30 Maret 2025
Langit seolah enggan menanggalkan jubah kelabunya selama beberapa hari terakhir.
Hujan lebat yang turun tanpa ampun sukses merendam lingkungan kompleks perumahan, menyisakan genangan air pekat setinggi mata kaki.
Halaman depan rumah Ayah pun tak luput dari kepungan banjir akibat guyuran air yang tak kunjung putus selama dua hari berturut-turut.
Sejak pagi, Ayah terus berjalan mondar-mandir di teras depan dengan raut wajah gusar. Beliau menatap cemas riak air yang bergolak di pelataran pagar, takut jika debitnya mendadak melonjak dan merangsek masuk ke dalam ruang tamu. Kendati badai telah melandai menjadi rintik gerimis yang tipis, kecemasan di dada pria tua itu sama sekali belum surut.
Di tengah kecamuk rasa khawatir itu, sepasang mata tua Ayah menangkap sesosok wanita di ujung jalan kompleks. Dari kejauhan, tampak Laras sedang berjalan kepayahan menerjang genangan air banjir. Kedua tangannya direntangkan, menjinjing beberapa kantong plastik belanjaan dan sebuah tas berukuran besar dengan sangat tergopoh-gopoh.
Melihat anak perempuannya kepayahan berbagi beban di tengah gerimis, Ayah langsung melupakan nyeri di lututnya. Beliau bergegas turun dari teras, mengarungi air setinggi mata kaki untuk menyongsong Laras dan merebut sebagian jinjingan dari tangan sang anak. Tanpa banyak bicara, keduanya melangkah cepat kembali ke area kering. Mereka meletakkan seluruh barang bawaan itu dengan perlahan di atas lantai ubin teras.
Ayah menyapu pandangan ke arah lantai. Di sana terhampar tumpukan bahan sembako, namun perhatian Ayah justru terkunci sepenuhnya pada satu tas jinjing berukuran besar yang tampak padat.
"Loh... kamu sendirian kemari, Ras? Di mana anak-anak?" rentetan pertanyaan langsung meluncur dari bibir Ayah, memecah kecanggungan.
"Iya, Yah. Anak-anak sedang main ke rumah ibu mertua, pergi bareng sama ayahnya," jawab Laras sembari sibuk mengibaskan butiran air hujan yang menempel di lengannya.
"Lalu, kenapa barang bawaanmu banyak sekali seperti ini? Kenapa tadi tidak telepon Ayah saja supaya Ayah jemput pakai motor ke depan kompleks?" tutur Ayah, ada nada mengomeli yang menyamarkan rasa cemas seorang orang tua.
Laras tersenyum tipis, menatap genangan air di luar pagar. "Di luar banjir di mana-mana, Yah. Kalau Ayah memaksakan keluar rumah pakai motor, justru Ayah yang akan lebih kesulitan nanti."
"Lalu... tas besar ini untuk apa, Ras?" tanya Ayah langsung to the point, tak lagi mampu meredam rasa penasaran yang sejak tadi mengusik benaknya.
"Ini isinya baju-baju Laras, Yah."
Jawaban itu teramat singkat, namun sukses membuat Ayah tertegun di tempatnya. Jantungnya berdesir halus, dipenuhi spekulasi dan rasa heran tentang apa gerangan maksud dari anak perempuannya yang selama bertahun-tahun memilih menjaga jarak ini.
Laras menoleh, menatap lekat garis-garis kerutan di wajah sang ayah. Ia paham betul arti dari air muka Ayah yang mendadak pias penuh kebingungan. Sebelum Ayah berpikir terlalu jauh, Laras kembali membuka suara untuk meluruskan keadaan.
"Laras berencana mau menginap beberapa hari di sini, di rumah Ayah. Laras... mendadak rindu sekali dengan suasana rumah tua ini. Terlebih, Laras juga khawatir memikirkan kesendirian Ayah di rumah sesudah Ibu tidak ada."
Ayah sempat terpaku selama beberapa detik. Kalimat yang keluar dari mulut Laras terdengar begitu asing, hingga Ayah merasa seperti sedang salah mendengar. Setelah sekian lama perang dingin dan tumpahan ego yang memisahkan mereka, mendengar Laras berkata ingin pulang dan mengkhawatirkannya adalah sebuah mukjizat kecil yang menyejukkan hati. Namun, Ayah buru-buru menguasai diri. Ia sengaja tidak bertanya lebih dalam demi menjaga agar kehadiran Laras tidak berubah menjadi kecanggungan baru.
