Diary untuk Langit

sabrini Hardini
Chapter #4

Chapter #4

Hari ini bergulir dengan rasa sendu yang jauh lebih pekat dari biasanya. Langit di atas rumah tua itu tampak muram, berselimut kelabu tebal seolah bersiap menahan mendung sepanjang hari tanpa memberi celah bagi sang surya untuk merekah terang. Di teras depan, Ayah duduk bersandar di kursi rotannya. Keheningan paginya hanya ditemani kepakan sayap dan sapaan ringan dari burung peliharaan di dalam sangkar, serta secangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma pahit.

Tak jauh dari cangkirnya, buku catatan peninggalan Ibu tergeletak bersanding dengan sebuah pena hitam—benda yang kini bertransformasi menjadi belahan jiwa baru yang selalu setia Ayah bawa ke mana pun kakinya melangkah. Ayah tak lagi mengurung diri di meja kerja saat larut malam tiba untuk menulis. Kini, kapan pun desakan rindu itu datang menyerang batinnya, Beliau akan langsung membuka buku itu dan menggoreskan tinta di atasnya. Sepanjang hari, lembar demi lembar buku resep itu kian penuh oleh tumpahan kesunyian Ayah yang menjelma menjadi barisan cerita.

Selasa, 20 Februari 2026

“Pagi ini mendung, Bu...

Tadi saat Subuh, hampir saja Ayah telat bangun. Rasanya tadi malam tidur terlalu larut memikirkanmu, jadi bangun Subuh agak kesiangan. Untung saja waktunya tidak sampai terlewat.

Selepas salat, Ayah lanjut berjalan ke pasar untuk membeli lontong seperti biasa. Jalanan ramai sekali pagi ini, Bu, Ayah harus mengantre lumayan lama di kedai langganan kita. Tapi kali ini Ayah sudah tidak linglung lagi; tidak ada kelebihan memesan porsi ganda seperti kemarin. Untungnya Ayah cepat sadar.

Setelah selesai sarapan, Ayah bergegas ke kantor untuk absen pagi. Suasana di kantor sekarang sudah tidak banyak lagi pekerjaan berat seperti dulu, Bu. Kami-kami yang sudah berumur ini lebih sering diberi kelonggaran waktu dibanding anak-anak yang masih muda. Jika tugas sudah rampung selepas absen, Ayah bahkan diizinkan pulang lebih cepat untuk mengisi waktu luang di rumah.

Sebenarnya, ada kalanya Ayah ingin berhenti bekerja saja dan pensiun total, Bu. Tapi, Ayah langsung diserang bingung kalau benar-benar tidak bekerja lagi. Ayah tidak tahu harus melakukan apa untuk mengisi waktu luang di rumah ini... tanpamu.”

           Di sela-sela jemari tua Ayah yang masih tekun menggoreskan lembar demi lembar kerinduan di dalam buku harian, suara deru halus mesin sepeda motor mendadak membelah sunyi, lalu berhenti tepat di depan pintu pagar besi. Ayah mendongak, melayangkan pandang dari teras tempatnya bernaung. Detik itu juga, Beliau langsung mafhum siapa yang datang. Kehadiran yang memang sejak fajar tadi sudah dinanti-nantikan oleh sepasang mata tuanya.

Namun, hari ini kedatangan Raya sungguh di luar kebiasaan. Gadis itu tiba jauh lebih awal, melangkah masuk ke pekarangan rumah dengan jinjingan yang tampak berlipat ganda dari biasanya. Tak sendiri, sepasang mata teduh Ayah kini didera rasa penasaran tatkala menangkap sosok seorang pemuda bertubuh cukup tinggi yang berjalan beriringan di samping Raya. Pemuda itu dengan ringangan tangan membantu membawakan sebuah bingkisan berukuran lumayan besar.

Langkah kaki keduanya kian mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Dengan gestur yang teramat sopan, pemuda asing itu menundukkan tubuhnya, meraih jemari tua Ayah untuk disalimkan ke keningnya.

"Assalamualaikum. Pagi, Om," sapanya santun. Tak ada runtutan kalimat perkenalan yang berbelit-belit, ia hanya melemparkan sebaris salam yang disusul oleh seulas senyuman manis nan hangat.

"Waalaikumussalam. Pagi juga, Dek," balas Ayah tak kalah hangat, mencoba menyembunyikan keterkejutannya.

Meski demikian, gumpalan tanya yang memenuhi benak Ayah tak dapat disembunyikan dari gurat wajah sepuhnya. Sorot mata pria tua itu beralih, tertuju lurus kepada Raya—menuntut sebaris penjelasan yang gamblang. Namun, Raya justru bergerak gelisah, sebisa mungkin membuang muka demi menghindari kontak mata langsung dengan sang ayah. Menyadari atmosfer yang mulai dipenuhi kecurigaan, Raya buru-buru memangkas keheningan sebelum Ayah melayangkan pertanyaan yang lebih jauh.

"Namanya Niko, Yah. Raya sengaja minta tolong Niko untuk bantu bawakan barang-barang titipan dari anak bungsu Ayah," sela Raya tangkas, sengaja membawa-bawa nama Dyan agar perhatian Ayah seketika teralih.

