Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi, namun ketegangan di ruang tamu sudah membuat udara terasa mencekik. Bayu duduk di sofa seberang dengan tatapan gelisah yang berusaha ia sembunyikan di balik wajah angkuhnya. Di samping Ayah, Laras menunduk dalam, jemarinya meremas ujung daster dengan gemetar, menyembunyikan sisa air mata yang mengering di pipinya.
Ayah meletakkan cangkir tehnya perlahan. Bunyi denting keramik yang beradu dengan meja kaca terasa begitu nyaring dalam keheningan itu.
"Bayu," suara Ayah memecah kesunyian. Tenang, berat, namun memiliki penekanan yang membuat Bayu langsung menegakkan punggungnya. "Ayah yang meminta kamu datang ke sini sepagi ini. Kamu tahu kenapa?"
Bayu berdeham, mencoba mencairkan atmosfer. "Saya pikir... karena Laras sudah seminggu menginap di sini, Yah. Saya datang mau menjemputnya pulang. Maaf kalau Laras merepotkan Ayah."
Mendengar kata 'merepotkan', Laras sedikit tersentak, namun ia tetap memilih bungkam.
Ayah menatap menantunya itu lurus-lurus. Tatapan mata tua yang biasanya acuh, kini menembus langsung ke manik mata Bayu. "Laras anak kandungku, dia tidak pernah merepotkanku di rumahnya sendiri. Yang ingin Ayah tanyakan... badai apa yang sedang terjadi di rumah kalian, sampai anakku harus menahan tangis selama tujuh hari di sini?"
Bayu tampak terkejut. Ia melirik Laras dengan kilatan protes, mengira istrinya telah mengadu banyak hal. "Yah, dalam rumah tangga itu biasa ada cekcok kecil. Laras saja yang mungkin terlalu sensitif dan kekanak-kanakan sampai harus pulang ke rumah orang tua."
"Bayu!" suara Laras akhirnya pecah, bergetar menahan perih. "Cekcok kecil kamu bilang? Kamu memaki aku, mengabaikan aku, dan—" Laras tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Isaknya kembali lolos.
Darah Ayah berdesir panas. Ada kilatan amarah yang sempat melintas di dadanya—jiwa mudanya yang keras berteriak ingin mencengkeram kerah baju lelaki di hadapannya ini. Namun, bayangan Ibu dan janjinya semalam di dalam diary seketika menahan langkah Ayah. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir setan amarah.
Ayah mengusap bahu Laras lembut, menenangkan putrinya, lalu kembali menatap Bayu dengan ketenangan yang mengintimidasi.
"Bayu, dengarkan Ayah," ucap Ayah, suaranya melunak namun justru terasa lebih mengerikan bagi Bayu. "Dulu, Ayah mendidik Laras dengan tegas, tapi Ayah tidak pernah sekalipun membentaknya dengan kata-kata kasar, apalagi mengabaikan harga dirinya sebagai wanita. Ayah menyerahkannya kepadamu karena Ayah percaya kamu bisa menjadi imam yang melindunginya."
Bayu tertegun, lidahnya mendadak kelu melihat ketenangan Ayah yang di luar dugaannya. Ia mengira mertuanya yang kaku ini akan langsung memaki atau mengusirnya.
"Rumah tangga memang tempatnya masalah," lanjut Ayah, jemari tuanya kini beralih menggenggam tangan Laras yang dingin. "Tapi rumah tangga bukan tempat untuk menumpahkan ego dan menyakiti. Jika kamu merasa Laras ada salah, bicarakan sebagai laki-laki. Bukan dengan cara membuat anak perempuan yang aku besarkan dengan susah payah ini harus menangis ketakutan di bawah atapku."
"Saya... saya minta maaf, Yah. Saya tidak bermaksud..." Bayu mulai gugup, kesombongannya luruh perlahan.
Ayah menggeleng pelan. "Maafmu bukan untuk Ayah, Bayu. Tapi untuk istri yang sudah kamu sakiti hatinya."
Ayah bangkit berdiri, memberikan ruang bagi keduanya. Sebelum melangkah pergi ke kamarnya, Ayah berbalik dan menatap Bayu sekali lagi.
