Pintu kayu jati itu tertutup dengan dentuman pelan, namun gema marah dari ruang rapat tadi seolah masih merontokkan isi kepala Dani. Tatapan menghakimi dari para jajaran direksi dan bentakan dingin dari atasannya terus berputar seperti kaset rusak, meremas habis sisa-sisa harga diri yang ia miliki.
Dani menyandarkan punggungnya pada pintu ruang kerja pribadinya yang sunyi. Ia memejamkan mata erat-erat, menarik napas panjang yang terasa mencekik tenggorokan. Dasinya sudah melonggar seadanya, dua kancing kemeja teratasnya terbuka, dan rambutnya berantakan akibat jemari yang terus-menerus menjambaknya sepanjang rapat tadi. Bahunya merosot, memikul beban puluhan miliar rupiah uang perusahaan yang menguap begitu saja karena kecerobohan adiknya. Dani benar-benar berada di titik nadir frustrasinya; ia lelah, marah, dan merasa gagal.
Di sudut ruangan, duduklah Dyan di atas sofa kulit hitam. Tubuh adiknya itu tampak begitu kecil, meringkuk dengan kedua lutut ditekuk ke dada. Sejak Dani masuk, Dyan tidak berani mendongak sedikit pun. Jemarinya gemetar hebat, terus meremas ujung sweternya yang lembap oleh air mata. Ruangan itu mendadak menjelma menjadi ruang hampa udara yang mencekam.
Dani melangkah berat, mendekat ke arah meja kerjanya. Dengan kasar, ia menghempaskan tumpukan dokumen audit ke atas meja hingga menimbulkan suara gebrakan yang membuat Dyan terlonjak ketakutan.
Dani duduk di meja kerjanya. Dani tertunduk dengan kedua telapak tangan menopang wajahnya. Beberapa saat ia terbenam, dani menurunkan telapak tangan dari wajahnya. Tatapannya kini mengunci Dyan, bukan lagi dengan ledakan amarah, melainkan dengan tatapan dingin dan menuntut yang jauh lebih mengintimidasi. Ruangan itu kembali hening, hanya menyisakan suara isak tangis Dyan yang tertahan.
"Sekarang, tatap Mas, Dyan," perintah Dani, suaranya rendah namun tak terbantahkan. "Jangan cuma menangis. Tolong jelaskan, bagaimana bisa anak lulusan sarjana akuntansi seperti kamu menyerahkan uang puluhan miliar dalam hitungan jam?"
Dyan perlahan mendongak, matanya sembap dan hidungnya memerah. Keberaniannya ciut melihat gurat lelah dan frustrasi yang terpatri jelas di wajah kakaknya.
"Dia... dia bilang dia perwakilan dari kementerian, Mas," ucap Dyan terbata-bata, suaranya bergetar hebat. "Dia tahu semua detail proyek tender kita bulan depan. Dia tahu nama direktur kita, tahu nomor kontrak kerja kita, bahkan tahu kalau kita sedang butuh percepatan izin dari pusat."
Dani menyipitkan mata, otaknya yang penat dipaksa berpikir cepat. "Lalu? Apa hubungannya dengan mengirim uang operasional vendor?"
"Dia bilang... ada pemeriksaan mendadak dari badan audit pusat pagi ini. Kalau uang jaminan jaminan proyek kita tidak segera disetor ke rekening penampungan sementara dalam waktu dua jam, seluruh legalitas perusahaan kita dibekukan, dan nama Mas Dani yang bakal diseret sebagai penanggung jawab utama karena kelalaian dokumen," Dyan mulai terisak lagi, mengingat ancaman telepon subuh itu. "Dyan panik, Mas. Dia terus-menerus meneror lewat telepon, bilang kalau Mas Dani bisa langsung dipenjara hari ini juga kalau Dyan tidak bergerak cepat."
Dani tercengang. Amarahnya mendadak surut, digantikan oleh rasa ngeri yang dingin. "Jadi... kamu melakukan ini karena mengira sedang menyelamatkan Mas?"
