Senin, 19 Februari 2025
“Bu, pagi tadi Ayah baru saja pulang membeli sarapan di warung. Lagi-lagi Ayah malah memesan lontong dua bungkus. Duh, selalu saja kelupaan. Rasanya setiap kali mengantre di sana, insting Ayah selalu terbiasa mengucap, 'Beli dua porsi, Bu'. Kalau begini terus, bisa-bisa Ayah selalu kekenyangan makan porsi ganda sendirian, hahaha. Biasanya kalau ada Ucok, tetangga sebelah, sering Ayah berikan saja ke dia. Tapi pagi tadi dia juga ternyata sudah telanjur sarapan. Alhasil, Ayah terpaksa menghabiskan dua porsi lontong itu lagi seperti kemarin, Bu. Kalau diingat-ingat kejadian linglung itu, rasanya lucu sekali.
Bu, anak-anak kita sampai hari ini masih sibuk sekali rasanya. Tidak ada satu pun pesan atau balasan yang masuk dari mereka. Ayah rindu sekali, Bu... tapi Ayah takut telepon Ayah malah mengganggu urusan mereka di sana.
Tapi Ibu jangan cemas, Raya masih tetap setia datang berkunjung mengantarkan makanan untuk makan siang Ayah. Bu, rasanya masakan Raya sekarang makin persis seperti racikan tanganmu dulu. Hampir tidak ada yang meleset sama sekali yang Ayah rasa. Ayah jadi sering berpikir, bagaimana anak tengah kita itu bisa amat sangat telaten mengurus rumah dan menjadi orang yang paling paham apa saja yang Ayah sukai. Kamu benar-benar telah berhasil mengajari banyak hal hebat ke anak perempuan kita itu, Bu.
Tapi, meskipun Raya rutin membawakan Ayah makanan, kedatangannya sekarang hanya sebatas itu saja, Bu. Raya tidak banyak berbicara lagi seperti dulu. Dia lebih banyak diam. Ayah jadi sedikit khawatir setiap kali mengingat tumpahan perasaannya malam itu di hadapan kakak-kakaknya. Ayah selalu kepikiran, apakah dia benar-benar baik-baik saja sekarang? Apakah dia sudah mulai melangkah untuk menemukan kembali dunia dan masa depannya yang selama ini terpaksa ia tinggalkan demi kita, Bu?”
Itulah untaian cerita yang kini rutin Ayah goreskan di atas lembar-lembar kertas itu. Di sana, Beliau seolah-olah sedang berbicara langsung di hadapan Ibu, wanita yang sepanjang masa hidupnya selalu setia menjadi wadah paling teduh bagi setiap jengkal kisah kehidupan Ayah.
Dulu, Ibu adalah pendengar yang luar biasa. Ia akan selalu membiarkan Ayah menumpahkan apa saja; tanpa penghakiman, tanpa komentar yang menggurui, dan sama sekali tak pernah memotong di tengah-tengah kalimat saat Ayah sedang bercerita. Ibu benar-benar mendedikasikan dirinya sebagai tempat perlindungan bagi Ayah, tempat di mana suaminya bisa meluruhkan segala lelah, keluh, dan kesah yang menghimpit dada. Tak pernah sekali pun Ibu mengeluh, atau memperlihatkan raut wajah jemu di hadapan runtutan narasi Ayah saat melewati hari-harinya yang berat. Bagi Ayah, Ibu adalah seluruh dunianya. Bersama Ibu, Ayah tidak perlu repot-repot merangkai topeng atau mengarang dongeng fiksi yang indah; Beliau bisa menjadi dirinya sendiri yang paling jujur dan telanjang.
Kehilangan sosok pendengar karib itulah yang sesungguhnya meninggalkan lubang paling menganga di dada Ayah. Beliau kehilangan tempat bermuara. Luka itu kian terasa mengurus batin tatkala anak-anaknya kini telah melangkah jauh, meninggalkan dirinya terkunci dalam kesunyian rumah tua yang dingin.
