Diary untuk Langit

sabrini Hardini
Chapter #7

Chapter #7

Gerimis dini hari menyisakan hawa dingin yang merayap keras, memeluk bumi dalam keheningan yang lebih sunyi dari biasanya. Di kejauhan, sayup-sayup suara mengaji dari pengeras suara masjid mengalun membelah fajar. Waktu baru menunjukkan pukul setengah lima pagi, ambang magis menjelang azan subuh berkumandang.

Di dalam kamar yang temaram, Ayah masih tenggelam dalam tidur yang amat lelap. Tampaknya, jemarinya baru berhenti menari di atas lembar-lembar buku harian menjelang tengah malam tadi. Rasa kantuk yang luar biasa telah merantai kesadarannya, membuatnya tak berdaya untuk terjaga sebelum fajar menyapa.

Laras, yang sudah lebih dulu terbangun, melangkah tanpa alas kaki lalu mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Melihat sang ayah yang masih terbuai mimpi begitu pulas, hatinya melunak. Ia memutuskan untuk membiarkan pria tua itu beristirahat sedikit lebih lama. Nanti saja, setelah azan benar-benar berkumandang, baru aku bangunkan, batinnya. Laras kemudian berbalik menuju kamar mandi, bersiap karena harus segera berangkat kerja selepas subuh. Bunyi klik pelan dari pintu yang tertutup sama sekali tidak mengusik tidur sang ayah.

Kringgg!

Ponsel di atas nakas mendadak menjerit nyaring. Getarannya beradu dengan kayu meja, tetapi Ayah terlalu larut dalam letihnya hingga panggilan pertama itu terabaikan begitu saja. Tak berselang lama, dering kedua menyusul, memecah kesunyian kamar. Tetap tidak ada pergerakan. Rasa kantuk yang teramat berat mengunci kelopak matanya, membiarkan panggilan kedua itu menguap dan mati di udara.

Namun, si penelepon di ujung sana tampaknya menolak untuk menyerah. Dering ketiga kembali memekakkan telinga. Kali ini, Ayah tersentak. Kesadarannya ditarik paksa dari alam mimpi. Dengan mata yang masih buram, ia meraih ponselnya. Begitu layar menyala, kantuknya seketika sirna digantikan debar jantung yang berpacu cepat. Nama "Dyandra Putri Kusuma" berkedip di sana.

Putri bungsu kesayangannya menelepon sepagi ini? Jantung Ayah mencelos. Rasa kaget dan firasat buruk langsung menyergap dada. Tanpa membuang waktu untuk mengumpulkan sisa kesadaran, ibu jarinya gemetar menyapu ikon berwarna hijau.

“Halo, Nak? Ada apa?” Suara Ayah terdengar serak dan berat, sarat akan kecemasan yang tertahan sembari menunggu jawaban.

Hening sejenak. Namun, bukan kalimat penenang yang menyambutnya, melainkan rintihan tangis kecil yang menyayat hati. Suara di seberang sana terdengar putus-putus, lirih, dan begitu rapuh di kesunyian subuh itu. Kepanikan menjalar hebat di sekujur tubuh Ayah. Ia segera membenarkan posisinya yang semula berbaring, langsung duduk tegak dengan dada yang bergemuruh hebat, mencengkeram ponselnya lebih erat seolah takut kehilangan suara putrinya.

“Halo, Nak? Ada apa, Sayang? Kenapa kamu menangis?” Suara Ayah bergetar, sarat akan desakan rasa panik.

Bukannya jawaban yang didapat, isak tangis di seberang sana justru pecah, terdengar lebih keras dan histeris dari sebelumnya. Respons Dyandra membuat dada Ayah kian bergemuruh hebat akibat kepanikan yang merayap liar. Dengan kening berkerut dalam, ia menjauhkan ponsel dari telinga, menatap layarnya lekat-lekat sekadar memastikan. Apakah ini benar-benar putri bungsunya? Ataukah ini hanya salah sambung? Namun, layar digital itu tetap berkedip dingin, menampilkan nama anak kesayangannya tanpa salah.

Ayah kembali menempelkan ponsel ke telinga, menekan suaranya sedapat mungkin agar terdengar tegar. “Halo, Nak. Coba tenang dulu, ya? Katakan pelan-pelan pada Ayah, apa yang terjadi? Kamu kenapa dan di mana sekarang?”

“Ayaahhh....” Suara Dyandra bergetar hebat. Gadis itu bersusah payah merangkai kata di sela-sela tangisnya yang tersedak. “Ayah... tolong Dyan, Yah. Bagaimana ini, Yah?” Kalimat itu terputus, disusul oleh tangisan yang kian menjadi-jadi, menyiratkan keputusasaan yang mendalam.

