Diary untuk Langit

sabrini Hardini
Chapter #1

Chapter #1

 

Mungkin jika tuhan merawat duka maka kehilangan menjadi tidak masalah.

Kehilangan terbaik adalah kepergian yang nyata. Sunyi terburuk adalah memilikimu yang hanya tersisa sebatas bayang.

Tujuh hari telah berlalu sejak Ibu berpulang, namun kehilangan itu justru kian nyata, merenggut seluruh nyawa dari rumah ini. Pagi itu, cahaya matahari yang biasanya terasa hangat, hanya mampu menembus ventilasi sebagai berkas sinar yang pucat dan dingin. Di permukaan, kesibukan tetap riuh, suara dentang wajan masih terdengar dari dapur, dan deru kendaraan di luar pagar terus berputar memburu waktu—seolah dunia enggan memberi jeda barang sedetik untuk meratapi duka. Namun, hilangnya sang poros kehangatan tak bisa dibohongi. Kehampaan merayap senyap, menyelubungi lantai ubin yang terasa lebih dingin dari biasanya dan dinding-dinding rumah yang mendadak terasa begitu asing. Ibu tidak sekadar pergi; ia tampak memboyong seluruh jiwa rumah ini bersamanya. Di antara kegaduhan pagi itu, sunyi tanpa kehadiran Ibu justru mengaung jauh lebih keras, menyusup di sela-sela langkah kaki penghuninya yang melangkah tanpa gairah.

Di dapur yang kini terasa terlalu luas dan lengang, Raya sibuk menyiapkan sarapan. Bau tumisan bawang putih memenuhi ruangan, mencoba mengusir aroma duka yang pekat. Tanpa ada yang memberi perintah, jemari Raya otomatis mengambil alih kendali kompor dan urusan rumah tangga sejak Ibu tiada. Keputusan tak tertulis itu diambil karena satu alasan: lidah Ayah paling cocok dengan masakannya. Di atas meja makan kayu yang biasanya ramai oleh tawa Ibu, masakan Raya dinilai Ayah memiliki kemiripan hingga sembilan puluh persen dengan cita rasa masakan Ibu—sebuah tiruan terbaik untuk mengobati rindu.

Sementara itu di teras depan yang dinaungi bayang-bayang pohon mangga, Ayah duduk tenang di kursi rotan usangnya, menyesap kopi hitam Gayo favoritnya yang masih mengepulkan uap tipis. Di sampingnya ada Dani, si anak Tunggal laki-laki ayah, yang sejak tadi sibuk mondar-mandir di selasar teras dengan ponsel menempel di telinga. Suara Dani yang berat terdengar silih berganti menerima panggilan. Sebagai seorang bos, meninggalkan kantor selama tujuh hari ternyata sudah cukup membuat Dani kelimpungan mengurus pekerjaan dari jarak jauh. Tugas-tugas yang menumpuk seolah memaksa kabut duka di wajahnya tersingkir oleh tuntutan profesionalisme. Kontras dengan kesibukan itu, di dalam rumah yang pintunya masih tertutup rapat, si bungsu tetaplah bungsu yang manja. Jarum jam dinding di ruang tengah sudah menunjuk angka delapan pagi, namun kamar Dyan masih gelap dan ia terlelap nyaman di balik selimut tebalnya. Ia baru akan membuka pintu kamar pukul sepuluh nanti, saat seluruh debu rumah telah disapu bersih oleh Raya, hanya untuk menyatukan sarapan dan makan siangnya.

"Sepertinya Dani harus pulang besok pagi, Yah," ucap Dani setelah menutup panggilan terakhir, suaranya memecah keheningan teras yang sedari tadi hanya diisi bunyi gesekan daun kering yang tertiup angin. "Dani sudah terlalu lama meninggalkan kantor. Pekerjaan makin menumpuk dan harus segera diurus," lanjutnya, menatap lurus ke arah jalan raya, mencoba membela diri atas situasi tersebut.

Ayah tidak memberi banyak respons. Beliau hanya mengangguk kecil seraya berujar lirih, pandangannya terkunci pada cangkir kopi yang tinggal separuh, "Ya, tidak apa-apa, Nak. Pekerjaan itu tanggung jawab, lebih penting."

Padahal, jauh di lubuk hatinya, Ayah sangat berharap anak laki-laki tunggalnya itu bisa duduk di teras ini sedikit lebih lama. Sejak merantau dua puluh tahun lalu, Dani memang jarang sekali pulang; jejak langkahnya di rumah orang tua bisa dihitung dengan jari. Dani memang berbeda sejak remaja. Saat SMA dulu, ia lebih sering menginap di rumah teman ketimbang merebahkan kepala di kamarnya sendiri. Dulu, Ayah mendidiknya dengan sangat keras agar mandiri mencari nafkah, membuat sosok Dani jarang terlihat di dalam rumah ini. Namun baru sekarang, setelah kepergian Ibu, Ayah menyadari betapa singkatnya kehadiran Dani di rumah yang makin menua ini. Sebuah penyesalan terlambat mengetuk pintu hati Ayah; beliau sadar bahwa dirinyalah yang dulu membiasakan dan menuntut anak laki-lakinya untuk selalu sibuk di luar rumah, persis seperti dirinya dulu. Ada sesak yang menghimpit dada, namun Ayah tidak punya keberanian untuk menahan Dani agar tidak buru-buru pergi.

