Diary untuk Langit

sabrini Hardini
Chapter #2

Chapter #2

Rumah itu kembali diringkus kelengangan yang mutlak setelah satu per satu anak Ayah melangkah pergi, membawa kembali keriuhan mereka ke kota masing-masing. Kini, hanya Raya yang diam-diam kerap menyempatkan diri datang. Gadis itu sesekali mencuri waktu di sela harinya untuk menjenguk sang ayah, atau sekadar mampir mengantarkan rantang berisi makanan. Raya tahu betul, lidah Ayah adalah tawanan masakannya. Ada kecemasan yang terus membayangi benak Raya jika membayangkan Ayah harus mengurus makannya sendiri. Pria tua itu terlalu abai pada apa yang masuk ke perutnya.

Kebiasaan memperhatikan isi piring Ayah adalah warisan pelajaran dari mendiang Ibu semasa hidup. Dulu, Ibu selalu cerewet mendikte Raya saat di dapur: makanan apa saja yang bisa membangkitkan selera Ayah, lauk apa yang akan membuat dahinya mengkerut tak suka, hingga seberapa besar tingkat toleransi lidah Ayah terhadap rasa pedas. Ibu juga sering berpesan bahwa jika tidak diawasi, Ayah akan makan sembarangan di luar. Pria itu gemar memesan makanan tinggi gula dan penuh lemak, jenis hidangan terlarang yang sekejap saja bisa memicu tekanan darah tingginya melonjak drastis.

Pagi ini, Ayah mengulang ritual yang sama membosankannya dengan hari-hari kemarin. Terbangun saat fajar untuk salat Subuh, bersila di atas sajadah menunggu waktu Duha, lalu bergegas pergi ke kantor demi menggugurkan kewajiban absen pagi—tentu saja tanpa sarapan. Sejak dulu, Ayah memang tidak pernah menyentuh makanan di rumah sebelum berangkat. Kakinya selalu otomatis melangkah menuju kedai lontong langganan favoritnya, yang juga merupakan kedai lontong kesayangan mendiang Ibu.

Semasa Ibu masih ada, Ayah tidak pernah absen membawa pulang dua bungkus lontong. Meski tak jarang makanan itu berakhir utuh tak tersentuh karena Ibu sedang kehilangan selera makan, Ayah tetap keras kepala memesan porsi yang sama setiap hari. Bahkan setelah Ibu tiada pun, memori itu terpatri terlalu kuat. Beberapa kali Ayah didera linglung; ia terlanjur memesan dua bungkus lontong kebiasaan mereka, sebelum akhirnya tersadar di tengah jalan bahwa mangkuk Ibu telah kosong. Ujung-ujungnya, satu bungkus lontong itu ia berikan kepada tetangga sebelah, atau ia simpan di dalam tudung saji untuk dihabiskan sendiri saat makan siang tiba.

Kesendirian yang mengepung rumah ternyata memberi ruang bagi rindu untuk tumbuh semakin raksasa. Kehilangan sosok Ibu justru terasa kian menggunung, menghantui setiap jengkal sudut ruangan dan memaksa Ayah terus-menerus memutar ulang kenangan tentang istrinya. Di mana pun mata Ayah memandang, di situ bayang-bayang Ibu tercipta. Ayah melihat Ibu sedang sibuk di dapur, Ibu yang duduk tenang merajut di teras rumah, hingga Ibu yang terbaring lemah di atas ranjang kayu—ranjang yang dulu sengaja Ayah rakit sendiri dengan kedua tangannya saat raga Ibu mulai digerogoti sakit.

Puncak tertinggi dari rindu itu adalah hilangnya sebuah suara. Ayah kehilangan lawan bicara, kehilangan tempat untuk menumpahkan petuah, cerita, dan diskusi hangat yang biasanya menghidupkan malam. Sunyi itu kian pekat karena ponselnya jarang sekali berdering. Anak-anak terlalu sibuk dengan dunia mereka yang berputar cepat di luar sana.

