Diary untuk Langit

sabrini Hardini
Chapter #5

Chapter #5

30 Maret 2025

Langit seolah enggan menanggalkan jubah kelabunya selama beberapa hari terakhir.

Hujan lebat yang turun tanpa ampun sukses merendam lingkungan kompleks perumahan, menyisakan genangan air pekat setinggi mata kaki.

Halaman depan rumah Ayah pun tak luput dari kepungan banjir akibat guyuran air yang tak kunjung putus selama dua hari berturut-turut.

Sejak pagi, Ayah terus berjalan mondar-mandir di teras depan dengan raut wajah gusar. Beliau menatap cemas riak air yang bergolak di pelataran pagar, takut jika debitnya mendadak melonjak dan merangsek masuk ke dalam ruang tamu. Kendati badai telah melandai menjadi rintik gerimis yang tipis, kecemasan di dada pria tua itu sama sekali belum surut.

Di tengah kecamuk rasa khawatir itu, sepasang mata tua Ayah menangkap sesosok wanita di ujung jalan kompleks. Dari kejauhan, tampak Laras sedang berjalan kepayahan menerjang genangan air banjir. Kedua tangannya direntangkan, menjinjing beberapa kantong plastik belanjaan dan sebuah tas berukuran besar dengan sangat tergopoh-gopoh.

Melihat anak perempuannya kepayahan berbagi beban di tengah gerimis, Ayah langsung melupakan nyeri di lututnya. Beliau bergegas turun dari teras, mengarungi air setinggi mata kaki untuk menyongsong Laras dan merebut sebagian jinjingan dari tangan sang anak. Tanpa banyak bicara, keduanya melangkah cepat kembali ke area kering. Mereka meletakkan seluruh barang bawaan itu dengan perlahan di atas lantai ubin teras.

Ayah menyapu pandangan ke arah lantai. Di sana terhampar tumpukan bahan sembako, namun perhatian Ayah justru terkunci sepenuhnya pada satu tas jinjing berukuran besar yang tampak padat.

"Loh... kamu sendirian kemari, Ras? Di mana anak-anak?" rentetan pertanyaan langsung meluncur dari bibir Ayah, memecah kecanggungan.

"Iya, Yah. Anak-anak sedang main ke rumah ibu mertua, pergi bareng sama ayahnya," jawab Laras sembari sibuk mengibaskan butiran air hujan yang menempel di lengannya.

"Lalu, kenapa barang bawaanmu banyak sekali seperti ini? Kenapa tadi tidak telepon Ayah saja supaya Ayah jemput pakai motor ke depan kompleks?" tutur Ayah, ada nada mengomeli yang menyamarkan rasa cemas seorang orang tua.

Laras tersenyum tipis, menatap genangan air di luar pagar. "Di luar banjir di mana-mana, Yah. Kalau Ayah memaksakan keluar rumah pakai motor, justru Ayah yang akan lebih kesulitan nanti."

"Lalu... tas besar ini untuk apa, Ras?" tanya Ayah langsung to the point, tak lagi mampu meredam rasa penasaran yang sejak tadi mengusik benaknya.

"Ini isinya baju-baju Laras, Yah."

Jawaban itu teramat singkat, namun sukses membuat Ayah tertegun di tempatnya. Jantungnya berdesir halus, dipenuhi spekulasi dan rasa heran tentang apa gerangan maksud dari anak perempuannya yang selama bertahun-tahun memilih menjaga jarak ini.

Laras menoleh, menatap lekat garis-garis kerutan di wajah sang ayah. Ia paham betul arti dari air muka Ayah yang mendadak pias penuh kebingungan. Sebelum Ayah berpikir terlalu jauh, Laras kembali membuka suara untuk meluruskan keadaan.

"Laras berencana mau menginap beberapa hari di sini, di rumah Ayah. Laras... mendadak rindu sekali dengan suasana rumah tua ini. Terlebih, Laras juga khawatir memikirkan kesendirian Ayah di rumah sesudah Ibu tidak ada."

Ayah sempat terpaku selama beberapa detik. Kalimat yang keluar dari mulut Laras terdengar begitu asing, hingga Ayah merasa seperti sedang salah mendengar. Setelah sekian lama perang dingin dan tumpahan ego yang memisahkan mereka, mendengar Laras berkata ingin pulang dan mengkhawatirkannya adalah sebuah mukjizat kecil yang menyejukkan hati. Namun, Ayah buru-buru menguasai diri. Ia sengaja tidak bertanya lebih dalam demi menjaga agar kehadiran Laras tidak berubah menjadi kecanggungan baru.

"Ya... syukur, Alhamdulillah kalau begitu. Akhirnya Ayah ada yang menemani di rumah," ucap Ayah, suaranya sedikit bergetar menahan haru. "Tapi, kenapa tidak sekalian diajak saja anak-anakmu kemari, Ras?"

"Tidak usahlah, Yah. Biarkan anak-anak menikmati liburan di rumah keluarga ayahnya saja dulu. Lagi pula di sana mereka punya banyak sepupu yang bisa dijadikan teman main."

"Ya, padahal Ayah juga rindu sekali dengan cucu-cucu Ayah. Nanti kalau liburan mereka sudah selesai, suruhlah mereka singgah sebentar ke sini," pinta Ayah penuh harap.

"Baiklah, Yah. Nanti Laras sampaikan ke anak-anak supaya mereka main kemari menemui kakeknya." Laras mengangguk hangat.

Ayah menatap pakaian Laras yang tampak lembap di beberapa sisi akibat cipratan air hujan. "Sudah, jangan berdiri di luar terus. Kamu masuk ke dalam, ganti bajumu dulu sana. Badanmu sudah agak basah kena hujan, nanti bisa masuk angin."