Jantung Ayah serasa dihantam godam. Otaknya berputar liar, menebak-nebak skenario terburuk apa yang sedang menimpa putri kecilnya hingga sehancur itu. Selagi menunggu Dyandra sanggup berbicara, segala kemungkinan buruk menari-nari di kepala, menggerogoti ketenangannya sepagi ini.

“Nak, ceritakan pada Ayah dengan tenang. Ayah tidak bisa paham kalau kamu bicara seperti ini. Coba tenangkan dirimu dulu, Sayang,” bujuk Ayah, menahan getar ketakutannya sendiri.

Mendengar usapan verbal dari sang ayah, Dyandra tampaknya mulai mencoba menguasai diri.

“Coba tenang, Nak. Tarik napas dalam-dalam,” bimbing Ayah, memandu dari jarak jauh.

Di ujung telepon, terdengar helaan napas yang berat dan gemetar. Dyandra sedang berjuang keras mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.

“Ayah... tolong Dyan, Yah. Dyan tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi. Dyan harus bagaimana sekarang?” Kalimatnya mengalir lebih lambat, dibalut isak tangis yang mati-matian ia tahan di tenggorokan.

“Iya, Nak. Ayah pasti tolong. Tapi apa yang terjadi?” Desakan rasa ingin tahu membuat Ayah semakin gusar. Ketidakpastian ini menyiksanya, memicu pikirannya untuk terus menerka-nerka labirin masalah yang menjerat putrinya.

“Dyan ditipu orang, Yah....” Pertahanan gadis itu runtuh total; tangisnya pecah lagi, menggelegar di kesunyian subuh.

Ayah terkesiap. Napasnya tercekat di tenggorokan. “Ditipu? Ditipu bagaimana maksudnya, Nak?”

“Uang perusahaan hilang, Yah! Dyan ditipu orang. Dyan tidak tahu harus berbuat apa sekarang... Tolong Dyan, Ayah.”

Uang? Hilang? Ditipu?

Kata-kata yang meluncur terbata-bata dari bibir Dyandra menghantam kesadaran Ayah seperti badai. Kepanikan menjalar hingga ke ujung jemarinya. Detik itu juga, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk langsung terbang ke sana, mendekap putri bungsunya, memberi ketenangan, dan mendengar langsung seluruh kronologinya. Namun, bentangan jarak yang teramat jauh di antara mereka seketika menyadarkannya, memicu rasa geram yang tak berdaya di dalam dada.

“Hilang bagaimana, Nak? Kok bisa sampai seperti itu?” tanya Ayah, suaranya kini meninggi akibat syok.

“Dyan tidak tahu, Yah... Dyan seperti tidak sadar saat mengirimkan uang sebanyak itu ke orang yang baru Dyan kenal.” Tangis Dyandra terdengar kian meranggas.

Tenggorokan Ayah mendadak kering kerontang. Dengan sisa keberanian yang tersisa, ia melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti. “Berapa... berapa uang yang hilang, Nak?”

“Enam ratus juta, Yah...”

Kata-kata itu meluncur pelan, tetapi efeknya seperti hantaman godam yang meremukkan dada Ayah. Ia terkesiap, lalu seketika mematung. Udara subuh yang dingin mendadak terasa mencekik, seolah-olah sebilah senjata tajam baru saja melesat tanpa bisa dielakkan, menghunjam tepat di ulu hatinya. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin putri bungsunya terperosok ke dalam lubang sedalam ini? Naluri seorang ayah mendesaknya untuk segera berlari, terbang, atau melakukan apa saja untuk mendekap Dyandra. Namun, realitas bentangan jarak yang teramat jauh menghempaskannya kembali pada ketidakdayaan. Jarak mengunci kedua kakinya, membuatnya geram dalam kepasrahan.

“Ya Allah, Nak... itu uang yang sangat banyak. Di mana kita harus mencari uang sebanyak itu?” bisik Ayah, suaranya parau, nyaris kehilangan tenaga.

Namun, menyadari badai yang sedang mengamuk di kepala putrinya, Ayah buru-buru menepis syoknya sendiri. Ia harus menjadi jangkar di tengah kekalutan ini. Pikiran buruk mulai membayangi; ia takut Dyandra mengambil keputusan konyol jika dibiarkan sendirian dalam kondisi rapuh seperti ini.

“Kamu... kamu dengan siapa sekarang, Nak?” tanya Ayah, berusaha menjaga suaranya tetap tenang dan stabil.

