Blurb
Bagi Ayah, cinta adalah lembaran uang.Hampir seluruh hidupnya habis di meja kerja. Dia percaya bahwa memastikan dapur tetap mengepul dan masa depan anak-anaknya terjamin adalah bentuk pengabdian tertinggi seorang ayah. Namun, di balik dinding rumah yang ia bangun dengan peluh, Arga sebenarnya adalah seorang asing. Dia tidak tahu menu sarapan favorit anak-anaknya. Dia tidak tahu siapa yang diam-diam menangis di kamar saat malam tiba. Dia juga tidak pernah sadar bahwa selama ini, istrinya adalah jembatan rapuh yang menghubungkan dirinya dengan dunianya yang sunyi. Lalu, istri tercinta pergi untuk selamanya. Seketika itu juga, jembatan itu runtuh. Rumah yang dulu hangat berubah menjadi ruang asing yang dingin. Tanpa dekapan sang istri, luka yang selama ini dipendam oleh anak-anak mereka mulai menganga. Satu per satu dari mereka memilih pergi, mengejar takdir masing-masing. Kini, di tengah rumah yang besar dan senyap, Arga akhirnya menyadari satu hal. Nafkah bisa membeli segalanya, kecuali waktu yang telah hilang. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Arga benar-benar sendirian. Bisakah seorang ayah yang terlambat belajar mencintai, menyatukan kembali puing-puing keluarga yang telah hancur?