Keduanya melangkah masuk membelah keheningan rumah, membawa tumpukan jinjingan yang baru saja diselamatkan dari kepungan banjir. Ayah mengekor di belakang Laras, sepasang matanya terpaku lekat pada tas pakaian yang didekap anak perempuannya itu. Ada sejuta tanya yang mengantung di benak Ayah. Sungguh janggal melihat Laras tiba-tiba pulang untuk menginap, terlebih seorang diri tanpa riuh rendah anak dan suaminya. Ayah didera bimbang; ingin bertanya namun takut memicu rasa tidak nyaman, tetapi jika diam, kepalanya akan terus dipenuhi praduga. Pria tua itu sibuk mencari celah yang pas untuk membuka obrolan.

Laras mulai membongkar sembako, menyusunnya satu per satu ke dalam kabinet dapur dan lemari es. Ayah memilih duduk di kursi meja makan, mengamati setiap gerak-gerik Laras dalam diam yang pekat. Tak ada satu pun kata yang meluncur. Selesai di dapur, Laras beralih mengitari sudut rumah demi mengusir canggung. Ia merapikan meja makan, mencuci mangkuk kotor bekas sarapan lontong Ayah pagi tadi, hingga melangkah ke halaman belakang. Di bawah rimbunnya pohon mangga yang lebat, ia menyapu guguran daun kering hingga bersih tanpa sisa.

Usai menuntaskan urusan domestik, Laras melangkah masuk ke kamar tidur Ayah untuk merapikannya. Ayah kembali mengekor, membuntuti langkah putrinya dari belakang demi mencari kesempatan bicara. Tetap saja, sunyi mengunci mereka.

Saat sedang merapikan meja kerja Ayah, gerakan tangan Laras mendadak membeku. Sepasang matanya terpaku pada sebuah buku tulis yang sangat ia kenal.

Buku resep masakan Ibu, batin Laras bergetar. Namun, mengapa benda itu tergeletak di atas meja kerja Ayah? Apakah kerinduan pada Ibu sudah sedemikian hebat hingga membuat pria sekaku Ayah kini sudi membolak-balik catatan dapur peninggalan istrinya?

Dari belakang, Ayah menangkap sorot penuh tanya di mata Laras. Ayah sengaja bergeming, menunggu sang anak membuka suara agar rasa penasaran di antara mereka luruh. Namun, Laras memilih mengalihkan pandangan. Ia beralih menuju lemari pakaian, pura-pura sibuk melipat baju-baju Ayah. Keduanya kembali terjebak dalam labirin pikiran masing-masing, saling menunggu siapa yang akan melempar sauh pertama kali.

Setelah beberapa saat saling menyelami keheningan, Laras akhirnya menyerah dan memecah sunyi. "Ayah... masih sering mengunjungi makam Ibu?"

Ayah menarik kursi meja kerjanya, lalu mendudukkan diri perlahan. "Tentu saja, Nak. Kalau bisa, setiap hari Ayah mau berkunjung ke rumah baru Ibumu. Rasa rindu Ayah... masih belum berkurang sama sekali sampai hari ini."

"Ibu pasti senang di sana kalau Ayah sering datang menemui," sahut Laras lirih, jemarinya masih berpura-pura merapikan pakaian di lemari.

Ayah menyandarkan punggung, melanjutkan ceritanya tentang makam sang istri. "Ayah hanya sedang khawatir, Ras. Kabarnya banjir kali ini sudah mulai menggenangi area sekitar pemakaman. Padahal setiap kali ke sana, Ayah selalu membersihkan rumput liar di atas gundukannya."

"Ya sudah, nanti kalau banjirnya sudah surut, kita ke makam Ibu sama-sama ya, Yah. Laras juga sudah kangen sekali dengan Ibu."

"Ayo, boleh," jawab Ayah, seulas binar hangat mendadak terbit di wajah sepuhnya. "Kebetulan kemarin sore Ayah sempat melihat bibit tanaman kamboja di toko bunga. Ayah langsung teringat Ibumu. Ayah tahu betul, dia paling suka bunga kamboja."

Laras hanya melempar senyum tipis mendengarkan antusiasme Ayah. Namun, ada rasa getir yang mendadak menyengat dadanya. Ayah bercerita dengan begitu hidup, seolah-olah sedang merawat seseorang yang raga dan jiwanya masih ada di dunia ini. Kenangan masa lalu berputar di kepala Laras; dulu, Ayah hampir tak pernah punya waktu luang untuk Ibu karena sibuk dengan urusan luar rumah. Kini, realitas baru ini terasa begitu kontras dan memilukan.

Laras membalikkan badan, mencoba membelokkan arah pembicaraan menuju topik yang lebih serius. "Ayah... ngapain saja seharian kalau sendirian di rumah?" Laras ingin menelisik bagaimana Ayah menghabiskan waktu luangnya yang kini melimpah di rumah tua yang sunyi ini.

"Ya begitulah, Nak. Pagi-pagi Ayah masih bolak-balik ke kantor untuk absen. Kalau sempat, Ayah lanjut ke makam Ibumu. Siangnya ngobrol sebentar dengan Raya yang setiap hari selalu mengantarkan makanan siang dan malam untuk Ayah. Kalau senggang, Ayah duduk di teras mengobrol dengan tetangga kompleks. Malamnya, Ayah tidur. Rutinitas biasa saja, Ras."

"Ayah... tidak merasa bosan sendirian?" selidik Laras, matanya menatap dalam ke manik mata Ayah.

Lihat selengkapnya