Belum sempat Ayah mencerna kalimat itu, Raya sudah menoleh ke arah sang pemuda sambil menyentuh lengannya halus. "Yaudah, makasih banyak ya, Nik. Kamu mendingan langsung berangkat saja sekarang, nanti takutnya telat masuk kerja."

Raya sedikit mendorong bahu Niko, mengisyaratkan pemuda itu untuk segera angkat kaki dari teras rumah tanpa perlu memperpanjang durasi bertamu. Niko yang tampaknya peka dengan situasi, hanya mengangguk patuh. Ia kembali menyalami tangan Ayah dengan takzim sebelum akhirnya membalikkan badan, melangkah perlahan meninggalkan pelataran rumah hingga sosoknya benar-benar lenyap dari pandangan.

Kepergian Niko seketika meninggalkan ruang teras itu kembali diringkus oleh kecanggungan yang merayap tebal. Antara Ayah dan anak perempuan tengahnya kini digeluti rasa kaku yang kian mengunci mati obrolan. Ayah masih menatap nanar ke arah pagar, dirundung rasa penasaran yang teramat besar tentang siapa gerangan pemuda yang memiliki kedekatan khusus dengan putrinya itu. Namun melihat punggung Raya yang mendadak sibuk membongkar barang bawaan tanpa berniat bersuara, Ayah tahu, ada rahasia kecil yang sedang sengaja dikunci rapat-rapat oleh anak gadisnya pagi ini.

Demi mengusir kabut kaku yang kian tebal mengepung teras, Raya buru-buru masuk ke ruang makan membawa semua barang bawaan dan berlutut di dekat meja kayu. Jemarinya yang sedikit gemetar mulai membuka pengait besi rantang tiga susun yang dibawanya. Begitu tutup rantang teratas diangkat, kepulan uap hangat beraroma gurih rempah seketika membubung ke udara, menginvasi indra penciuman mereka. Harum adas manis, kapulaga, dan kunyit yang berpadu sempurna dalam sayur dhal kacang hijau itu langsung memotong sisa ketegangan yang ditinggalkan oleh kepergian Niko tadi.

"Ini Raya buatkan sayur dhal kesukaan Ayah. Masih hangat, tadi baru matang langsung Raya masukkan rantang," ucap Raya memecah sunyi. Suaranya diatur sedatar mungkin, sebuah tameng agar Ayah tidak kembali mengungkit perihal pemuda tinggi yang mengantarnya subuh tadi.

Ayah menatap lekat kuah kental berwarna kuning keemasan di dalam rantang tersebut. Aroma itu begitu akrab, membawa sepotong memori masa kecil Beliau yang jauh dan wajah mendiang Ibu yang seolah tersenyum di balik kepulan uapnya. "Aromanya... pas sekali, Ray. Persis seperti buatan Ibu dulu," bisik Ayah, matanya mendadak berkaca-kaca, namun Beliau buru-buru berdeham untuk menyembunyikan riak emosi itu.

Raya tidak menyahut. Ia hanya mengangguk pelan sembari beralih meraih bingkisan besar yang tadi dipanggul oleh Niko. Senyum haru di wajah Ayah seketika menyusut saat melihat Raya meletakkan bungkusan plastik tebal itu dengan suara bergedebuk yang lumayan berat di atas ubin.

"Kalau yang ini... kiriman dari Dyan, Yah," kata Raya, nadanya mendadak berubah menjadi lebih dingin. Raya menata semua bingkisan dari dyan di meja makan bersama dengan masakan makanan yang raya buatkan.

Ayah mengernyitkan dahi, menatap bingkisan besar itu dengan tatapan asing. "Dyan? Si bungsu kirim apa, Ray? Dia kan jauh di Riau."

Raya merobek isolasi plastik tersebut, memperlihatkan isinya satu per satu di hadapan Ayah. "Semalam Dyan menelepon Raya malam-malam, Yah. Dia bilang dia sibuk sekali di kantor, sering lembur jadi tidak sempat menelepon Ayah langsung. Tapi dia menitipkan uang dan daftar barang ini untuk dibelikan ke Ayah." Raya mengeluarkan beberapa botol suplemen vitamin mahal, dua kotak susu khusus lansia untuk tulang, alat pengukur tensi darah digital yang canggih, hingga sebungkus besar buah-buahan impor segar.

"Iya, Yah. Dyan bilang biar Ayah sehat di rumah sendirian. Dia minta maaf tidak bisa sering menelepon karena urusan kantornya padat," tambah Raya, yang tanpa sadar kalimatnya justru menorehkan luka baru di dada sang ayah.

Ayah memalingkan mukanya ke arah halaman rumah yang mendung. Beliau menarik napas panjang yang terasa begitu sesak dan menyiksa dadanya. Di mata Ayah, barang-barang mahal yang berjejer di atas ubin itu tidak lebih dari sekadar "uang tebusan" atas absennya kehadiran sang anak.

Ayah menggeser posisi duduknya mendekati meja makan, tepat di samping jajaran bingkisan mewah yang baru saja ditata rapi oleh Raya. Sepasang mata tuanya yang kuyu mulai menyusuri benda-benda itu satu per satu, menyentuh permukaan botol vitamin dan kotak susu mahal dengan ujung jemari yang gemetar.

"Dyan... apa ada bertanya kabar ayah lewat kamu, Ray?"

Lihat selengkapnya