Kini, ritual suci yang dulu kerap mereka lakukan berdua terpaksa berganti rupa. Meski tak ada lagi suara lisan yang saling menyahut, Ayah menolak untuk berhenti. Beliau melarikan seluruh jiwanya ke atas lembaran demi lembaran buku peninggalan Ibu, menjadikannya sebuah buku harian rahasia tempatnya menumpahkan sepi. Di balik sisa tenaganya yang kian terkikis usia, ada satu harapan yang selalu Ayah selipkan di setiap akhir guratan penanya: semoga setiap kalimat yang ia ukir di atas kertas ini, getarannya akan bergema dan tersampaikan dengan utuh kepada Ibu yang kini sedang tersenyum di atas sana.
Lamunan Ayah mendadak terputus ketika sepasang matanya menangkap sebuah gerakan di ujung jalan. Dari kejauhan, sesosok gadis dengan jilbab yang berkibar pelan tampak berjalan mendekat ke arah pagar rumah, menjinjing sebuah tas kain berukuran besar yang tampak berat. Raya datang lagi seperti yang dia lakukan biasanya-mengantarkan makan siang untuk ayah.
___________________________________________________________________________
Sementara itu, ratusan kilometer dari rumah tua yang senyap, dunia bergerak begitu cepat bagi anak-anak Ayah. Di bawah kilatan lampu kota dan deru rutinitas yang melelahkan, ponsel mereka tak pernah berhenti berdenting oleh urusan pekerjaan, tenggat waktu, dan tagihan bulanan. Namun, ada satu sudut digital yang mendadak mati suri. Grup WhatsApp bernama "Keluarga Besar" itu kini tenggelam di barisan bawah daftar obrolan mereka.
Satu minggu berlalu tanpa satu pun notifikasi dari ruangan obrolan itu. Biasanya, setiap pukul tujuh pagi, ponsel Dani, Laras, dan Dyan akan bergetar beruntun, menampilkan paragraf panjang dari Ayah. Pesan-pesan membosankan yang dulu kerap mereka abaikan atau sekadar dibalas dengan emoji jempol sekadarnya. Pesan tentang menu sarapan Ayah, ramalan cuaca di kampung, atau cerita tentang kucing liar yang mampir ke teras.
Kini, ruang obrolan itu bersih dari dongeng-dongeng pagi.
Dani adalah yang pertama kali menyadarinya. Pria itu baru saja menyelesaikan rapat melelahkan di kantornya di Riau. Saat melonggarkan dasi dan menyandarkan punggung di kursi kerja, jemarinya menggulir layar ponsel. Ia tertegun saat menyadari pesan terakhir di grup keluarga adalah ucapan seadanya yang ia balas untuk rentetan pesan ayah di grup keluarga semimggu lalu. Tidak ada sapaan pagi dari Ayah. Ada rasa kehilangan yang asing tiba-tiba menyusup ke dadanya. Rumah digital yang biasanya bising oleh perhatian sepihak dari seorang orang tua, kini mendadak terasa sedingin ubin ruang tamu malam itu.
Di kota lain, Laras sedang menyuapi anak-anaknya di meja makan yang riuh ketika kesadaran itu memukulnya. Ia menatap ponsel yang tergeletak di samping piring. Biasanya, ia akan mengeluh dalam hati jika pesan panjang Ayah membuat ponselnya terus bergetar saat ia sedang sibuk. Namun, kesunyian yang berlangsung berhari-hari ini justru terasa mencekik. Laras mulai dihantui rasa bersalah. Bayangan punggung ringkih Ayah yang berjalan lunglai menuju kamar malam itu kembali berputar di kepalanya. Apakah Ayah marah? Atau apakah Ayah sedang sakit di sana sendirian?
Bahkan Dyan, si bungsu yang paling mustahil membalas pesan, mendadak merasa ada yang keliru dengan harinya. Ia beberapa kali membuka profil WhatsApp Ayah, memastikan apakah pria tua itu sengaja memblokir nomornya, ataukah Ayah memang benar-benar telah berhenti membagikan sisa harinya kepada mereka.
Anak-anak di kota itu kini mulai didera gelisah yang sama. Kesunyian grup keluarga itu menjelma menjadi cermin yang memantulkan keegoisan mereka dengan sangat telanjang. Mereka baru menyadari, pesan panjang yang dulu mereka anggap sebagai gangguan, ternyata adalah untaian doa dan cara Ayah berteriak pelan bahwa ia teramat kesepian. Kini, ketika Ayah benar-benar mengunci rapat suaranya, kota tempat mereka mengadu nasib mendadak terasa jauh lebih asing dan dingin dari biasanya.