Ayah meraih ponsel di atas meja, menatap nanar baris demi baris pesan di grup WhatsApp keluarga. Tak ada satu pun balasan untuk paragraf panjang yang ia kirimkan kemarin. Ayah memang kerap mengirimkan tulisan panjang, sekadar mendongengkan kabar kesehariannya yang monoton agar anak-anaknya tahu ia baik-baik saja. Namun, pesan-pesan itu sering kali menguap begitu saja tanpa respons. Jangankan yang lain, Dyan si bungsu bahkan menjadi yang paling mustahil untuk meluangkan jemarinya membalas. Meski begitu, Ayah tidak pernah bosan. Setiap hari, ia tetap mengetikkan kalimat-kalimat panjang yang sama.

Jemari tua Ayah kembali bergerak di atas layar kaca, mulai merangkai kata demi kata untuk menceritakan apa yang akan ia lakukan hari ini. Namun, mendadak gerakannya membeku. Ayah berhenti mengetik. Ia menatap nanar layar ponsel yang menyala di tangannya, didera sebuah kesadaran aneh yang mendadak menampar batinnya.

Ternyata, semua kalimat indah yang ia susun setiap pagi tak lebih dari sekadar hiburan palsu untuk dirinya sendiri. Bukankah hidupnya setiap hari hanya berputar di hal-hal yang sama dan membosankan? Lalu mengapa di dalam pesan itu, ia selalu mengarang cerita seolah harinya dipenuhi hal-hal menarik dan berbeda? Kalimat panjang yang ia kirimkan tak ubahnya dongeng fiksi yang ia rakit demi menutupi fakta yang berdarah-darah. Ayah tersadar, ia sedang tidak jujur pada anak-anaknya. Ia sengaja melukis keindahan semu hanya untuk menyembunyikan kerapuhan dari sebuah kesendirian.

Perlahan, Ayah menekan tombol hapus. Paragraf panjang yang melelahkan itu lenyap dari layar. Ayah terdiam, menutup ponselnya dengan gerakan bergetar, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja makan yang lengang.

Pandangan matanya yang mulai kabur menyusuri setiap sudut rumah dari tempatnya duduk. Ruangan itu kini terasa teramat asing, luas, dan hampa. Ayah menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak yang mendadak menghimpit dada. Namun pertahanannya runtuh. Sedetik kemudian, setitik air mata lolos dan jatuh membasahi pipinya yang berkerut.

Ayah akhirnya dihantam oleh kenyataan pahit yang selama ini mati-matian ia sangkal di balik senyum tegarnya: ia sedang diliputi kesepian yang amat mendalam. Selama ini ia tidak pernah berani mengakui rasa sepi itu karena egonya sebagai seorang lelaki dan ayah meyakini bahwa ia sanggup berdiri sendiri. Namun, pagi ini pertahanan itu pecah. Kenyataan terlalu jujur untuk dibohongi; ia memang sedang sekarat di dalam kesunyian.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarga itu, tidak ada pesan panjang dari Ayah yang masuk di pagi hari. Beliau memilih untuk mengunci rapat ceritanya. Dan untuk pertama kalinya pula, grup WhatsApp keluarga itu tidak lagi berdenting. Kamar obrolan digital itu mendadak sunyi senyap, seakan ikut mengubur dalam-dalam kesunyian yang sedang diderita Ayah sendirian di rumah tua itu.

Ayah perlahan beranjak dari kursi kayu usang yang sebagian sudutnya mulai reot termakan usia. Langkah kakinya yang berat menuntunnya masuk ke dalam kamar, lalu terhenti tepat di hadapan sebuah lemari jati tua. Di balik pintu kayu kokoh itu, seluruh peninggalan Ibu masih tersimpan rapi, memancarkan aroma khas kenangan yang seketika menyeruak.

Lihat selengkapnya