"Hari ini, Laras tetap tinggal di sini dulu. Ayah ingin kalian berdua bicara berdua di ruang tengah ini tanpa emosi. Selesaikan dengan kepala dingin. Tapi ingat satu hal, Bayu... Ayah memang sudah tua, tapi selagi napas Ayah masih ada, Ayah tidak akan pernah membiarkan siapapun melukai anak perempuan Ayah. Termasuk suaminya sendiri."
Ayah melangkah pergi, meninggalkan ruang tamu yang kini diselimuti penyesalan Bayu dan tangis lega dari Laras yang merasa akhirnya memiliki pelindung. Di dalam kamar, Ayah mendekati meja kerjanya, menatap foto Ibu sambil berbisik lirik,
"Ayah berhasil tenang hari ini, Bu..."
Sementara itu, di dalam ruang tamu, keheningan merayap begitu pekat. Lima menit berlalu tanpa ada satu pun kata yang melintasi udara di antara Laras dan Bayu. Hanya ada deru napas tertahan dan kecanggungan yang mencekik.
Bayu melirik ragu ke arah istrinya yang masih membeku. Perlahan, ia beranjak dari tempat duduknya, mengikis jarak, lalu menempatkan diri tepat di sebelah Laras. Tangan kanan Bayu terulur, meraih jemari Laras yang sedari tadi terkunci di atas pangkuan. Namun, Laras tetap membuang wajah. Sorot matanya tertuju pada sudut lain ruang tamu, enggan menatap lelaki yang telah menggoreskan luka di hatinya. Emosi dan rasa sakit itu masih ada, bergejolak di balik dadanya yang naik-turun. Jika bukan karena wejangan tenang dari sang Ayah sebelum masuk ke kamar tadi, Laras mungkin sudah meledak.
"Bunda..." ucap Bayu memecah kesunyian, suaranya parau seraya mengusap lembut punggung tangan kiri Laras.
Laras masih bergeming, mematung seperti patung lilin. Bayu terdiam sejenak, menatap profil samping wajah istrinya, menanti sahutan dari panggilan kesayangan yang biasa ia lontarkan.
"Aku minta maaf, Bun. Maaf karena aku terlambat menjemputmu ke sini," lanjut Bayu, kini suaranya terdengar lebih bergetar. "Aku tahu kali ini aku salah besar. Sikapku kemarin sudah sangat keterlaluan. Tapi... aku sungguh pengecut untuk langsung menemuimu di rumah Ayah. Aku didera ketakutan, membayangkan bagaimana jika Ayah marah besar karena tahu kesalahanku."
Tetap tidak ada respons. Laras membiarkan suaminya bermonolog dengan rasa bersalahnya sendiri.
"Tapi, ketenangan Ayah tadi jujur membuatku sangat lega, Bun," Bayu menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. "Kamu boleh tinggal di sini beberapa hari lagi, seperti yang Ayah katakan. Aku tahu kesalahanku tidak akan bisa dimaafkan dengan cepat. Gunakanlah waktu di sini untuk menjernihkan pikiranmu, aku tidak akan memaksamu cepat-cepat pulang. Biar anak-anak aku yang urus sementara waktu."
Bayu kembali terdiam. Otaknya berputar cepat, mencari topik lain yang sekiranya bisa meruntuhkan dinding pertahanan Laras.
"Anak-anak terus menanyakanmu, Bun. Tapi sudah kukatakan pada mereka untuk tidak mengganggumu dulu. Kalau kamu memang masih ingin lebih lama di sini, bagaimana kalau besok anak-anak kuantarkan ke sini saja agar bisa tidur bersamamu?"
Rupanya, nama buah hati mereka menjadi kunci. Laras perlahan membetulkan posisi duduknya. Perlahan, jemarinya bergerak membalas genggaman tangan Bayu.
"Izinkan aku tinggal beberapa hari lagi di rumah Ayah, ya," suara Laras akhirnya keluar, terdengar letih namun tegas. "Aku ingin menghabiskan waktu dengan Ayah, sekaligus menjernihkan pikiranku. Aku juga ingin melihat kesungguhan dari maafmu ini. Jika kamu memang merasa bersalah, kamu harus janji untuk berubah, Mas."
Setitik kelegaan membuncah di dada Bayu. Begitu Laras mulai merespons dan memanggilnya 'Mas', ia tahu badai ini mulai mereda.