“Dyan sedang sendiri, Yah...”

Jawaban itu membuat dada Ayah kian bergemuruh. “Kamu sudah mengabari Abang Dani?”

“Belum, Yah...” Suara Dyandra kembali bergetar hebat begitu nama sang kakak disebut. Ada ketakutan yang teramat pekat, bercampur dengan rasa bersalah yang menggunung dalam isakannya. “Jangan... jangan kasih tahu Abang Dani dulu, Yah. Dyan takut. Dyan tidak mau membuat Abang marah. Dia sudah terlalu banyak menanggung beban masalah, Yah. Tolong Dyan, Yah... Dyan harus bagaimana?” ratapnya lirih, menyiratkan keputusasaan yang mendalam di ujung telepon.

Otak Ayah berputar cepat, mencari cara untuk meredam kepanikan Dyandra sebelum gadis itu benar-benar runtuh.

“Iya, tenang, Nak. Ayah pasti bantu kamu dari sini. Tapi dengarkan Ayah,” ucap Ayah dengan nada tegas namun lembut, mencoba menyalurkan kekuatan. “Ayah tidak bisa berbuat apa-apa dari jarak sejauh ini. Yang paling utama sekarang adalah kamunya dulu. Kamu harus tenang, jangan panik. Jangan mengunci diri dan menyembunyikan ini dari abangmu. Satu-satunya orang yang bisa merangkul dan melindungimu dari dekat di sana... cuma Dani, Nak. Kalau kita tidak memberi tahu Dani, bagaimana Ayah bisa memantau kondisimu dan mengirimkan bantuan?”

Di seberang sana, Dyandra terdiam. Kata-kata Ayah laksana tamparan realitas yang dingin. Namun, bayangan wajah Dani seketika melintas, memicu rasa takut yang luar biasa. Rasa bersalah dan penyesalan yang teramat dalam menyumbat tenggorokannya; ia benar-benar bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya. Di matanya, situasi Dani saat ini sudah sangat pelik. Mengabarkan musibah ini sama saja dengan membuat posisi abangnya seperti pepatah kuno: sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Meski begitu, jauh di lubuk hatinya, Dyandra tahu Ayah benar. Dia kini hanya sebatang kara di tanah rantau. Mengandalkan suara Ayah yang sayup-sayup di ujung telepon tidak akan mengubah keadaan detik ini juga. Orang yang secara otomatis harus tahu pertama kali, orang yang bisa berlari menyelamatkannya saat ini, tidak lain adalah abangnya sendiri yang bernapas di bawah langit kota yang sama.

Namun, pertanyaan itu terus mencengkeram benaknya dengan kejam: Bagaimana mungkin ia sanggup menatap mata Dani dan mengakui kehancuran yang telah ia perbuat?

“Begini saja, Nak. Kamu jangan matikan telepon ini. Biar Ayah yang menghubungi Dani dan menjelaskan situasimu sekarang,” putus Ayah, berusaha mengambil alih kendali di tengah badai yang melanda.

Hanya suara isak tangis yang tertahan yang kembali terdengar dari ujung saluran. Keheningan subuh itu mendadak terasa begitu berat dan menyiksa.

Sementara itu, dari arah dapur, Laras menangkap sayup-sayup kegaduhan. Suara Ayah yang biasanya tenang kini terdengar bergetar hebat dalam kepanikan yang janggal. Didorong rasa penasaran yang bercampur cemas, Laras melangkah cepat mendekati kamar tidur sang ayah.

“Ayah? Ayah telepon siapa kok kedengarannya panik sekali? Ada apa, Yah?” tanya Laras, menghentikan langkahnya di ambang pintu.

Ayah menoleh ke sumber suara. Detik itu juga, Laras terkesiap. Kepanikan tidak lagi hanya terdengar dari nada bicara Ayah, melainkan sudah terlukis jelas pada guratan-guratan pucat di wajah tuanya.

“Kenapa, Yah? Siapa yang telepon?” desak Laras, firasat buruknya kian menguat melihat keanehan yang terpancar dari mata sang ayah.

“Adikmu, Ras... Dyandra.”

“Ada apa dengan Dyan?”

Tanpa menunggu jawaban panjang, Laras bergerak cepat. Direbutnya ponsel dari genggaman lemah Ayah, lalu jari jemarinya dengan cekatan menekan tombol pengeras suara. Seketika itu juga, rintihan tangis yang lirih dan bergetar memenuhi ruang kamar. Udara subuh yang dingin mendadak terasa membeku. Pertahanan Laras runtuh; ia disergap kepanikan yang sama besarnya dengan apa yang dirasakan Ayah beberapa menit lalu.