Malam itu, di tengah kegelisahan yang tak kunjung surut, Laras akhirnya menyerah. Setelah mondar-mandir di ruang tengah rumahnya sambil menggenggam ponsel, ia menekan nama Raya. Ego untuk tidak mau terlihat cemas runtuh oleh rasa bersalah yang kian menggunung.
Hanya butuh tiga kali nada sambung sebelum suara lembut adik bungsunya terdengar di seberang sana. "Halo, Mbak Laras? Ada apa?"
Mendengar ketenangan suara Raya, tenggorokan Laras mendadak tercekat. Ia berdeham sekali, mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar gemetar. "Raya... kamu lagi di rumah Ayah?"
"Nggak, Mbak. Ini Raya baru sampai di kosan. Tadi sore habis dari rumah Ayah sebentar, nganter lauk buat makan malam Beliau," jawab Raya apa adanya.
Laras meremas ujung bajunya. Pertanyaan yang sejak siang menahan napasnya kini menuntut untuk dikeluarkan. "Raya... Ayah... Ayah sehat, kan? Maksud Mbak, Ayah nggak lagi sakit atau kenapa-kenapa di rumah?"
"Alhamdulillah sehat, Mbak. Ayah rutin absen ke kantor, makannya juga lahap kalau Raya antarkan masakan. Kenapa memangnya, Mbak?" Raya balik bertanya, ada nada heran yang terselip dalam suaranya.
Laras terdiam sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa konyol sekaligus malu dengan pertanyaan yang akan ia ajukan berikutnya. "Nggak apa-apa, Ray. Mbak cuma... Mbak cuma heran aja. Sudah seminggu ini grup WhatsApp keluarga sepi banget. Ayah nggak ada kirim pesan sama sekali. Biasanya kan... kamu tahu sendiri, jam tujuh pagi ponsel kita sudah penuh sama tulisan Panjang Ayah."
Di seberang telepon, giliran Raya yang terdiam. Sunyi merayap di antara jaringan telepon mereka selama beberapa detik. Raya menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar begitu berat di telinga Laras.
"Mbak Laras baru sadar sekarang?" tanya Raya lirih, tanpa nada menyindir, namun justru hal itu membuat dada Laras terasa seperti ditusuk sembilu. "Kalau Mbak memang khawatir, kenapa tidak telepon dan tanyakan langsung saja ke Ayah sih, Mbak?"
Laras terdiam di seberang sana. Nada bicara adik bungsunya terdengar begitu dingin, beku, dan asing di telinganya.
"Bukan Mbak tidak mau menelepon Ayah, Ray, tapi Mbak..." Suara Laras mengambang. Ada jeda yang sengaja ia ciptakan untuk menata kata-kata, berharap sang adik bisa mengerti posisi sulit yang sedang menjepitnya.
Namun, Raya sudah terlampau hafal dengan tabiat kakaknya. Dari ujung telepon, gadis itu hanya membiarkan keheningan mengudara, kembali menghela napas berat sambil menanti kelanjutan obrolan yang sebenarnya sudah ia tebak ujungnya.
"Kamu kan tahu sendiri, Ray. Kalau Mbak telepon, pasti ada saja cerita Ayah yang ujung-ujungnya seolah membujuk Mbak untuk pulang ke rumah," sambung Laras, nadanya mulai membela diri. "Nanti, kalau kamu sudah menikah, kamu pasti akan mengerti bagaimana rasanya harus bersikap di antara suami dan orang tua yang hubungannya tidak baik."
Raya tetap bungkam, membiarkan Laras menumpahkan keluh kesahnya. Sesuatu di dalam dada Raya bergejolak sinis. Mengapa arah pembicaraan ini mendadak berbelok? Bukankah di awal mereka sedang mencemaskan kondisi Ayah? Mengapa sekarang Laras justru sibuk memutar cerita agar situasinyalah yang paling dipahami?