"Ya... syukur, Alhamdulillah kalau begitu. Akhirnya Ayah ada yang menemani di rumah," ucap Ayah, suaranya sedikit bergetar menahan haru. "Tapi, kenapa tidak sekalian diajak saja anak-anakmu kemari, Ras?"
"Tidak usahlah, Yah. Biarkan anak-anak menikmati liburan di rumah keluarga ayahnya saja dulu. Lagi pula di sana mereka punya banyak sepupu yang bisa dijadikan teman main."
"Ya, padahal Ayah juga rindu sekali dengan cucu-cucu Ayah. Nanti kalau liburan mereka sudah selesai, suruhlah mereka singgah sebentar ke sini," pinta Ayah penuh harap.
"Baiklah, Yah. Nanti Laras sampaikan ke anak-anak supaya mereka main kemari menemui kakeknya." Laras mengangguk hangat.
Ayah menatap pakaian Laras yang tampak lembap di beberapa sisi akibat cipratan air hujan. "Sudah, jangan berdiri di luar terus. Kamu masuk ke dalam, ganti bajumu dulu sana. Badanmu sudah agak basah kena hujan, nanti bisa masuk angin."
Keduanya melangkah masuk membelah keheningan rumah, membawa tumpukan jinjingan yang baru saja diselamatkan dari kepungan banjir. Ayah mengekor di belakang Laras, sepasang matanya terpaku lekat pada tas pakaian yang didekap anak perempuannya itu. Ada sejuta tanya yang mengantung di benak Ayah. Sungguh janggal melihat Laras tiba-tiba pulang untuk menginap, terlebih seorang diri tanpa riuh rendah anak dan suaminya. Ayah didera bimbang; ingin bertanya namun takut memicu rasa tidak nyaman, tetapi jika diam, kepalanya akan terus dipenuhi praduga. Pria tua itu sibuk mencari celah yang pas untuk membuka obrolan.
Laras mulai membongkar sembako, menyusunnya satu per satu ke dalam kabinet dapur dan lemari es. Ayah memilih duduk di kursi meja makan, mengamati setiap gerak-gerik Laras dalam diam yang pekat. Tak ada satu pun kata yang meluncur. Selesai di dapur, Laras beralih mengitari sudut rumah demi mengusir canggung. Ia merapikan meja makan, mencuci mangkuk kotor bekas sarapan lontong Ayah pagi tadi, hingga melangkah ke halaman belakang. Di bawah rimbunnya pohon mangga yang lebat, ia menyapu guguran daun kering hingga bersih tanpa sisa.
Usai menuntaskan urusan domestik, Laras melangkah masuk ke kamar tidur Ayah untuk merapikannya. Ayah kembali mengekor, membuntuti langkah putrinya dari belakang demi mencari kesempatan bicara. Tetap saja, sunyi mengunci mereka.
Saat sedang merapikan meja kerja Ayah, gerakan tangan Laras mendadak membeku. Sepasang matanya terpaku pada sebuah buku tulis yang sangat ia kenal.
Buku resep masakan Ibu, batin Laras bergetar. Namun, mengapa benda itu tergeletak di atas meja kerja Ayah? Apakah kerinduan pada Ibu sudah sedemikian hebat hingga membuat pria sekaku Ayah kini sudi membolak-balik catatan dapur peninggalan istrinya?
Dari belakang, Ayah menangkap sorot penuh tanya di mata Laras. Ayah sengaja bergeming, menunggu sang anak membuka suara agar rasa penasaran di antara mereka luruh. Namun, Laras memilih mengalihkan pandangan. Ia beralih menuju lemari pakaian, pura-pura sibuk melipat baju-baju Ayah. Keduanya kembali terjebak dalam labirin pikiran masing-masing, saling menunggu siapa yang akan melempar sauh pertama kali.
Setelah beberapa saat saling menyelami keheningan, Laras akhirnya menyerah dan memecah sunyi. "Ayah... masih sering mengunjungi makam Ibu?"
Ayah menarik kursi meja kerjanya, lalu mendudukkan diri perlahan. "Tentu saja, Nak. Kalau bisa, setiap hari Ayah mau berkunjung ke rumah baru Ibumu. Rasa rindu Ayah... masih belum berkurang sama sekali sampai hari ini."
"Ibu pasti senang di sana kalau Ayah sering datang menemui," sahut Laras lirih, jemarinya masih berpura-pura merapikan pakaian di lemari.
Ayah menyandarkan punggung, melanjutkan ceritanya tentang makam sang istri. "Ayah hanya sedang khawatir, Ras. Kabarnya banjir kali ini sudah mulai menggenangi area sekitar pemakaman. Padahal setiap kali ke sana, Ayah selalu membersihkan rumput liar di atas gundukannya."