“Dyan? Apa? Ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?” cecar Laras, mencondongkan tubuhnya ke arah ponsel.

“Mbaaakkk...” Suara Dyandra tercekat. Gadis itu kembali kehilangan kemampuan untuk merangkai kata. Ia mati-matian menahan buncahan tangis di dada, namun pertahanannya hancur lebur.

“Ada apa sebenarnya, Yah?” Laras berbalik, menuntut penjelasan dari sang ayah dengan mata melebar.

Dengan helaan napas yang teramat berat, seolah dada tuanya sedang memikul beban seisi bumi, Ayah mulai menyusun kata demi kata. “Ayah belum tahu pasti kronologinya, Ras. Tapi... Dyan bilang dia baru saja ditipu orang. Uang perusahaannya hilang... enam ratus juta rupiah.”

“Hah?! Enam ratus juta, Yah?” Suara Laras meninggi, nyaris menjerit akibat syok yang menghantam kesadarannya. Angka itu bukan jumlah yang sedikit bagi keluarga mereka. Bagaimana bisa adiknya yang cerdas melakukan kecerobohan sekosal itu?

Ayah tidak mampu bersuara lagi. Beliau hanya mengangguk, sebuah gestur pasrah yang menyiratkan kepedihan mendalam.

“Lalu bagaimana, Yah? Apa Abang Dani sudah tahu?”

“Itu masalahnya, Ras. Dyan ketakutan. Dia merasa bersalah dan tidak berani memberi tahu Dani. Dia sempat melarang Ayah untuk menelepon abangmu, tapi Ayah bilang kita tidak punya pilihan. Kita harus jujur, karena satu-satunya orang yang bisa merangkul Dyan detik ini hanya Dani.”

“Oke, sebentar. Laras telepon Dani sekarang.”

Sebelum berbalik menuju kamarnya untuk mengambil ponsel, Laras mendekatkan wajahnya ke arah mikrofon. Suaranya melunak, mencoba menyalurkan sisa-sisa ketenangan yang ia miliki untuk sang adik yang tengah sekarat dalam kekalutan.

“Dyan, dengarkan Mbak. Sekarang kamu tenang, ya? Jangan panik, jangan terlalu kalut. Mbak dan Ayah posisinya jauh dari kamu, kami tidak bisa langsung datang ke sana. Kalau kamu makin gusar, kami di sini akan semakin panik dan bingung harus menolongmu bagaimana. Sekarang, ambil minum, tarik napas, tenangkan dirimu. Jangan matikan teleponnya, biar tetap tersambung supaya kami tahu kondisimu, Dek.”

Ayah kembali mengambil alih ponsel, terus membisikkan kata-kata penenang untuk putri bungsunya. Sementara itu, Laras setengah berlari menuju kamarnya, menyambar ponsel di atas meja, dan dengan jemari yang gemetar mencari nama kontak Dani.

Ia menekan tombol panggil. Sial. Layar ponselnya hanya menampilkan tulisan “Memanggil...” tanpa ada nada sambung yang berdering. Nomor Dani tidak aktif.

Kepanikan seketika memenuhi ruangan, merayap di sela-sela dinding kamar. Ayah yang melihat kegusaran Laras kian tak tenang, meski bibirnya masih sibuk menuntun Dyandra untuk beristigfar. Kening pria tua itu mengkerut begitu dalam, berpikir keras mencari jalan keluar dari labirin masalah yang mendadak mengurung keluarga mereka sepagi ini.

“Bagaimana, Ras? Belum tersambung juga ke Dani?” tanya Ayah, suaranya parau menahan cemas.

“Tidak tahu nih, Yah. Nomornya tidak aktif.”

“Coba telepon ke nomor istrinya saja, Ras!” seru Ayah memberi usulan.

“Aduh... kenapa Laras bisa lupa, ya?”

Laras baru saja berniat menekan tombol merah untuk membatalkan panggilan tak berbalas itu. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh layar, sebuah keajaiban kecil terjadi. Panggilan itu mendadak tersambung, mengubah tulisan di layar menjadi detik yang berjalan.

“Ya, halo, Mbak? Kenapa?” Suara berat Dani terdengar dari seberang sana, terdengar masih setengah mengantuk.

“Halo, Dek! Kamu di mana sekarang?” potong Laras tanpa basa-basi, suaranya naik satu oktav akibat adrenalin yang terpompa cepat. “Cepat temui Dyan di kontrakannya, Dek! Sekarang juga!”

Lihat selengkapnya