"Kamu kan tahu, hubungan suami mbak, Mas Bayu, dengan Ayah dulu pernah ribut besar," lanjut Laras beruntun, seolah takut dipotong. "Kalau Ayah bicara di telepon, Mas Bayu suka tidak suka. Apalagi Ayah selalu menyinggung-nyinggung supaya kami balik saja, tinggal dekat dengan Ayah. Mbak bukan membela mas bayu dibanding Ayah, Ray. Tapi inilah perjuangan Mbak sebagai seorang istri. Mas Bayu sudah sering kali sakit hati dengan perkataan Ayah soal dia yang tidak punya pekerjaan tetap. Karena itu sekarang Mbak memilih tinggal jauh dan mandiri. Ini pembuktian kepada Ayah kalau kami juga bisa tetap bahagia, meski harus tinggal jauh dari Beliau."
Raya terus menyimak dongengan pembenaran itu tanpa minat sedikit pun untuk merespons. Di kepalanya, ia memiliki sudut pandang yang jauh berbeda tentang perang dingin antara Laras dan Ayah. Raya tidak menampik jika ada khilaf Ayah yang menggores hati sang kakak dan suaminya. Namun bagi Raya, ada niat baik dari seorang orang tua yang selama ini sengaja membutakan mata Laras.
Cara Ayah menegur menantunya memang kerap terdengar blak-blakan dan menusuk ego, melukai tanpa Beliau sadari. Namun di balik kekasaran itu, Ayah sebenarnya hanya sedang memasang badan untuk melindungi anak perempuannya yang hidup terlunta-lunta. Ayah terlampau hancur melihat Laras harus ikut memeras keringat, membanting tulang larut malam demi menutup lubang kekurangan rumah tangga. Bayu hanya kuli serabutan dengan penghasilan tak tentu, memaksa Laras memikul beban ganda.
Bukan itu saja yang menyulut gerah di dada Ayah. Beliau sering kali meradang melihat tabiat Bayu yang begitu santai meringkuk di dalam rumah jika panggilan kerjaan tak kunjung datang. Sementara Laras yang sudah babak belur mengurus urusan domestik, masih harus memperpanjang urat nadanya bekerja di luar sana. Ayah sering kali tertegun, menatap nanar anak perempuannya yang pulang larut malam dengan mata kuyu, lalu harus terjaga kembali sebelum subuh demi memasak dan mencuci.
Kemarahan Ayah yang mengendap kian pekat setelah runtutan kebaikan Beliau ditolak mentah-mentah. Ayah pernah mengusahakan posisi satpam di dekat kantornya, namun Bayu bertahan hanya enam bulan sebelum keluar dengan rentetan keluhan ini-itu. Ayah bahkan memberikan modal ide untuk membeli sepeda motor agar menantunya bisa mengojek, namun pria itu menolaknya dengan alasan terlampau malu.
Puncak dari segala kegerahan itu meledak di suatu malam. Kamar tengah rumah itu mendadak menjelma menjadi ruang sidang darurat ketika Ayah tak lagi sanggup menulikan telinga mendengar adu mulut hebat antara Laras dan suaminya. Beliau memanggil keduanya untuk duduk berhadapan.
"Ayah minta maaf kalau harus ikut campur urusan rumah tangga kalian," buka Ayah malam itu, mencoba menekan suaranya. "Tapi karena kalian masih tinggal satu atap di sini, dan Ayah mendengar perselisihan yang tidak berkesudahan, tentu ini menjadi perhatian Ayah."
Laras tidak menjawab. Matanya yang berkaca-kaca menatap dingin ubin rumah, menahan ego yang membuncah agar air matanya tidak tumpah di hadapan sang ayah. Ia memilih bergeming.
Sikap dingin Laras membuat pandangan Ayah beralih pada Bayu. Menantunya yang semula membuang muka, kini balas menatap Ayah dengan sorot mata yang menantang.
"Maaf, Yah. Ini rumah tangga kami. Seharusnya Bapak tidak perlu ikut campur. Tidak semua hal musti saya ceritakan kepada Ayah," ketus Bayu, sengaja mengganti panggilan 'Ayah' menjadi 'Bapak' untuk mempertegas jarak.