"Ya sudah, nanti kalau banjirnya sudah surut, kita ke makam Ibu sama-sama ya, Yah. Laras juga sudah kangen sekali dengan Ibu."
"Ayo, boleh," jawab Ayah, seulas binar hangat mendadak terbit di wajah sepuhnya. "Kebetulan kemarin sore Ayah sempat melihat bibit tanaman kamboja di toko bunga. Ayah langsung teringat Ibumu. Ayah tahu betul, dia paling suka bunga kamboja."
Laras hanya melempar senyum tipis mendengarkan antusiasme Ayah. Namun, ada rasa getir yang mendadak menyengat dadanya. Ayah bercerita dengan begitu hidup, seolah-olah sedang merawat seseorang yang raga dan jiwanya masih ada di dunia ini. Kenangan masa lalu berputar di kepala Laras; dulu, Ayah hampir tak pernah punya waktu luang untuk Ibu karena sibuk dengan urusan luar rumah. Kini, realitas baru ini terasa begitu kontras dan memilukan.
Laras membalikkan badan, mencoba membelokkan arah pembicaraan menuju topik yang lebih serius. "Ayah... ngapain saja seharian kalau sendirian di rumah?" Laras ingin menelisik bagaimana Ayah menghabiskan waktu luangnya yang kini melimpah di rumah tua yang sunyi ini.
"Ya begitulah, Nak. Pagi-pagi Ayah masih bolak-balik ke kantor untuk absen. Kalau sempat, Ayah lanjut ke makam Ibumu. Siangnya ngobrol sebentar dengan Raya yang setiap hari selalu mengantarkan makanan siang dan malam untuk Ayah. Kalau senggang, Ayah duduk di teras mengobrol dengan tetangga kompleks. Malamnya, Ayah tidur. Rutinitas biasa saja, Ras."
"Ayah... tidak merasa bosan sendirian?" selidik Laras, matanya menatap dalam ke manik mata Ayah.
"Tentu tidak, Nak. Ayah ini sudah tua, memang sudah masanya tidak banyak melakukan kegiatan lagi. Kalau bosan, Ayah tinggal tidur atau menonton televisi. Sudah biasa," kilah Ayah cepat, memamerkan ketegaran palsu agar anak perempuannya tidak didera rasa cemas.
Laras menarik napas panjang. "Lalu... kenapa Ayah tiba-tiba berhenti mengirim pesan di grup WhatsApp keluarga? Biasanya kan setiap pagi ponsel kami selalu penuh dengan tulisan panjang dari Ayah. Apa... Ayah marah karena anak-anak Ayah jarang membalas?"
"Ya tidaklah, Ras. Untuk apa Ayah marah?" Ayah terkekeh hambar, mencoba mencairkan suasana. "Ayah tahu kalian semua punya kesibukan masing-masing di kota. Ayah sangat paham. Lagian belakangan ini Ayah sering keasyikan mengobrol dengan tetangga di teras sampai lupa memegang ponsel." Ayah merakit alasan sekuat mungkin demi menyembunyikan luka batinnya dari Laras.
Laras mendekat, menatap sang ayah dengan pandangan iba. "Ayah berhenti kerja sajalah, Yah. Kasihan Ayah harus bolak-balik pagi-pagi dalam kondisi banjir begini. Lagian Ayah sendiri yang bilang kalau pekerjaan di kantor sudah tidak banyak karena sudah digantikan oleh anak-anak muda."
"Nantilah, Ras. Ayah akan berhenti kalau sudah benar-benar bosan. Sudah puluhan tahun bekerja membuat Ayah pasti kikuk kalau tiba-tiba hanya berdiam diri di rumah. Hitung-hitung di kantor Ayah masih punya teman mengobrol dan berbagi ilmu, apalagi anak-anak muda zaman sekarang masih sering butuh bimbingan orang tua seperti Ayah," ucap Ayah diakhiri tawa kecil yang dipaksakan untuk menghibur hati Laras.
Laras mengembunkan napas, mengalah pada keras kepalanya sang ayah. "Ya sudah. Kalau ada apa-apa, Ayah harus bilang ke kami ya. Laras usahakan kalau ada waktu senggang akan lebih sering menjenguk Ayah ke sini."
"Iya, boleh sekali, Ras. Pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar untuk anak-anak Ayah," sahut Ayah lembut. Namun, kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir Ayah justru bernada seperti sebuah palu hakim. "Tapi... kalau kamu mau menginap atau kemari lagi, pastikan kamu sudah berkabar dan meminta izin yang baik kepada suamimu ya, Ras."
