Diary Bipolar

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #20

Peta di Tubuhmu

Rangga tidak melihat ke arah Anindya atau Cahya. Dia hanya melihat Ayah, dan Rangga berteriak,

"Ayah! Jangan berbohong lagi! Katakan pada Prof. Herman! Katakan mengapa Anda selalu menyalahkan Bipolar Anindya dan bukan Dirimu!"

Anindya dan Cahya membeku di dekat pintu rahasia. Kehadiran Rangga, berlumuran darah, histeris, didampingi seorang profesional medis dari Jakarta, bukanlah hal yang pernah dibayangkan Anindya. Bukan lagi tentang Rangga yang sinis, melainkan Rangga yang hancur.

"Prof. Herman," kata Ayah, nada bicaranya kembali terkendali, hampir membosankan, seperti suara yang biasa Anindya dengar sebelum stroke. Namun, posturnya tegak, melawan setiap asumsi tentang ketidakberdayaannya. "Ini bukan waktu yang tepat. Ada orang lain di luar. Kita harus pergi."

Prof. Herman, seorang pria paruh baya yang terlihat letih dengan mata tajam, tidak mengacuhkan Ayah. Ia melihat ke sudut ruangan, di mana Cahya dan Anindya berdiri. Anindya masih memegang erat kunci logam kuno dan ponsel Rangga.

"Anindya," sapa Prof. Herman, dalam dan tenang, kontras dengan jeritan Rangga. "Aku di sini untuk memastikan keselamatanmu, seperti yang kau minta dalam sesi terapi terakhirmu. Apa yang terjadi?"

Anindya merasa dunianya terbelah lagi. Sesi terapi terakhir? Dia tidak ingat pernah meminta Prof. Herman datang ke sini. Otaknya terasa beku. Namun, melihat Rangga yang berantakan dan Ayah yang memilih menenangkan profesional alih-alih peduli pada keselamatan anak-anaknya, ia merasakan gelombang kejelasan yang menyakitkan.

"Jangan dengarkan mereka, Prof!" seru Rangga, kini mendekat ke Ayah, menunjuk dengan jari gemetar. "Ayah memanipulasi Anda! Ayah tahu sejak awal bahwa trauma Anindya tidak hanya dipicu Om Danu, tetapi juga oleh tindakan saya, tindakannya, dan tindakan Ibu! Ayah menggunakan kelumpuhan stroke palsunya untuk menghindari tanggung jawab!"

"Kelumpuhanku bukan palsu!" Ayah balas membentak, kerutan di dahinya dalam, menunjukkan ketulusan dari penderitaan itu, bahkan jika penderitaan itu bersifat opsional. "Itu adalah sintom, Rangga. Aku lumpuh karena aku tidak mampu menanggung rasa bersalah yang tak terperikan karena melindungi Om Danu dan bisnis kita!"

Prof. Herman mengangkat tangan, memotong kekacauan itu dengan gerakan otoritas yang sederhana. "Tuan. Mohon maaf. Jika yang Anda katakan adalah benar, bahwa Anda telah menahan informasi tentang trauma yang melibatkan pelecehan anak dan kekerasan fisik, dan jika Rangga terlibat dalam insiden kedua, ini bukan lagi kasus pidana. Dan, sebagai profesional medis yang telah merawat Anindya, aku punya kewajiban hukum untuk melaporkannya."

Ayah mendesah berat, menoleh ke arah Cahya dan Anindya.

"Aku sudah bilang, mereka akan mengabaikanmu," kata Ayah, bukan kepada Prof. Herman, tetapi kepada anak-anaknya. "Profesor adalah orang jujur, Rangga. Dia tidak akan membiarkan kita menyelamatkan dirimu dengan menghancurkan Om Danu secara sepihak."

"Maksud Anda, Anda ingin saya tetap dibungkam demi citra?" Anindya akhirnya berbicara, dingin dan menusuk, mengabaikan rasa sakit di bahunya. Kunci di tangannya terasa seperti besi panas.

"Aku tidak ingin kau dibungkam, Anindya. Aku ingin kau aman," jawab Ayah. "Jika Rangga dituduh, kariernya tamat, reputasi keluarga kita hancur total, yayasan jatuh. Om Danu menang total, karena ia akan menyebarkan rekaman kekerasan yang Rangga lakukan. Kau tidak akan pernah lepas dari pengawasannya, karena kejatuhan kita akan membuat kita miskin, dan dia bisa melakukan apa saja pada kita."

"Omong kosong!" Rangga merangkak maju, lututnya menabrak bangku kayu. "Aku mengirimkan ponselku kepada Ayah semalam. Aku meminta Ayah untuk bertindak, setelah Dimas berhasil membuatku percaya! Ayah, aku rela bisnis ini hancur jika Anindya selamat. Aku tidak pernah mau rekaman itu digunakan untuk mengancam kita! Itu harus dimusnahkan!"

Ayah menggeleng. "Kau mencintai Anindya, tetapi caramu rusak. Kau tidak mengerti seberapa besar kekuatan uang dan pengaruh. Jika kau dan aku masuk penjara, Om Danu tetap bebas dan dia akan menghancurkan Dimas dan Ibumu. Hanya satu cara untuk menghancurkan Om Danu, Rangga. Secara legal, di balik pintu tertutup, tanpa menyeret keluarga ke pengadilan media yang kejam."

Ayah kembali fokus pada Anindya. "Kunci itu," katanya, menunjuk kunci di tangan Anindya. "Itu adalah kunci dari loker di gedung Yayasan Lama, tempat Om Danu menyembunyikan rekamannya. Aku sudah meminta pengacara, Nyonya Ratna, untuk mempersiapkan berkasnya. Dia tahu celah hukumnya."

Cahya melangkah maju. "Tunggu. Prof. Herman ada di sini. Kenapa tidak memberikannya kepada beliau?"

Prof. Herman tampak tertarik. "Tunggu. Anindya, kau ingat menghubungiku semalam?"

Anindya memproses. Ia telah melihat nama Prof. Herman di kontak terakhir Ayah. Tetapi percakapan yang Rangga sebutkan, sesi terapi terakhir. Kapan itu?

Kilasan cepat menyerbu otaknya, tidak sekuat kilas balik Om Danu, tetapi cukup mengganggu. Anindya di rumah sakit jiwa, depresi hebat setelah diagnosis Bipolar, menangis pada Prof. Herman. Dan ia ingat pernah mengatakan, "Prof, saya takut saya akan melupakan siapa saya sebenarnya. Jika ada hal terburuk yang pernah terjadi, janji padaku bahwa Anda akan datang saat saya benar-benar mencarimu. Atau saat tubuhku menunjukkannya."

Prof. Herman telah menjadi penjaga sumpah yang tidak disadari. Dia datang karena permintaan samar dari Anindya di masa lalu.

Lihat selengkapnya