"Nanti malam, Dani dan ketiga adik-adik yang lain mau berkumpul di sini. Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan dengan Ayah," Dani kembali berucap, melangkah mendekat ke arah meja teras.

Ayah bergeming. Pandangannya beralih dari cangkir kopi, lurus menatap deretan tanaman mawar di sudut halaman—bunga-bunga kesayangan Ibu yang kelopaknya mulai berguguran sejak tak ada lagi tangan Ibu yang menyiramnya. Di balik tatapan kosong ke arah taman yang mulai meranggas itu, pikiran Ayah melambung jauh, menerka-nerka obrolan berat apa yang akan dibawa oleh anak-anaknya malam nanti di ruang tengah malam nanti.

Malam merambat semakin larut. Selepas tarikan selawat ba’da Isya mereda di kejauhan, seluruh anggota keluarga akhirnya berkumpul di ruang tamu. Suasana sempat melunak saat Laras, anak perempuan tertua, tiba sejak sore tadi memboyong suami dan keempat anaknya. Ruangan itu sempat dipenuhi tawa riang dan kehangatan yang amat dirindukan, berkat polah jenaka Danis, si cucu bungsu yang selalu menjadi kesayangan Ayah.

Namun, binar kebahagiaan itu mendadak surut saat Dani melangkah masuk ke tengah ruangan. Kehadirannya seketika memotong keriuhan tawa. Dengan guratan wajah yang teramat serius, Dani meminta seluruh saudara kandungnya—termasuk para ipar—untuk segera merapat dan duduk melingkar. Ayah mengambil tempat di kursi rotan tunggalnya, tatapannya kosong memandangi cangkir teh yang mulai mendingin. Dani duduk tegak di sofa terpanjang, sementara Raya, Dyan yang baru terlihat sepenuhnya segar. Suasana canggung begitu kentara; tak ada yang tahu bagaimana harus membuka percakapan tanpa terdengar egois di tengah masa berkabung yang baru berjalan tujuh hari.

Ayah merasakan desir aneh di dadanya. Ada bisikan yang mendesak ego Beliau untuk mengulur waktu, seolah tahu ada badai yang sedang bersiap menerjang. Ayah benar-benar belum siap mendengarkan obrolan seserius ini. Namun, mau tidak mau, Beliau harus menguatkan punggung. Dialah kepala rumah tangga, sosok yang selama puluhan tahun selalu memegang kendali atas setiap keputusan besar. Ironisnya, baru kali ini Ayah merasa tak berdaya, seakan dipaksa tunduk pada apa pun yang ingin anak-anaknya lakukan terhadap dirinya. Ayah pun menurut. Beliau menggeser duduknya di atas sofa, lalu memamerkan seulas senyum tipis—sebuah topeng manis yang dipaksakan. Rasanya baru beberapa menit lalu Beliau terhibur oleh kelucuan sang cucu, namun kini Beliau terlempar begitu saja ke dalam situasi mencekam yang memicu rasa penasaran sekaligus ketakutan yang nyata.

Dani berdehem pelan, memecah keheningan yang mulai mencekik. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap bergantian ke arah ketiga saudaranya yang lain sebelum akhirnya mengunci pandangan pada Ayah.

"Besok pagi, aku dan keluarga harus balik ke Riau. Aku sudah tidak bisa lebih lama lagi meninggalkan pekerjaan," Dani membuka suara, memecah keheningan malam dengan nada bicara yang tegas tanpa basa-basi.

"Jadi, malam ini kita harus benar-benar memutuskan bagaimana kelanjutannya. Kita tidak mungkin membiarkan Ayah tinggal sendirian di rumah ini. Menurutku, salah satu di antara kita harus ada yang menetap di sini untuk merawat dan menemani Ayah," lanjut Dani, melemparkan pandangan ke arah saudara-saudaranya.

Keheningan malam terasa kian mencekik sebelum Dani kembali menyambung, "Jujur saja, kalau aku jelas tidak bisa merawat Ayah di sini. Ada pekerjaan besar yang tidak mungkin aku tinggal. Tapi, kalau Ayah mau aku yang rawat, Ayah yang harus ikut bersamaku ke Riau. Bagaimana, Yah? Ayah mau ikut Dani ke luar kota?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, membuat Ayah seketika bergeming. Senyum manis yang sedari tadi dipaksakannya langsung runtuh, berganti menjadi senyuman pahit yang getir. Detik berikutnya, seluruh ekspresi di wajah tua itu total menguap. Tatapan Ayah terkunci lurus ke depan, menembus ruang kosong. Beliau kehilangan kata-kata, tidak tahu harus merespons apa sementara bibirnya mendadak kelu terkatung-katung. Beliau hanya bisa diam membatu, menelan bulat-bulat setiap kalimat yang dilemparkan oleh anak laki-laki tunggalnya.

Lihat selengkapnya