Deg. Dada Laras mendadak terasa seperti dihantam batu besar. Ada rasa nyess yang teramat ngilu menjalar ke seluruh batinnya. Hubungan antara Ayah dan suaminya, Bayu, memang sudah lama mendingin dan tidak harmonis. Permasalahan masa lalu itu bagai bom waktu yang sengaja diabaikan, menggantung tanpa pernah diselesaikan dengan baik di antara keduanya. Laras seketika bungkam seribu bahasa. Ucapan Ayah barusan layaknya anak panah yang melesat tepat sasaran, menembus dinding rahasia mengenai badai rumah tangganya yang sedang ia sembunyikan rapat-rapat siang ini di bawah atap rumah masa kecilnya.
Di tengah keheningan kamar yang nyaris membeku oleh kecurigaan Ayah, jeritan mesin sepeda motor yang menderu keras mendadak membelah pelataran halaman rumah. Suara derit rem yang tajam menandakan kendaraan itu telah berhenti sempurna di dekat pagar. Bunyi yang terlampau bising itu seketika memicu rasa penasaran di dada Ayah dan Laras, memaksa keduanya beranjak dari posisinya dan melangkah bersama menuju teras depan demi melihat siapa gerangan yang bertamu di tengah cuaca mendung ini.
Begitu daun pintu terbuka, tampak sosok Raya berdiri di sana. Anak tengah itu menjinjing rantang makanan hangat yang seperti biasa ia siapkan khusus untuk mengisi perut Ayah. Namun, langkah kaki Raya seketika terpaku. Matanya membelalak tak percaya tatkala menangkap sosok kakak perempuan tertuanya tengah berdiri berdampingan bersama Ayah di ambang pintu. Raya tertegun, lidahnya mendadak kelu mendapati Laras yang semalam menangis di telepon, kini justru hadir secara nyata di rumah tua ini.
Ironisnya, keterkejutan Laras justru jauh lebih masif. Sorot mata Laras langsung terkunci pada sosok pemuda bertubuh tinggi kurus yang berdiri setia di samping adiknya. Niko. Pemuda yang sudah beberapa kali mengantar Raya ke rumah ini. Niko yang menyadari ada dua orang dewasa yang keluar menyambut kedatangan mereka, dengan sigap melangkah maju, menghampiri keduanya dengan gestur tubuh yang teramat santun. Meraih jemari Ayah dan Laras bergantian, ia menyalami mereka dengan takzim. Bagi Laras, ini adalah kali pertama ia bertatap muka dengan pemuda asing tersebut.
"Assalamualaikum, Kak. Niko, Kak," sapa Niko singkat, mengulas senyuman tipis tanpa embel-embel kalimat basa-basi yang berbelit.
Niko sengaja memangkas kalimat perkenalannya karena ia mengingat betul pesan rahasia yang diwanti-wanti oleh Raya sebelum mereka berangkat: jangan pernah memberi penjelasan panjang lebar kepada keluarganya. Raya teramat cemas jika benteng pertahanan yang dibangunnya runtuh oleh hujanan rentetan pertanyaan interogasi dari kakak-kakaknya. Gadis itu masih keras kepala ingin merahasiakan status hubungan mereka yang sebenarnya telah bergeser jauh, lebih dari sekadar ikatan pertemanan biasa.
Namun, ketegasan Niko justru memicu naluri kepo di dada Laras. "Oh, iya. Waalaikumussalam. Laras, kakaknya Raya," sahut Laras lurus. Matanya menyipit, meneliti penampilan Niko dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum melayangkan tembakan pertanyaan yang sangat teramat lugas. "Kamu... siapanya Raya?"
Laras tidak peduli apakah adiknya akan tersinggung atau tidak. Ego kakaknya menuntut sebuah jawaban instan demi menuntaskan rasa penasaran yang sudah menggebu-gebu di kepalanya.
"Eh, saya..." Kalimat Niko menggantung di udara.
Belum sempat pemuda itu merakit jawaban yang pas, Raya sudah bergerak tangkas memotong pembicaraan. Ia pasang badan di depan Niko, memutus kontak mata antara Laras dan kekasih rahasianya. "Ini Niko, teman Raya," sahut Raya dengan nada ketus, jutek, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk penjelasan tambahan.
"Teman apa teman?" goda Laras dengan senyum penuh selidik, menolak untuk menyerah begitu saja.
"Apa sih, Mbak? Orang memang cuma teman," sentak Raya, wajahnya merona menahan kesal sekaligus panik, berusaha mati-matian menjaga gerbang rahasianya agar tidak dibobol oleh sang kakak.