Dyan mengangguk cepat, air matanya kembali meluncur deras. "Dyan takut Mas Dani kenapa-kenapa. Dyan tahu Mas baru saja dapat promosi dan Mas sangat memperjuangkan proyek ini. Orang itu tahu semua hal tentang Mas! Dyan pikir... Dyan pikir Dyan bisa menyelesaikan masalah ini sebelum Mas bangun tidur. Dyan ga mau abang terkena masalah lagi setelah kasus pengelapan uang dari faisal. Namun, Dyan nggak tahu kalau nomor rekening itu palsu, Mas..."
Mendengar pengakuan itu, Dani menyandarkan kepalanya ke tepian sofa, menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong. Kebodohan Dyan ternyata berakar dari rasa sayang dan kepanikan untuk melindunginya. Namun, fakta bahwa penipu itu mengetahui detail internal sedalam itu memicu alarm bahaya lain di kepala Dani. Ada yang tidak beres. Ini bukan sekadar penipuan acak.
Ponsel Dani yang tergeletak di atas meja kerja tiba-tiba bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Ayah' yang memanggil. Dani menatap benda itu dengan dada yang mendadak sesak. Rasanya ia belum siap menghadapi suara tua yang sarat akan kecemasan itu.
Namun, dering yang tak kunjung berhenti memaksa Dani untuk menggeser tombol hijau. Ia menarik napas sedalam mungkin, mencoba menyingkirkan sisa-sisa getaran frustrasi dari suaranya sebelum mendekatkan ponsel ke wajah.
"Halo, Assalamualaikum, Yah," sapa Dani, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
"Waalaikumussalam. Dani..." suara Ayah bergetar, penuh ketakutan yang tertahan. "Bagaimana, Dan? Ayah dan Raya dari tadi tidak bisa tenang. Kamu sudah selesai menghadap atasanmu? Apa kata mereka tentang masalah Dyan?"
Raya langsung menyela dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan. "Mas Dani, tolong jujur sama kami. Manajemen bilang apa? Mereka nggak bakal bawa Dyan ke jalur hukum, kan? Dyan nggak bakal ditangkap polisi, kan, Mas?"
Mendengar rentetan pertanyaan itu, Dani sempat terdiam beberapa detik. Ia melirik ke arah Dyan yang masih meringkuk di sofa. Begitu mendengar suara Ayah dan Raya, Dyan langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, berusaha mati-matian agar suara tangisnya tidak bocor ke dalam telepon. Dani membuang muka, tidak sanggup menatap mata penuh sang adik yang tengah terpuruk.
"Dani baru saja keluar dari ruang rapat, Yah, Raya," ucap Dani lirih. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Keputusan dari atas... sangat berat. Perusahaan tidak mau tahu alasan Dyan ditipu atau panik. Yang mereka tahu, uang operasional ratusan juta yang hilang karena kelalaian Dyan."
"Lalu... apa konsekuensinya, Dan?" tanya Ayah, suaranya nyaris berupa bisikan yang tercekat di tenggorokan.
Dani mengembuskan napas berat, merasakan dadanya seolah dihantam godam tak kasatmata. "Manajemen memberi waktu satu bulan," ucapnya, suaranya bergetar menahan beban yang teramat sangat. "Uang itu harus diganti utuh. Beserta seluruh kerugian akibat penggelapan yang dilakukan Faisal. Totalnya... hampir tiga miliar rupiah."
Dani menjeda kalimatnya. Tenggorokannya mendadak sekesat padang pasir, menyisakan rasa perih yang menjalar hingga ke dada. "Jika dalam sebulan uang itu tidak kembali..." Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan, "Kasus ini akan resmi dilimpahkan ke kepolisian. Aku dan Dyan akan dilaporkan atas tuduhan penggelapan dana perusahaan. Dan aku... aku akan dipecat secara tidak hormat."
Tangis Raya langsung pecah di seberang telepon, mengiris kesunyian malam. Di sisinya, Ayah seketika membeku. Tubuh tuanya yang ringkih mendadak kehilangan daya, memaksa jemarinya mencengkeram erat lengan kursi kayu agar tidak ambruk. Vonis itu terlalu kejam bagi masa depan kedua anaknya.