam yang dingin memukul wajah Anindya. Rasa sakit di bahunya kini seperti api yang membakar, membuktikan bahwa malam ini bukan hanya halusinasi Bipolar. Rasa sakit itu nyata, cerminan dari kekerasan yang ia alami. Tapi keanehan Ayahnya melampaui rasa sakit fisiknya.

Setelah lima belas menit perjalanan sunyi, Ayah membelokkan perahu ke sebuah dermaga kayu yang sangat kecil. Di sana, sebuah bangunan kayu reyot yang lebih terawat dari studio Cahya menanti. Tempat itu gelap dan sunyi, terlindungi oleh rimbunnya pohon rambutan.

Mereka masuk. Udara di dalam gubuk itu kering dan hangat. Ada ranjang lipat militer di sudut dan sebuah lemari besi kecil.

Cahya segera mencari kotak P3K. Ia membersihkan luka Anindya di bahu dan mengobati lukanya sendiri. Keheningan itu sangat berat, penuh dengan pertanyaan yang tak terucap.

Setelah membalut lukanya, Anindya mendekati Ayah, yang kini duduk di bangku kayu, tampak tenang seolah baru kembali dari memancing, bukan dari upaya penyelamatan dramatis dari ancaman kriminal dan hukum.

“Bagaimana Anda bisa berdiri?” Anindya memaksa dirinya bicara, kata-katanya keluar seperti pecahan kaca. “Stroke. Diagnosa klinisnya stroke. Keluarga kami hidup dalam kesengsaraan karena ketidakberdayaan Anda, karena ketidakmampuan Anda untuk campur tangan.”

Ayah mendongak, matanya yang selama ini tampak kosong dan pasif kini penuh kesadaran dan kelelahan yang mendalam. “Diagnosis itu benar. Sebagian. Gejala stroke-nya nyata. Tapi penyebabnya bukan hanya medis, Anin.”

“Apa maksudmu?” Cahya bergabung, duduk di bangku sebelah Anindya, memegang botol air dengan cengkeraman erat.

Ayah menghela napas, seolah memindahkan beban ribuan kilo dari dadanya. “Tubuhmu, Anin, ia menciptakan penyakit agar pikiranmu bisa selamat dari trauma. Itu yang kalian sebut somatisasi. Aku aku melakukannya dengan cara yang berbeda. Aku memilih untuk melumpuhkan diri sendiri.”

Anindya menggeleng, mencoba memproses kalimat yang tidak masuk akal itu. “Anda pura-pura stroke? Untuk apa?”

“Bukan pura-pura,” koreksi Ayah, menatap tangannya. Tangannya memang masih menunjukkan tanda-tanda kelemahan. “Stroke-ku dipicu oleh stres akut dan rasa bersalah yang tak tertahankan. Itu nyata. Namun, dalam kelumpuhan itu, aku menemukan kekuatan. Kekuatan untuk mendengarkan. Kekuatan untuk tidak beraksi, karena setiap aksi yang kuambil saat itu, akan menghancurkan keluarga kita lebih cepat.”

Anindya merasa marah. Amarah murni dan panas, mengalahkan rasa sakit di bahunya.

“Menghancurkan keluarga?” serunya, sedikit histeris. “Keluarga kita sudah hancur, Ayah! Karena Om Danu dilepaskan begitu saja, karena Anda dan Ibu lebih memilih menjaga nama baik dan bisnis daripada kewarasan anak perempuan Anda!”

“Tepat sekali,” kata Ayah pelan. Pengakuan yang jujur itu lebih menusuk daripada penolakan apa pun. “Bisnis itu. Semua kekayaan itu, didapat dengan dukungan penuh yayasan Om Danu. Kami adalah mitra bisnis. Kami bukan hanya tetangga.”

“Jadi, ketika saya memberitahu Ibu apa yang terjadi,” lanjut Anindya, memori samar itu kembali, bukan pelecehan itu sendiri, tetapi kebingungan setelahnya, saat ia menangis di pelukan Ibunya. “Saat saya kecil, dan saya berusaha bicara tentang apa yang dilakukan Om Danu Ibu sudah tahu?”

Wajah Ayah menjadi sangat keruh. “Ibumu dia tidak tahu persisnya, Anin. Tapi dia memilih untuk tidak tahu. Rangga memilih untuk tidak tahu. Mereka menekan. Dan saat mereka tahu kau akan memproses ingatan itu melalui Cahya,

“Mereka harus menciptakan musuh yang lebih mudah untuk dikalahkan,” sambung Cahya, tatapannya dingin. “Kutukan. Orang Gila. Gadis Indigo.”

“Cahya bukan kutukan,” kata Ayah. “Cahya adalah penyelamatmu. Saat kau menendang pintu toilet itu, Anin, itu adalah satu-satunya tindakan agresif yang bisa kau lakukan setelah insiden itu. Dan Cahya, dengan fantasinya, memberikanmu narasi yang lebih aman untuk memproses rasa malumu. Narasi yang memungkinkan jiwamu untuk lari, dan membuat tubuhmu tetap utuh.”

Anindya membeku. Rasa tercekik di lehernya, yang selalu ia kaitkan dengan rasa terancam dan Om Danu, kini terasa lebih berat. Itu adalah beban kebohongan yang telah ia telan seumur hidup.

“Anda tidak menjawab kenapa Anda di sini sekarang,” desak Anindya. “Kenapa tiba-tiba Anda ‘sembuh’ dari stroke dan mempertaruhkan reputasi yang Anda jaga selama ini? Kenapa Anda tidak biarkan saya ditangkap petugas keamanan tadi, seperti yang Rangga dan Ibu inginkan?”

Lihat selengkapnya